Langit kota keindahan dunia Isfahan sore itu tidak berwarna biru jernih seperti dalam kartu pos yang sering dikirimkan Paman Farroukh dari luar negeri. Langit itu berwarna jingga pekat, bukan karena matahari terbenam, melainkan karena pantulan api dan sisa-sisa mesiu yang menggantung di udara. Elnaz, seorang gadis berusia sembilan belas tahun dengan mata sewarna madu, berdiri mematung di ambang jendela apartemennya. Tangannya gemetar saat mencoba merapikan jilbab katun tipis yang tersangkut di anting-antingnya.
Di bawah sana, raung sirine ambulans berlomba dengan dentum artileri pertahanan udara yang membelah angkasa. Isfahan, kota seni yang penuh dengan mozaik biru dan jembatan-jembatan bersejarah, kini berubah menjadi labirin ketakutan. Kabar di radio terus berdengung tentang eskalasi—tentang jet-jet tempur yang melintasi perbatasan dan rudal-rudal yang mencari mangsa di kegelapan malam.
"Elnaz, menjauh dari jendela!" suara ibunya melengking dari arah dapur, penuh dengan kecemasan yang tertahan.
Elnaz tidak bergerak. Ia justru menempelkan keningnya pada kaca yang terasa hangat. Ia melihat burung-burung merpati terbang serabutan, kehilangan arah karena frekuensi ledakan yang mengacaukan navigasi alam mereka. Ia merasa seperti burung-burung itu. Hanya beberapa bulan lalu, ia masih sibuk memikirkan ujian universitas dan warna cat yang cocok untuk kamar barunya. Sekarang, satu-satunya hal yang relevan adalah seberapa cepat ia bisa mencapai rubanah jika alarm panjang berbunyi.
Malam itu, maut datang tanpa permisi.
Bukan suara ledakan yang pertama kali didengar Elnaz, melainkan sebuah hening yang memekakkan telinga. Seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu tersedot keluar dalam sekejap. Lalu, guncangan hebat menghantam bumi. Langit-langit rumahnya runtuh seperti hujan batu yang tak terelakkan. Elnaz terlempar ke sudut ruangan, tubuhnya menghantam lemari buku kayu tua milik ayahnya.
Dunia berubah menjadi hitam. Sunyi. Hanya ada bau debu semen yang mencekik dan rasa hangat yang mengalir dari pelipisnya.
Saat Elnaz membuka mata, ia tidak yakin apakah ia masih hidup. Pandangannya kabur, tertutup oleh lapisan tebal debu putih yang menyelimuti segalanya. Ia mencoba memanggil ibunya, tapi yang keluar dari tenggorokannya hanyalah sisa napas yang parau. Di atasnya, balok kayu besar melintang, tertahan oleh sisa tembok yang masih berdiri, menciptakan sebuah ruang sempit yang hanya cukup untuk tubuhnya yang meringkuk.
Ia terjebak. Di luar sana, ia bisa mendengar sayup-sayup suara teriakan manusia, dentuman susulan yang menggetarkan reruntuhan di sekelilingnya, dan deru pesawat yang lewat seperti hantu di langit malam. Elnaz merasa dadanya sesak. Ia teringat pada sebuah puisi karya Hafez yang sering dibacakan ayahnya: "Jangan putus asa, karena rahasia tersembunyi akan terungkap. Jangan berduka, karena di balik tirai, ada permainan yang tak kita ketahui."
Namun, di bawah ribuan ton beton ini, puisi terasa begitu jauh. Elnaz mulai merasa dingin merayap ke ujung-ujung jarinya. Rasa sakit di kakinya—yang rupanya tertindih puing—mulai berubah menjadi mati rasa yang mengerikan. Ia mulai membayangkan kematian. Apakah ia akan mati sebagai angka dalam statistik berita pagi? Sebagai "korban kolateral" dalam peta strategi jenderal-jenderal yang duduk di ruangan berpendingin udara ribuan mil jauhnya?
"Ibu..." bisiknya lagi, kali ini dengan air mata yang membuat jalur di pipinya yang berdebu.
Dalam kesendirian yang mencekam itu, Elnaz mulai meraba-raba dengan tangannya yang bebas. Jemarinya menyentuh sesuatu yang kasar namun akrab. Itu adalah tepi sajadah tua yang selalu diletakkan ibunya di sudut ruang tamu untuk shalat. Sajadah itu entah bagaimana ikut tertimbun bersamanya. Elnaz menarik kain itu perlahan, memeluknya erat di dada. Aroma sisa parfum mawar ibunya masih tertinggal tipis di sana, memberi Elnaz oksigen harapan yang ia butuhkan untuk terus bernapas.
Jam-jam berlalu seperti keabadian. Elnaz berada di perbatasan antara sadar dan pingsan. Dalam halusinasinya, ia melihat Isfahan kembali cantik. Ia melihat dirinya berjalan di Jembatan Khaju, tertawa bersama teman-temannya tanpa rasa takut akan bayang-bayang rudal. Ia melihat dunia di mana anak muda tidak perlu belajar membedakan suara mesin jet tempur berdasarkan frekuensinya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara gesekan beton di atasnya. Suara manusia. Bukan suara senjata, melainkan suara linggis yang menghantam batu dan teriakan instruksi.
"Ada seseorang di bawah sini! Cepat, bawa lampunya!"
Cahaya senter yang tajam menusuk celah-celah reruntuhan. Elnaz mencoba berteriak sekuat tenaga, namun hanya suara rintihan kecil yang sanggup ia keluarkan. Ia menggerakkan sajadah di tangannya, melambai-lambaikannya lewat celah sempit itu.
Proses evakuasi itu terasa seperti operasi jantung terbuka. Setiap pergeseran batu bisa membuat sisa bangunan itu runtuh sepenuhnya. Namun, para relawan itu tidak menyerah. Ketika akhirnya tangan kasar seorang penyelamat menyentuh jemari Elnaz, gadis itu terisak hebat. Ia ditarik keluar dari rahim beton yang hampir menjadi kuburannya.
Saat tubuhnya diletakkan di atas tandu, Elnaz melihat ke langit. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Debu masih menggantung, dan bau asap masih menyengat, tapi cahaya matahari pertama itu terasa seperti sebuah keajaiban yang mustahil. Ia melihat ibunya berdiri tak jauh dari sana, dengan perban di lengan namun masih hidup, meneriakkan namanya dengan suara yang pecah karena tangis.
Elnaz menoleh ke arah rumahnya yang kini tinggal tumpukan puing. Di sana, di antara besi-besi yang mencuat, ia menyadari satu hal yang pedih. Perang mungkin bisa menghancurkan tembok, menghapus sejarah di atas peta, dan merenggut napas ribuan orang dalam sekejap mata. Namun, di antara sisa-sisa reruntuhan Isfahan pagi itu, ia melihat orang-orang saling membantu tanpa menanyakan ideologi.
Ia selamat, namun jiwanya telah berubah. Ia adalah saksi betapa murahnya nyawa manusia di tangan kekuasaan, namun betapa mahalnya harapan di tangan mereka yang menolak untuk menyerah pada kebencian. Sambil memegang erat sisa sajadah di tangannya, Elnaz memejamkan mata, membiarkan sinar matahari pagi menghangatkan wajahnya yang hancur, bersyukur atas napas yang kembali dipinjamkan kepadanya di dunia yang masih terluka.