Chapter 1: Upacara Kedewasaan di Kerajaan Kabua
Pada zaman ketika gunung-gunung masih dianggap sebagai singgasana para roh dan sungai diyakini menyimpan ingatan leluhur, berdirilah Kerajaan Kabua sebagai negeri yang makmur dan disegani. Kabua bukan hanya kuat karena tembok batunya atau pasukan bersenjata tombak dan perisai, melainkan karena keseimbangan antara kebijaksanaan raja, ketaatan rakyat, dan warisan sihir kuno yang telah lama menjadi rahasia kerajaan. Di atas singgasana utama bertakhta Raja Prabu Wirakabua, didampingi oleh permaisurinya, Ratu Dyah Candramaya. Dari pasangan inilah lahir seorang putra tunggal yang menjadi tumpuan masa depan negeri: Pangeran Arsanta.
Sejak kecil, Arsanta telah hidup berdampingan dengan kenyataan yang tidak mudah. Penglihatannya tidak sempurna; dunia di hadapannya kerap hadir dalam bayang dan cahaya yang kabur. Namun, kekurangan itu tidak menjadikannya lemah. Justru Arsanta tumbuh sebagai anak yang tenang, pendiam, dan memiliki kepekaan luar biasa. Ia mampu mengenali orang dari suara langkah, merasakan perubahan cuaca dari getaran udara, dan memahami suasana batin seseorang tanpa perlu menatap wajahnya. Raja dan ratu menyadari bahwa putra mereka dianugerahi sesuatu yang berbeda, meski belum memahami sepenuhnya apa maknanya.
Hari itu, seluruh Kerajaan Kabua bersiap menyambut Upacara Kedewasaan Pangeran Arsanta. Upacara ini merupakan tradisi kuno yang hanya dilakukan sekali seumur hidup bagi keturunan raja. Pada usia enam belas tahun, seorang putra mahkota akan dipersembahkan kepada leluhur dan alam, untuk dinilai kelayakannya sebagai calon pemimpin. Lapangan utama istana dipenuhi rakyat, para bangsawan mengenakan busana kebesaran, dan para pendeta kerajaan melantunkan doa-doa kuno yang menggema hingga ke dinding batu istana.
Arsanta berdiri di tengah lingkaran upacara, mengenakan jubah putih bertatah benang emas. Wajahnya tampak tenang, meski matanya tidak sepenuhnya menangkap ribuan pasang mata yang tertuju padanya. Ketika dupa dinyalakan dan mantra leluhur mulai diucapkan, udara di sekitar Arsanta perlahan berubah. Angin yang semula berhembus pelan tiba-tiba berputar mengelilinginya, membawa aroma tanah basah dan bunga hutan. Obor-obor yang berjajar di sekeliling lapangan menyala lebih terang, seakan disulut oleh kekuatan yang tak terlihat.
Para pendeta terdiam ketika cahaya lembut memancar dari tubuh Arsanta. Tanah di bawah kakinya bergetar halus, dan simbol-simbol kuno yang terukir di batu upacara menyala satu per satu. Raja Wirakabua bangkit dari singgasananya, dadanya berdebar, sementara Ratu Candramaya menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri sesuatu yang selama ini hanya tercatat dalam kitab-kitab tua: kebangkitan sihir murni darah kerajaan.
Arsanta sendiri tidak panik. Ia merasakan aliran hangat mengalir dari dadanya ke seluruh tubuh, seolah alam berbicara langsung ke dalam batinnya. Tanpa sadar, ia mengangkat tangan, dan cahaya itu pun meredup, angin kembali tenang, serta getaran tanah menghilang. Upacara berakhir dalam keheningan yang sarat makna. Para bangsawan saling berpandangan, sebagian dengan kagum, sebagian dengan kecemasan. Seorang putra mahkota yang memiliki sihir luar biasa adalah anugerah, tetapi juga pertanda tanggung jawab besar.
Malam itu, di ruang pertemuan istana yang tertutup, Raja Wirakabua dan Ratu Candramaya mengambil keputusan penting. Mereka menyadari bahwa kekuatan Arsanta tidak boleh dibiarkan berkembang tanpa arah. Penglihatannya yang terbatas membuatnya rentan, namun sekaligus menandakan bahwa jalannya sebagai penyihir tidak akan bergantung pada mata, melainkan pada jiwa. Dengan pertimbangan itu, raja memerintahkan para pengawal kepercayaannya untuk memanggil seorang guru sihir agung—seseorang yang mampu membimbing Arsanta agar kekuatannya tidak menjadi petaka bagi dirinya maupun Kerajaan Kabua.
Di balik tembok istana, tanpa diketahui Arsanta, roda takdir mulai berputar. Upacara kedewasaan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang sang putra mahkota. Sebuah jalan yang akan menguji keyakinan, kekuatan, dan arti sejati dari melihat dunia, tidak dengan mata, tetapi dengan hati. Chapter pertama dari kisah Pangeran Arsanta pun resmi dimulai.