Kabupaten Bekasi, Akhir 2020.
Layar laptop di hadapan Arya menjadi satu-satunya sumber cahaya di kamar yang remang itu, membiaskan warna biru pucat pada kacamatanya. Jam dinding sudah lama melewati angka dua pagi. Di luar, suasana Bekasi terasa sunyi yang tidak alami. Sebuah keheningan yang dipaksakan oleh sisa-sisa ketakutan dunia yang saat itu tengah dilumpuhkan oleh pandemi. Namun, di dalam kepala Arya, suara-suara dari tragedi sembilan belas tahun silam justru bergaung sangat bising, seolah menuntut untuk segera dibebaskan lewat kata-kata.
Arya menatap kursor yang berkedip-kedip di layar putih Microsoft Word. Kedipannya terasa seperti detak jantung yang tak sabar, menantangnya untuk menyelesaikan kisah yang bagi kebanyakan orang mungkin hanya dianggap sebagai bualan atau urban legend pengantar tidur.
"Tragedi Dukun Cantik," gumam Arya pelan, suaranya serak karena terlalu lama bungkam.
Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard, mengetikkan setiap detail yang ia kumpulkan dengan susah payah. Ia menyusun kembali kepingan kesaksian dari orang-orang setempat, terutama dari Agung, teman lamanya yang kini sudah berkeluarga. Ayah Agung, almarhum Mardi, adalah saksi bisu sekaligus orang yang paling hancur saat melihat Pandi dihakimi massa belasan tahun lalu. Ada beban yang terasa sangat berat di pundak Arya saat ia merangkai kalimat demi kalimat; menuliskan bagaimana Pandi meregang nyawa dengan cara yang keji bukan lagi sekadar urusan narasi, melainkan seperti menggali kembali kuburan yang seharusnya sudah tenang.
Arya berhenti sejenak, memijat pangkal hidungnya. Pikirannya melayang kembali pada riset lapangan yang ia lakukan beberapa waktu lalu di pinggiran desa. Bekasi di akhir tahun 2020 sudah sangat berbeda dengan desa terpencil yang ada dalam ingatannya. Sawah-sawah luas kini telah menjelma menjadi deretan perumahan subsidi dengan tembok-tembok tipis yang seragam. Kebun-kebun gelap yang dulu terasa angker kini telah diterangi lampu jalan yang membelah desa, menghilangkan setiap sudut misterinya.
Saat Arya mencoba bertanya kepada beberapa warga pendatang tentang sosok dukun bernama Maria, ia hanya mendapatkan tawa remeh.
"Dukun cantik? Mas, di sini dukunnya sudah ganti jadi Google dan aplikasi belanja online," seloroh salah satu warga dengan nada mengejek.
Bahkan bagi anak-anak muda yang asyik nongkrong di kafe-kafe kekinian dekat lokasi kejadian, cerita tentang Pandi yang bisa melompat dari pohon ke pohon dianggap sebagai pengaruh film aksi yang terlalu berlebihan. Arya merasa miris karena mereka tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu, bahwa di atas tanah yang mereka pijak saat ini, pernah ada darah yang tumpah karena fitnah dan amarah buta.
Arya kembali mengetik, mencoba menghidupkan kembali atmosfer masa lalu. Ia mendeskripsikan aroma kemenyan yang tajam bercampur dengan bau bensin dari mobil Pandi yang meledak. Ia menggambarkan rintihan terakhir Pandi yang memohon ampun, padahal pria malang itu mungkin hanyalah seorang pria baik hati yang mencari ketenangan di tempat yang salah.
Tiba-tiba, tangan Arya terhenti di atas keyboard. Sebuah perasaan aneh merayap di tengkuknya, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia merasa seolah-olah sedang tidak sendirian di kamar itu. Apakah Maria, yang katanya menghilang ditelan bumi, sedang berdiri di sudut gelap ruangannya untuk memperhatikan rahasianya dituliskan? Ataukah itu arwah Pandi yang sedang berdiri di belakang kursinya, memohon agar namanya dibersihkan melalui tulisan ini?
Arya menyadari satu hal yang menyedihkan bahwa kisah ini perlahan-lahan sedang memudar dari ingatan dunia. Para pelaku pembantaian itu sebagian besar sudah meninggal, membawa rahasia mereka ke liang lahat. Saksi-saksi mata mulai pikun, dan lokasi rumah Maria kini sudah tertutup beton proyek jalan tol yang membentang luas. Tragedi ini sedang dihapus secara sistematis oleh pembangunan, disamarkan oleh kebisingan knalpot kendaraan, dan dikubur dalam-dalam oleh ketidakpedulian generasi baru.
Dengan tarikan napas panjang, Arya menekan tombol Save. Tulisan ini adalah upaya kecilnya untuk melawan lupa. Ia ingin dunia tahu bahwa di balik hiruk-pikuk industri Bekasi yang modern, pernah ada sebuah desa kecil yang kehilangan kewarasannya dalam satu malam. Ia ingin mereka tahu bahwa kecantikan Maria adalah sebuah kutukan, dan kebaikan hati Pandi adalah sebuah malapetaka.
Kini, di penghujung tahun 2020, kisah itu resmi ia selesaikan. Arya menutup layar laptopnya. Cahaya putih yang tadi menerangi wajahnya seketika padam, menyisakan kegelapan total di dalam kamar. Ia menghela napas, membiarkan cerita itu menguap bersama udara malam, kembali menjadi bagian dari misteri tanah Bekasi yang mungkin tidak akan pernah benar-benar terjawab. Satu hal yang Arya yakini, meski fisiknya telah hilang dan rumahnya sudah menjadi aspal, ingatan tentang mereka akan tetap hidup selama masih ada seseorang yang mau menceritakannya kembali.