Langit sore perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan. Matahari yang sejak siang memancarkan sinar yang terik, kini perlahan mulai meredup, tenggelam di balik pepohonan yang berdiri tegak diujung kampung.
Angin berhembus dengan lembut membawa aroma masakan yang harum dari rumah-rumah warga.
Di beberapa sudut jalanan, orang-orang banyak yang berlalu lalang. Ada yang pulang dari pengajian sore, ada yang membeli takjil di pinggiran jalan kampung, dan juga ada anak-anak yang sedang berlari-lari diikuti suara tawa khas anak-anak yang sedang menunggu waktu untuk berbuka.
Di teras rumah yang terbuat dari keramik, Rayyan duduk dengan wajah lesu. Tangannya menopang dagu, matanya menatap jalanan yang ramai.
“Puasa ini melelahkan sekali,” gumamnya sambil tertunduk lesu.
Seharian ini perutnya terasa kosong dan perih karena menahan rasa lapar. Tenggorokannya kering karena menahan rasa haus. Namun pikirannya terus memikirkan makanan yang dibuat oleh ibunya yang begitu harum. Nasi liwet yang hangat di tambah dengan ikan asin dan sambal disertai lalapan membuat perutnya semakin perih. Baginya, puasa ini terasa seperti ujian yang sangat panjang.
Tak lama kemudian, ayahnya keluar dari dalam rumah dan menghampiri Rayyan yang seperti sedang melamun.
Ayahnya duduk perlahan di samping Rayyan. Ia menepuk pundak Rayyan, dan hal itu membuat Rayyan tersentak.
“Eh... ayah?” ucap Rayyan.
“Kamu kenapa, nak? Ayah perhatikan kau tampak murung seperti memikirkan sesuatu,” kata ayahnya dengan suara lembut.
Rayyan menghela napas panjang.
“Aku tidak mengerti, yah. Kenapa kita harus puasa? Rasanya cuma hanya menahan lapar dan haus saja. Seharian kita menunggu adzan maghrib untuk berbuka, rasanya sangat lama sekali.”
Ayahnya tersenyum kecil mendengar keluhan anaknya.
“Dulu, ketika ayah seumuran denganmu, ayah juga berpikiran sama sepertimu,” katanya.
Rayyan menoleh, sedikit terkejut.
“Benarkan?”
Ayahnya mengangguk.
“Iya. Waktu itu ayah juga merasa puasa hanya tentang menahan rasa lapar. Tapi, setelah ayah makin dewasa, ayah baru memahami bahwa Ramadhan memiliki makna yang jauh lebih dalam.”
Rayyan menatap wajah ayahnya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Apa maksudnya, yah?”
Ayahnya memandang langit senja yang perlahan mulai meredup.
“Ramadhan bukan hanya tentang merasa rasa lapar dan haus,” katanya perlahan. “Tetapi, Ramadhan mengajarkan kita banyak hal untuk melatih hati.”
“Melatih hati?” Rayyan mengerutkan keningnya.
“Iya,” jawab ayahnya. “Ketika kita lapar dan haus, kita belajar untuk bersabar. Ketika kita ingin bercerita, kita harus menahan diri agar tidak terjerumus ke dalam gibah. Dan kita juga harus belajar bahwa hidup tidak selalu tentang memenuhi keinginan kita.”
Rayyan terdiam, mencoba memahami setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya.
“Selain itu,” lanjut ayahnya, “puasa membuat kita merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang kurang beruntung. Banyak orang di luar sana yang tidak makan atau minum bukan karena puasa, melainkan karena mereka tidak punya makanan.”
Angin sore berhembus pelan. Suasana kampung terasa semakin tenang.
“Dulu, ayah pernah bertemu dengan seorang kakek tua,” kata ayahnya lagi. “Ia bekerja keras setiap hari dari pagi hingga sore, tapi sering kali hanya bisa makan sekali sehari. Saat Ramadhan tiba, ia tetap berpuasa dengan rasa penuh keikhlasan.”
“Kenapa?” tanya Rayyan.
“Karena baginya, Ramadhan adalah waktu yang sangat bagus untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Karena ia percaya, bahwa rasa lapar yang ia rasakan akan menguatkan hatinya.”
Rayyan menunduk. Ia mulai memikirkan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.
Mungkin, ucapan ayahnya memang benar. Karena selama ini, ia hanya fokus pada rasa lapar dan haus.
Padahal ada banyak orang di luar sana yang hidup lebih sulit darinya, makanan yang terbatas, bahkan untuk minum pun hanya bisa minum dari air keran. Itu pun, airnya kadang tidak jernih. Sedangkan ia, hanya menunggu masakan ibunya matang dan untuk minum langsung tersedia.
Dari kejauhan, suara anak-anak mulai berkurang. Beberapa orang terlihat berjalan menuju masjid. Lampu-lampu rumah mulai menyala satu persatu.
Langit yang tadinya jingga, kini perlahan berubah menjadi gelap. Matahari pun mulai terbenam dari ufuk barat.
Tak lama kemudian, suara adzan maghrib berkumandang di masjid di tengah kampung.
“Allahu Akbar.... Allahu Akbar...”
Suara itu menggema lembut di udara senja.
Perlahan, Rayyan merasakan sesuatu dalam hatinya. Rasa lapar, haus dan lelah yang ia rasakan seolah menghilang.
Ia menoleh pada ayahnya dan tersenyum.
“Sekarang aku mengerti maksud dari ucapan ayah,” katanya.
“Mengerti apa?” tanya sang ayah sambil tersenyum.
“Puasa bukan hanya menahan rasa lapar dan haus saja. Tetapi juga harus bisa menjaga setiap ucapan yang keluar dari mulut kita. Selain itu, kita juga belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Belajar untuk lebih mendekatkan diri pada Allah.”
Ayahnya menepuk bahu Rayyan dengan penuh kasih sayang.
“Betul sekali,” katanya. “Itulah hakikat Ramadhan. Bulai ini adalah kesempatan kita untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, dan menjadi lebih dekat dengan Allah.”
Dari dalam rumah, ibu Rayyan memanggil mereka.
“Ayah, Rayyan! Ayo masuk! Waktunya berbuka!”
Rayyan segera berdiri dengan semangat yang berbeda dari sebelumnya.
Ia masuk bersama ayahnya. Di atas meja sudah tersedia kurma, air hangat dan beberapa hidangan sederhana lainnya.
Namun entah kenapa, makanan itu terasa jauh lebih istimewa dari biasanya.
Malam itu, Rayyan tidak hanya berbuka puasa. Namun juga membuka pemahamannya tentang arti yang sebenarnya dari Ramadhan itu.
Dan di dalam hatinya, ia berjanji akan menjalani sisa bulan suci ini dengan ikhlas dan penuh rasa syukur.
Tema 1: Hakikat Ramadhan
Event GC Rumah Menulis
Fahira Ling Xi