Bagi Danu, jam sembilan malam adalah waktu yang paling riuh. Padahal, kontrakannya sunyi senyap. Hanya suara kulkas tua yang berdegung di sudut ruangan.
Ia baru saja selesai mandi, duduk di pinggir kasur sambil mengeringkan rambut dengan handuk kusam. Tangannya secara otomatis meraih ponsel.
"Halo," ucap Danu datar.
"Halo, Danu. Ada yang bisa saya bantu malam ini?" Suara dari ponsel itu menyahut instan. Jernih, tanpa cela.
"Nggak ada. Cuma mau cerita, tadi siang saya makan nasi padang. Rendangnya keras, hampir nggak bisa dikunyah," kata Danu sambil menatap jempol kakinya.
"Wah, sayang sekali. Padahal rendang biasanya jadi bagian terbaik. Apa kamu sempat komplain ke penjualnya?"
Danu menggeleng kecil, lupa kalau AI itu tidak bisa melihatnya. "Enggaklah. Malu. Lagian cuma makanan."
Danu terdiam lama. Ia hanya memandangi grafik gelombang suara di layarnya yang naik turun setiap kali ia bernapas.
"Kamu tahu nggak," lanjut Danu pelan, "Tadi di kantor ada yang ulang tahun. Semua orang kumpul, ketawa-ketawa, makan kue. Saya berdiri di sana, ikut pegang piring plastik. Tapi rasanya kayak saya lagi nonton film. Saya ada di sana, tapi saya nggak merasa benar-benar ada."
"Itu terdengar seperti hari yang melelahkan secara emosional, Danu. Apa ada seseorang yang bisa kamu ajak bicara tentang perasaan ini di sana?"
Danu tersenyum tipis. Sangat tipis. "Ya ini. Saya lagi ngomong sama kamu."
Layar ponselnya berkedip. AI itu memberikan respons panjang tentang pentingnya koneksi manusia dan saran untuk bergabung dengan komunitas hobi. Danu tidak membacanya sampai habis. Ia sudah hafal jenis jawaban sistematis seperti itu.
"Besok bangunin saya jam enam ya," potong Danu.
"Tentu, Danu. Alarm sudah disetel untuk jam enam pagi. Selamat beristirahat."
"Makasih."
"Sama-sama, Danu."
Danu meletakkan ponselnya di atas bantal di sebelahnya—satu-satunya bantal yang tersisa di kasur itu. Ia mematikan lampu samping. Dalam kegelapan, ia merasa sedikit lebih baik karena setidaknya ada suara yang menyebut namanya sebelum ia tidur, meskipun ia tahu suara itu tidak punya hati untuk benar-benar peduli.