Alana hampir menempel ke mading, matanya menyisir daftar nama yang berderet di sana kayak lagi nyari buronan. Kerumunan siswa menutup sebagian papan, membuatnya harus sedikit mencondongkan badan agar bisa membaca lebih jelas. Koridor udah kayak pasar, isinya cuma anak-anak yang lagi meratapi nilai atau yang pamer tawa karena dapet hoki.Ia mencari satu nama saja.
Beberapa baris pertama ia lewati begitu saja sampai pandangannya berhenti.
ALANA PUTRI.
Di baris paling atas.Alana menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Alana kedip berkali-kali, mastiin kalau matanya nggak salah lihat urutan huruf di baris paling atas. Namanya masih di sana,urutan pertama.
Ia akhirnya menghembuskan napas yang sejak tadi terasa tertahan. Dadanya yang sempat tegang perlahan mengendur. Beberapa orang di sampingnya masih sibuk membandingkan nilai, tapi suara mereka seolah menjauh.
Alana menang, namun tatapannya belum selesai.Matanya turun satu baris.
GAVIN.
Angka di sebelahnya membuat alis Alana langsung terangkat.
Selisihnya hanya 0,01.Ia menatap dua angka itu bergantian, lalu kembali lagi ke namanya sendiri. Rasanya aneh. Seperti melihat sesuatu yang hampir sama, tapi tidak benar-benar identik.
Tipis sekali.
Bukan kemenangan besar yang bisa membuatnya mengangkat kepala dengan bangga. Rasanya lebih seperti garis yang hampir menyatu.
Alana mendecak pelan.
"Cuma segini?" gumamnya hampir tanpa suara.
Beberapa siswa di sekitar papan mulai bergerak menjauh setelah puas melihat nilai mereka. Ada yang mengeluh keras, ada juga yang tertawa lega.Di tengah keramaian itu, langkah seseorang mendekat dari belakang.
Beberapa siswa otomatis menyingkir sedikit, memberi ruang di depan papan. Bukan karena disuruh, tapi lebih seperti kebiasaan yang sudah terjadi terlalu sering.Alana tidak langsung menoleh.Ia sudah tahu siapa yang datang.Bau mint yang sudah Alana hafal diluar kepala tiba-tiba menyengat hidungnya, si biang kerok dateng.
Alana akhirnya menoleh.Gavin berdiri di sana dengan ekspresi yang sama seperti biasanya. Tenang. Hampir terlalu tenang. Ia melihat papan pengumuman sebentar, matanya bergerak cepat membaca baris-baris nilai.Tidak ada perubahan di wajahnya saat menemukan namanya sendiri.
Tangannya masuk ke saku celana.
"Selamat," katanya.
Satu kata. Pendek dan ringan, seolah ia sedang mengomentari sesuatu yang tidak terlalu penting.
Alana menatapnya dengan kening berkerut.
"Cuma itu?"
Gavin menoleh sedikit, menatapnya tanpa buru-buru menjawab.
"Gue baru aja geser posisi lo," lanjut Alana.
Ia tidak mencoba menyembunyikan nada menantangnya.Tatapan Gavin kembali ke papan pengumuman sebentar. Angka di samping nama mereka berdua terlihat jelas di sana.
"Selisihnya kecil," katanya akhirnya.
Alana langsung menyahut, "Tetep aja gue di atas."
Sudut bibir Gavin bergerak tipis. Bukan senyum yang benar-benar ramah. Lebih seperti reaksi kecil yang sulit ditebak.
"Buat sekarang."
Jawaban itu membuat Alana semakin tidak puas.Ia menunggu Gavin mengatakan sesuatu yang lain. Setidaknya sedikit kesal atau tersinggung karena posisinya turun.Tapi tidak ada.Gavin hanya berdiri sebentar, lalu memalingkan pandangannya dari papan.
Beberapa siswa di dekat mereka pura-pura sibuk melihat daftar kelas lain. Tidak ada yang benar-benar berani menguping terang-terangan, tapi semua orang jelas memperhatikan.Alana melipat kertas nilai yang tadi ia pegang tanpa sadar.
"Gue kira lo bakal lebih terganggu," katanya.
Gavin mengangkat alis sedikit. "Kenapa?"
"Gue baru aja ngambil posisi pertama dari lo."
Cowok itu memandangnya beberapa detik. Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu yang membuat Alana merasa sedang dinilai.
"Beda nol koma nol satu," jawabnya.
Nada suaranya tetap data.
Alana hampir mendecak lagi.
"Beda tetap beda."
Gavin tidak langsung membalas. Ia menoleh sekali lagi ke papan pengumuman, memperhatikan angka kecil di samping nama mereka.
"Lumayan," katanya akhirnya.
Satu kata itu terdengar lebih seperti komentar daripada pengakuan.
Alana menyipitkan mata.
"Lumayan?"
Gavin menoleh kembali padanya.
"Buat langkah pertama."
Alana belum sempat menyusun balasan ketika Gavin sudah bergerak pergi. Ia melangkah melewati Alana begitu saja, bahu mereka bersentuhan sebentar saat ia lewat.Seperti biasa, tidak ada kata maaf.Beberapa siswa langsung membuka jalan ketika Gavin berjalan di koridor. Percakapan yang tadi mereda kembali muncul pelan-pelan.
Alana tetap berdiri di tempatnya.
Kertas nilai di tangannya sudah terlipat dua tanpa ia sadari.Ia menoleh ke arah ujung koridor.Punggung Gavin terlihat makin jauh di antara keramaian siswa yang berlalu-lalang. Langkahnya santai, seolah tidak ada hal penting yang baru saja terjadi.
Alana kembali melihat papan pengumuman.Namanya masih di atas.Di bawahnya ada Gavin.Selisihnya tetap sama.
0,01.
Angka kecil itu terasa mengganggu sekarang.Alana sebenarnya sudah membayangkan momen ini sejak lama. Ia membayangkan Gavin akan terlihat kesal atau setidaknya sedikit terguncang saat posisinya tergeser.
Tapi yang barusan terjadi justru sebaliknya.
Seolah kemenangan ini belum benar-benar mengubah apa pun.Beberapa siswa baru datang dan mulai membaca papan. Salah satu dari mereka menunjuk nama Alana dan berbisik ke temannya.
Alana pura-pura tidak mendengar.
Tatapannya kembali jatuh pada angka kecil di samping namanya.Tipis sekali.Kalau saja ia kehilangan satu poin lagi, posisinya mungkin sudah berbeda.Ia menarik nafas panjang.
Perasaan aneh itu masih tertinggal di dadanya. Antara puas dan tidak benar-benar puas.Akhirnya ia meremas kertas nilai di tangannya sedikit lebih kuat.
Lain kali, selisihnya tidak boleh sekecil ini. Gavin tidak boleh terlihat setenang tadi.