Malam itu, Kota Kembang tidak sedang romantis. Hujan rintik-rintik yang turun sejak sore menyisakan kabut tipis yang merayap di sepanjang aspal Jalan Cipaganti, menyelinap di antara deretan pohon damar tua yang menjulang seperti raksasa yang mengawasi. Di balik pagar besi berkarat setinggi dua meter, berdirilah sebuah rumah peninggalan kolonial yang luasnya mencapai 1000 meter persegi. Penduduk lokal menyebutnya "Rumah Tanpa Tuan", namun bagi Aris, ini adalah proyek renovasi terbesar sekaligus paling menguntungkan tahun ini.
Aris, seorang arsitek muda yang skeptis, berdiri di serambi depan. Lampu senternya membelah kegelapan ruang tamu yang sangat luas. Lantainya menggunakan tegel kunci bermotif bunga yang sudah retak-retak, tertutup debu tebal dan kotoran kelelawar. Langit-langit rumah itu tingginya hampir enam meter, membuat suara langkah sepatu bot Aris bergema, menciptakan ilusi seolah ada seseorang yang berjalan tepat di belakangnya.
"Luas sekali, Ris. Yakin mau menginap di sini?" suara Danu, asistennya, terdengar bergetar. Danu sejak tadi tidak lepas dari sisi Aris, matanya terus melirik ke arah tangga kayu jati yang melingkar menuju lantai dua.
"Kita dikejar deadline tender, Nu. Lagipula, ini cuma bangunan tua. Masalah mistis itu cuma cara warga lokal supaya bangunan ini tidak dijarah," jawab Aris dingin. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa ada yang salah. Udara di dalam rumah ini terasa lebih dingin daripada suhu Bandung di luar, seolah-olah dinding-dinding tebal ini menyimpan napas beku yang tak pernah keluar.
Rumah itu memiliki tiga sayap bangunan. Sayap barat untuk ruang keluarga dan dapur, sayap timur untuk deretan kamar tamu, dan sebuah paviliun belakang yang terpisah oleh taman dalam yang kini sudah menjadi hutan semak berduri. Total ada dua belas kamar, dan setiap kamar memiliki pintu kayu ek yang berat dan gelap.
Pukul sebelas malam, gangguan itu dimulai.
Saat Aris sedang memeriksa cetakan biru di meja jati ruang tengah, terdengar suara krieet... yang panjang. Itu suara pintu yang terbuka. Aris menoleh. Pintu kamar di ujung lorong sayap timur perlahan terbuka lebar. Tidak ada angin. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Danu? Jangan bercanda," panggil Aris. Tak ada jawaban. Ia berjalan menuju kamar Danu di seberang aula. Kamar itu kosong. Tas dan laptop Danu masih ada, tapi orangnya lenyap.
Aris memberanikan diri menuju kamar di ujung lorong yang terbuka tadi. Saat ia melangkah, bau anyir darah yang samar mulai menusuk hidungnya, bercampur dengan aroma melati yang menyengat—jenis melati yang biasa ada di keranda jenazah. Ia mengarahkan senter ke dalam kamar. Kosong. Hanya ada sebuah cermin besar dengan bingkai emas yang sudah menghitam.
Di pantulan cermin, Aris membeku. Ia melihat dirinya sendiri, namun di belakang pantulan bahunya, berdiri seorang wanita dengan gaun putih khas meneer Belanda. Wajahnya hancur, seolah-olah kulitnya telah dikelupas paksa, menyisakan daging merah yang berdenyut. Mata wanita itu tidak ada, hanya dua lubang hitam yang mengucurkan cairan pekat.
Aris berbalik dengan cepat. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Namun saat ia kembali menatap cermin, sosok itu sudah lebih dekat, tangannya yang kurus dengan kuku hitam panjang tampak seolah hendak keluar dari permukaan kaca.
"Pergi!" teriak Aris. Ia berlari keluar kamar, namun lorong yang seharusnya hanya sepuluh meter itu terasa memanjang secara mustahil. Pintu-pintu di kiri dan kanannya mulai terbanting keras secara bergantian. Brak! Brak! Brak! Suara itu memekakkan telinga, dibarengi dengan suara tawa anak kecil yang melengking dari arah langit-langit.
Ia sampai di ruang tengah yang luas. Di sana, Danu ditemukan. Namun bukan dalam kondisi yang ia bayangkan. Danu duduk bersila di tengah ruangan yang gelap gulita, menghadap ke arah tembok. Bahunya naik turun, ia sedang terisak.
"Danu! Ayo pergi dari sini!" Aris menarik bahu temannya.
Saat Danu berbalik, jantung Aris nyaris berhenti. Mulut Danu robek hingga ke telinga, seolah dipaksa tersenyum oleh tangan tak terlihat. Matanya putih sempurna, tanpa pupil. "Dia ingin kita bermain di paviliun, Ris... Dia lapar," ucap Danu dengan suara yang bukan miliknya. Suara itu berat, serak, dan berlapis-lapis.
Tiba-tiba, lampu gantung kristal di atas mereka bergoyang hebat hingga rantainya berderit kencang. Cahaya kilat dari luar menyambar, menerangi ruangan sesaat. Dalam sekejap mata itu, Aris melihat puluhan bayangan hitam bergelantungan di langit-langit rumah, menatap ke arah mereka dengan mata merah yang menyala.
Aris berlari menuju pintu utama, namun pintu itu tidak bisa dibuka. Terkunci dari luar. Ia mencoba memecahkan kaca jendela, namun kaca itu sekeras baja. Rumah seluas 1000 meter ini kini terasa seperti peti mati raksasa yang perlahan menyempit.
Suara langkah kaki berat terdengar dari lantai dua. Dug... dug... dug... Sesuatu yang besar sedang turun. Aris mendongak. Di puncak tangga, berdiri sosok pria tinggi besar tanpa kepala, mengenakan seragam militer kuno. Lehernya yang buntung masih mengeluarkan cairan hitam yang menetes ke anak tangga, menimbulkan suara tes... tes... tes... yang sangat jelas di tengah kesunyian yang mencekam.
Aris mundur hingga terpojok ke dinding. Ia merasakan tangan-tangan dingin mulai merayap keluar dari balik tembok beton, memegangi kaki dan lengannya. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya hilang, seolah-olah udara di paru-parunya telah dihisap habis oleh entitas di rumah itu.
Di tengah keputusasaan, Aris melihat sebuah lubang kecil di bawah lantai yang tertutup karpet. Itu adalah pintu menuju ruang bawah tanah yang tidak ada dalam denah. Tanpa pikir panjang, ia melompat ke bawah.
Di bawah sana, bau busuknya seribu kali lebih parah. Ruangan itu penuh dengan sesajen yang sudah membusuk: kepala kerbau, bunga tujuh rupa, dan foto-foto orang yang pernah menghuni rumah ini—semuanya dengan mata yang ditusuk jarum. Di tengah ruangan, ada sebuah meja persembahan dengan nama yang terukir di atasnya: Aris.
Ia menyadari satu kenyataan pahit. Ini bukan sekadar rumah berhantu. Ini adalah jebakan yang sudah disiapkan sejak lama. Pemilik asli rumah ini tidak menjualnya, mereka hanya mencari "pengganti" untuk menjaga rumah ini tetap "hidup".
Aris merasakan sebuah napas dingin tepat di belakang telinganya. Sebuah bisikan lembut namun mematikan terdengar, "Selamat datang di rumah barumu, Aris. Kamu tidak akan pernah kedinginan lagi..."
Keesokan harinya, warga Cipaganti hanya melihat rumah itu kembali tenang. Pagar besinya tetap terkunci, pohon damarnya tetap diam. Tak ada tanda-tanda Aris maupun Danu. Hanya saja, bagi siapa pun yang melintas di depan rumah itu saat tengah malam, mereka akan mendengar suara ketikan laptop dan teriakan minta tolong yang tertahan, menggema di luasnya ruangan yang kini telah memiliki penghuni baru.