Pulang, dalam arti kembali kepada-Nya. Menemukan arti dari Ramadhan yang sesungguhnya.
---
"Bangun, Rin! Ya Allah, anak gadis jam segini belum bangun. Sahur!"
Tubuhku terguncang keras. Tarikan pada selimut membuat udara dingin AC langsung menusuk kulit. Aku mengerang, menutupi telinga dengan bantal.
"Arin, dengerin Bunda! Kamu ini udah susah disuruh sholat, ngaji nggak pernah, sekarang puasa aja ngebantah. Maunya apa, sih?" Suara Bunda melengking, memecah keheningan jam tiga pagi.
"Kamu nggak takut dosa? Masuk neraka kamu!"
Mataku terbuka seketika. Amarah yang sudah menumpuk berbulan-bulan tiba-tiba mendidih. Aku menyingkirkan bantal dengan kasar dan duduk menatapnya.
"Bisa nggak sih, Bun, sehari aja nggak usah bawa-bawa neraka?!" Napasku memburu.
"Bunda selalu bawa-bawa neraka kalo ngomong sama aku, aku tuh capek dengernya, Bun! Lagian, buat apa aku nyembah Tuhan yang katanya Maha Penyayang, tapi hidupku begini-begini aja?"
Bunda terkesiap. Wajahnya pias menatapku. "Astagfirullah, Arin... Istighfar kamu, Nak. Berani kamu menyalahkan Allah?"
"Keluar, Bun. Aku capek." Aku membuang muka, menatap pantulan diriku yang berantakan di cermin lemari.
Bunda terdiam cukup lama, tangannya mengelus dada. Hembusan napasnya terdengar berat.
"Terserah kamu, Rin. Kalau kamu merasa menjauh dari Allah bisa bikin hidupmu lebih tenang, terserah."
Pintu ditutup perlahan. Meninggalkanku dalam senyap yang justru terasa lebih memekakkan telinga.
Kata 'terserah' itu menancap di dadaku. Bunda terdengar seperti sudah membuangku. Tapi biarlah. Aku benci Ramadhan. Aku benci aturan yang mengekang. Aku benci konsep ketuhanan yang selalu dipresentasikan Bunda sebagai sosok penghukum yang siap melempar siapa saja ke dalam api neraka.
Siang itu matahari bersinar terik, memanggang atap rumah. Setelah memastikan rumah sepi karena Ayah bekerja dan Nisa—adikku yang masih SD—sedang tidur siang, aku mengendap-endap ke dapur.
Kubuka pintu kulkas pelan-pelan. Hawa dingin langsung menerpa wajah. Sebuah teh kotak kemasan yang kusembunyikan semalam masih ada di sana.
"Hah, seger," gumamku sambil tersenyum miring. Kutancapkan sedotan plastik, lalu kusedot cairan manis nan dingin itu. Tenggorokanku yang kering kerontang terasa dihidupkan kembali.
Inilah nikmatnya tidak puasa.
Baru tegukan ketiga, telingaku menangkap suara samar dari ruang tamu. Suara Bunda, dan satu suara perempuan yang sangat kukenal. Kak Alifa. Tetangga sebelah yang sedang libur semester dari kuliahnya di luar kota.
Aku melangkah pelan, bersembunyi di balik tirai pembatas ruang keluarga.
"Nisa pinter banget, Nak Alifa. Umur tujuh tahun puasanya udah penuh." Terdengar nada bangga dari Bunda.
"Masya Allah, hebat banget Nisa, Tante," balas Kak Alifa lembut.
Namun, nada bicara Bunda mendadak berubah sendu. "Tapi Tante pusing mikirin Arin. Anak itu makin hari, sikapnya makin dingin. Sholat ditabrak, puasa bolong. Tante udah ingetin soal dosa, soal azab neraka, tapi dia malah ngelawan. Tante bingung harus gimana lagi ngadepinnya."
Tanganku meremas kotak teh yang sudah setengah kosong.
Kenapa keburukanku harus diceritakan ke orang lain? Apa aku seburuk itu?
Aku baru saja hendak melangkah keluar untuk melabrak mereka, ketika suara Kak Alifa menahanku.
"Tante..." Suara Kak Alifa terdengar sangat tenang, "Mungkin, Arin bukannya benci sama agama. Dia cuma sedang kecewa, dan kebingungan mencari tempat bersandar."
Bunda terdiam. Aku pun mematung di balik tirai.
"Kadang, saat kita sedang di titik terendah, ditakut-takuti dengan neraka justru bikin kita makin lari," lanjut Kak Alifa pelan.
"Agama Islam itu merangkul, Tante, bukan memukul. Allah itu Maha Menyembuhkan, bukan sekadar algojo yang menunggu hamba-Nya berbuat salah. Mungkin Tante bisa pelan-pelan ubah caranya. Jangan dipaksa, didoakan saja terus. Hati manusia kan yang membolak-balikkan cuma Allah."
Tidak ada jawaban dari Bunda, hanya suara helaan napas yang panjang. Namun di dadaku, ada sesuatu yang aneh. Perkataan Kak Alifa tidak menyudutkanku, justru seolah membelaku. Aku mengurungkan niatku untuk keluar, lalu memilih kembali ke kamar dengan langkah gontai.
Teh kotak di tanganku mendadak terasa hambar.
Sore harinya, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Kak Alifa. Membawa sekotak bolu pisang sisa semalam dengan alasan silaturahmi, tapi sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.
Kak Alifa menyambutku dengan senyum sumringah di teras rumahnya.
Ia mengenakan pashmina sederhana yang melingkar rapi di kepalanya.
"Tumben banget, Rin. Ayo masuk," ajaknya.
Kami duduk di ruang tamu. Tanpa diduga, Kak Alifa melangkah ke dapur dan kembali membawa secangkir teh chamomile hangat dan setoples kue nastar.
"Eh, Kak... kan lagi puasa?" tanyaku kaget.
"Aku yang puasa, kamu kan lagi nggak," kekehnya pelan. "Tadi siang aku dengar suara sedotan teh kotak dari balik tirai rumahmu. Tante lagi cerita, kamu asyik minum di belakang."
Wajahku seketika memanas. "K-Kak Alifa tahu?"
"Tahu, lah. Apa sih yang aku nggak tahu?" Ia tertawa kecil, mendorong toples nastar ke arahku.
"Makan gih. Sengaja aku buatin teh, biar perutmu nggak kembung minum yang dingin-dingin terus."
Aku menunduk. Tidak ada penghakiman. Tidak ada ceramah dosa.
"Kak Alifa nggak marah ... atau jijik sama aku?" tanyaku pelan, akhirnya menumpahkan isi kepala.
Kak Alifa tersenyum teduh. Ia menatapku lamat-lamat. "Kenapa harus jijik? Kamu kan bukan orang jahat, Rin."
"Ya... Bunda tuh kerjaannya marah-marah melulu kalau aku lagi nggak mau sholat atau puasa. Bahkan aku sering disumpahin masuk neraka," ungkapku menjelaskan.
"Jadi, aku heran aja, orang sereligius kak Alifa malah baik begini sama aku."
Di seberang, Kak Alifa tampak terkekeh. Dia menjawab, "Perubahan seseorang itu nggak bisa dipaksakan, harus pelan-pelan. Supaya orang itu dapat menikmati keindahan dari hidayah itu sendiri."
"Dan aku yakin, pasti kamu punya alasan kenapa kamu begitu, iya, kan?" Pandangannya masih menatapku lamat-lamat.
Tanpa sadar, bibirku angkat bicara. "Aku gagal di Jalur SNBP, Kak."
"SNBP? apa itu?"
"Seleksi Nasional Berbasis Prestasi, salah satu jalur masuk PTN, tapi pakai prestasi Dan nilai rapor."
"Oohhh..." Kak Alifa mengangguk paham.
Aku mendongak, mataku memanas. "Aku belajar tiap malam sampai mimisan, Kak! Kakak tahu sendiri aku pengen banget masuk Psikologi Universitas Indonesia! Tapi aku gagal di jalur undangan."
Aku melanjutkan, "Bulan lalu aku ikut UTBK, tes tertulis. Tapi aku pesimis. Sainganku ribuan orang pintar. Aku merasa Allah jahat. Kalau Dia memang ada dan sayang sama aku, kenapa usahaku nggak dihargai?"
Mendadak, suasana di antara kami menjadi hening. Hingga Kak Alifa memecahkannya.
"Rin, coba kamu makan nastar itu," tunjuk Kak Alifa pada toples di depanku.
Aku mengerutkan kening, tapi tetap mengambil satu dan menggigitnya.
"Agak ... keras, Kak. Selai nanasnya juga sedikit asem."
"Sekarang coba yang ada di wadah kecil itu." Kak Alifa menyodorkan piring kecil berisi nastar lain.
Aku memakannya. Mataku melebar. "Wah, yang ini lumer banget. Manisnya pas."
"Nastar yang pertama itu aku buat pakai resep asal-asalan, apinya kebesaran. Nastar kedua, aku buat dengan sabar, takarannya pas, proses panggangnya hati-hati," jelas Kak Alifa.
"Hidup juga gitu, Rin."
Aku terdiam, mengunyah sisa nastar dengan pelan.
"Kamu gagal di jalur undangan, itu nastar pertama yang keras. Mungkin Allah tahu, kalau kamu masuk lewat jalur itu, kamu belum siap mental, atau kamu jadi gampang meremehkan perjuangan."
Kak Alifa masih meneruskan, "Allah paksa kamu belajar lagi buat UTBK, menangis lagi, memeras keringat lagi, supaya saat kamu dapat apa yang kamu mau, kamu tahu rasanya menghargai."
Kak Alifa menatapku dalam. "Konsep ketuhanan yang kamu benci selama ini salah, Rin. Kamu pikir Allah itu diktator. Padahal, Allah itu Al-Wadud, Yang Maha Mengasihi. Dia tidak butuh sholat dan puasamu. Kita yang butuh Dia."
"Pernah nggak kamu berpikir... kegagalanmu kemarin itu bukan karena Allah benci, tapi karena Dia kangen dengar kamu mengadu di sepertiga malam?"
Deg.
Jantungku seperti ditikam. Kalimat itu meruntuhkan dinding pertahanan yang kubangun berbulan-bulan. Aku tak bisa membalasnya. Lidahku kelu. Air mataku akhirnya jatuh menetes di atas pangkuan.
"Jangan pernah putus asa sama rahmat Allah, Rin. Dia selalu kasih kamu tempat untuk pulang, kapan pun kamu mau kembali." Kak Alifa mengusap bahuku lembut.
Satu minggu berlalu
Matahari di luar mulai meredup, menyisakan semburat jingga di ufuk barat. Aku mengurung diri di kamar, sementara seluruh keluargaku sedang bersiap untuk buka puasa bersama tetangga di luar.
Hari ini adalah hari pengumuman UTBK.
Aku duduk bersandar di tepi kasur. Tanganku dingin memegang ponsel. Hatiku kosong. Selama berminggu-minggu aku menjauhi Tuhan, memaki-Nya di dalam hati, menolak bersujud pada-Nya.
Aku sudah meyakinkan diriku sendiri bahwa layar ponselku nanti hanya akan menampilkan kotak merah bertuliskan kalimat penolakan.
Buat apa Tuhan mengabulkan doa orang kotor dan pendendam sepertiku? batinku perih.
Dengan jari gemetar, aku memasukkan nomor peserta dan tanggal lahirku di portal pengumuman.
Kupejamkan mata kuat-kuat. Menghela napas panjang, lalu menekan tombol 'Lihat Hasil'.
Satu detik. Dua detik.
Kubuka mataku perlahan. Mataku menyipit membaca layar.
Warna biru muda mendominasi layar ponselku. Di sana, tertulis kalimat yang membuat napasku terhenti seketika.
SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS SELEKSI SNBT 2026.
Program Studi: PSIKOLOGI
Universitas: UNIVERSITAS INDONESIA
Ponsel itu terlepas dari tanganku, jatuh ke atas karpet.
Tubuhku membeku. Mataku membeliak, menatap kosong ke arah dinding.
Ini tidak mungkin. Ini pasti salah sistem. Aku... aku yang sudah membenci-Nya, aku yang tidak mau puasa, aku yang membentak ibuku sendiri... diterima?
Bersamaan dengan detik saat dadaku terasa sesak oleh ribuan emosi yang menghantam, dari pengeras suara masjid di ujung jalan, terdengar suara tarhim, disusul kumandang azan Magrib yang menggema membelah langit senja.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Suara itu... entah kenapa terdengar berbeda sore ini. Tidak ada nada ancaman. Tidak ada bayangan neraka. Yang kudengar lewat lantunan itu hanyalah sebuah panggilan yang luar biasa lembut. Sebuah pelukan tak kasat mata.
Kemarilah, hamba-Ku. Kembalilah pulang.
"Ya Allah..." bisikku parau.
Aku merosot dari tepi kasur, jatuh berlutut di atas lantai yang dingin. Pertahananku hancur tak bersisa.
Tangisku meledak sejadi-jadinya. Aku menangis meraung-raung, meremas dadaku yang terasa sangat nyeri oleh rasa bersalah yang teramat dalam.
Bagaimana bisa Dia sebaik ini?
Saat aku membelakangi-Nya, Dia justru menyiapkan hadiah terindah yang sangat aku mimpikan.
Saat aku meragukan kasih sayang-Nya, Dia justru membuktikan bahwa cinta-Nya tak bersyarat.
Maafkan aku, Ya Allah.
Aku bergegas bangkit, berlari ke kamar mandi. Kuhidupkan keran air. Sambil terus terisak, kubasuh wajahku, tanganku, mengalirkan air wudu yang sudah berbulan-bulan tak menyentuh kulitku. Sensasi dinginnya meresap sampai ke tulang, membersihkan debu-debu kesombongan di hatiku.
Kutarik mukena putih kusam dari dasar lemari. Kuletakkan sajadah di lantai kamarku.
Saat aku mengangkat tangan untuk Takbiratul Ihram, bibirku bergetar tak terkendali.
"Allahu Akbar..."
Dan ketika dahiku akhirnya kembali menyentuh sajadah dalam sujud pertama, aku merasa telah kembali ke rumah yang sesungguhnya. Aku menangis dalam sujud yang sangat panjang. Memohon ampun. Berterima kasih. Mengakui segala kekerdilanku di hadapan kasih sayang-Nya yang seluas semesta.
Dalam sunyi sujud itu, aku seakan mendengar balasan pelan di relung hatiku.
Selamat datang kembali.
Malam itu, angin terasa lebih sejuk.
Aku keluar dari kamar mengenakan mukena rapi, berjalan ke ruang tengah. Di sana, Bunda sedang memakai mukenanya, bersiap berangkat Tarawih bersama Nisa.
Mendengar langkahku, Bunda menoleh. Matanya membulat sempurna melihatku memakai mukena.
Aku tersenyum tipis, menahan genangan air mata. Aku berjalan mendekati Bunda, meraih tangan kanannya yang mulai keriput, lalu menciumnya lama.
"Bunda ... Arin minta maaf. Maafin semua lisan Arin yang nyakitin Bunda," bisikku tulus.
Kurasakan tangan Bunda bergetar mengusap puncak kepalaku. Saat aku mendongak, air mata sudah mengalir deras di pipi Bunda. Ia memelukku erat, sangat erat, seakan takut aku menghilang lagi.
"Iya, Nak... Bunda juga minta maaf karena selama ini caranya salah ngedidik kamu. Alhamdulillah, kamu pulang, Rin," isak Bunda.
"Arin lulus UI, Bun," bisikku di pelukannya.
Tangis Bunda makin pecah. Ia berkali-kali mengucap syukur sambil menciumi wajahku.
Di ambang pintu, Kak Alifa berdiri, menatap kami dengan senyum hangatnya yang khas. Aku menatapnya, mengangguk kecil, menyampaikan ribuan rasa terima kasih lewat isyarat mata.
Malam ini, di bawah langit Ramadhan yang penuh bintang, aku melangkah menuju masjid bersama Bunda, Nisa, dan Kak Alifa. Hatiku tak lagi berat. Tak ada lagi rasa benci atau takut.
Karena malam ini, aku telah benar-benar menemukan makna 'Kembali Pulang'.
GC RUMAH MENULIS - TEMA 1: Hakikat Ramadhan