Hari itu, matahari bersinar cerah, seolah mengumumkan awal cerita baru di SMA Negeri Harmonia. Suasana kelas XI IPS 2 seperti biasa: ramai, ribut, dan penuh suara bercanda karena guru belum datang.
Di meja dekat jendela, seorang siswa duduk dengan tenang, seolah tak peduli pada keributan sekitar. Namanya Narel tampan, cerdas, pendiam, dan ketua OSIS yang terkenal dingin.
Ketika pintu kelas terbuka, semua suara langsung mereda.
“Baik, duduk semuanya,” kata Bu Lina.
Di belakangnya muncul seorang gadis dengan senyum manis dan aura ceria bernama Alana. Ia adalah murid pindahan. Tatapannya hangat, geraknya penuh percaya diri. Seluruh kelas langsung terpaku kecuali Narel yang hanya melirik sebentar lalu kembali menatap langit di luar jendela.
“Alana, silakan duduk di samping Narel ya,” ucap Bu Lina.
Alana berjalan ke bangku itu. “Hai, aku Alana,” sapanya ringan.
Narel hanya mengangguk kecil. “Hmm.”
Walau begitu, Alana tetap tersenyum cerah.
Hari demi hari berlalu…
Alana selalu mencoba membuka obrolan.
“Kamu udah makan? Mau roti?”
“Kalo butuh pulpen bilang aja ya.”
“Butuh bantuan ngerjain tugas?”
Narel, dengan ekspresi datarnya, selalu menjawab pendek. Tapi sebenarnya ia menyukai kehadiran Alana.
Ia bahkan sering tersenyum tipis tanpa sadar.
Suatu sore sepulang sekolah, Alana menawarkan,
“Mau pulang bareng?”
Mereka pun berjalan bersama. Alana bercerita banyak hal, tapi karena kepala Narel terasa penuh hari itu, ia terpeleset bicara:
“Bisakah… hari ini diam sebentar?” Senyum Alana langsung memudar.
“Oh… maaf. Aku bakal diam. Aku nggak ganggu kamu lagi.”
Sebelum Narel sempat menambahkan sesuatu, Alana menunduk sebentar lalu berkata,
“Aku pergi dulu ya. Maaf.”
Ia pergi begitu saja.
Keesokan harinya…
Alana berubah. Ia menghindar.
Tidak menyapa. Tidak menawarkan apa pun. Ketika Narel bertanya, jawabannya pendek. Dan untuk pertama kalinya, Narel merasa… kosong. Kehangatan Alana sudah jadi rutinitas yang ia tunggu. Tanpanya, kelas terasa sepi dan dingin.
Akhirnya, karena merasa bersalah, Narel mulai melakukan hal-hal yang biasanya Alana lakukan pada dirinya:
“Pagi.”
“Kamu udah makan?”
“Kamu lapar? Mau aku temenin ke kantin?”
Alana tidak berhenti, tapi ia menatap Narel dengan bingung.
Sampai suatu saat di koridor, ia berbalik dan berkata,
“Kamu mau apa sih?”
Narel menghela napas. “Boleh bicara sebentar?”
Alana mengangguk perlahan.
Narel menarik lembut tangan Alana dan membawanya ke halaman belakang sekolah.
Mereka duduk di bangku.
“Aku minta maaf,” ucap Narel pelan. “Aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Hari itu aku cuma capek… dan aku salah ngomong.” Alana menatapnya.
“Aku nggak marah kok,” jawabnya lembut. “Aku cuma kira kamu beneran nggak suka aku.”
Narel menggeleng. “Justru selama ini… aku senang kamu banyak ngobrol. Senang kamu ada di sebelahku. Bahkan kalau aku diam sekalipun… aku nyaman.”
Alana terkejut.
“Hah?”
Narel mengambil napas.
“Apa kamu mau… jadi lebih dari teman?”
Alana terdiam.
Wajahnya memerah sedikit.
“A-aku… belum siap. Boleh kasih aku waktu?”
Narel mengangguk. “Tentu.”
Hari-hari setelah itu kembali ceria.
Mereka bicara seperti biasa, bercanda, belajar, pergi ke kantin. Dan Narel mulai lebih ekspresif meskipun tetap dingin, ia sekarang mau tertawa kecil.
Suatu sore saat duduk di taman, angin sepoi-sepoi bertiup pelan.
Alana menatap rumput lalu berkata lirih,
“Aku mau… sama kamu.”
Narel menoleh cepat, jelas kaget.
Alana tertawa kecil melihat reaksinya. “Kenapa kaget banget?”
“Enggak,” gumam Narel pelan, pipinya memanas.
Narel mendekat sedikit dan berkata,
“Jadi sekarang… kita bukan lagi teman?”
Alana tersenyum manis dan mengangguk.
“Iya.”