Tuhan??
Aku tidak pernah percaya dengan kehadiran Tuhan. Do'a hanya rintihan bagi mereka yang putus asa dan tidak mau berusaha.
Aku hanya meyakini sesuatu yang dapat dicerna secara logika. Aku tidak mau menyembah Tuhan dan taat pada agama yang dibuat oleh manusia.
Aku menyebut diriku seorang ateis...
Setidaknya, itulah yang aku yakini sebelum aku menemukan cahaya Illahi.
*****
Bau karbol dan aroma antiseptik masih menempel di indra penciumanku, dan sepertinya aku akan sering menghirupnya di masa yang akan datang.
Aku duduk di bangku taman rumahsakit, mengibar ngibarkan hasil laboratorium didepan wajahku, berapa kali ku baca pun hasilnya tidak mungkin berubah 'Gagal Ginjal Kronis' nama penyakit yang sedang di deritaku saat ini.
Sebuah 'hadiah' dari gaya hidupku yang tidak terkontrol di masa lalu. Pesta dan alkohol sudah menjadi rutinitas di kehidupanku.
Dokter bilang waktuku kemungkinan hanya tersisa satu tahun lagi. Sungguh ironis memang, aku yang selalu berkata 'umur tidak ada yang tahu, nikmati selagi kau masih hidup' kini mendapat ultimatum.
Aku meremas kertas itu hingga bentuknya tak beraturan. Percis seperti keadaanku sekarang yang tidak karuan. Logika medis telah menjatuhkan vonis, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, otakku yang selalu mencari jawaban rasional tidak bisa menemukan jalan keluar.
"Satu tahun.... Cukup untuk beberapa pesta lagi sepertinya, atau mungkin cukup untuk menunggu organ tubuhku rusak satu per satu." Gumam ku pada diri sendiri.
"Satu tahun itu waktu yang sangat lama jika kau mengisinya dengan syukur, tapi terasa sekejap jika kau hanya menghitung mundur."
Suara itu lembut, namun memecah lamunanku seperti batu yang dilemparkan ke permukaan air tenang.
Seorang pria tinggi kurus berdiri di samping kursi tempatku duduk, kulitnya putih bersih, rambutnya yang hitam sedikit acak-acakan.
"Maaf, sepertinya aku mengagetkan mu ya?" Ucap pria misterius itu.
"Kau siapa?" Tanyaku datar, jujur aku sedang tidak ingin bercengkrama saat ini.
"Namaku Ali, pengunjung tetap rumahsakit ini, boleh aku ikut duduk?"
Dia duduk begitu saja disampingku tanpa menunggu aku izinkan, "Dan kau?"
"Riana" Jawabku kecut.
"Senang berjumpa denganmu Riana, sepertinya kita akan sering bertemu kelak."
"Apa kau sedang rawat jalan di rumahsakit ini?"
"Bisa dibilang aku sudah seperti penghuni rumahsakit ini, kelainan jantung dari lahir, dari kecil aku sudah bolak-balik kesini, aku mengenal rumahsakit ini seperti rumah kedua ku."
"Kelainan jantung??" Tanyaku kaget.
"Yaah begitulah, dokter bilang umurku tidak akan panjang, tapi keajaiban Tuhan memberiku kehidupan sampai sekarang usiaku menginjak dua puluh tahun."
Aku tertawa sinis, suara tawaku terdengar kering di antara semilir angin taman.
"Dua puluh tahun? Keajaiban Tuhan? Kau tahu kan, itu hanya keberuntungan statistik. Sains menyebutnya anomali medis, bukan tangan gaib yang turun dari langit."
Ali tidak tersinggung. Ia justru tersenyum, jenis senyuman seseorang yang merasa ia tahu sesuatu yang tidak kupahami.
"Statistik adalah bahasa manusia untuk menjelaskan cara Tuhan bekerja, Riana. Bagiku, setiap detak jantung yang kupunya saat ini adalah sebuah pinjaman yang belum ditagih."
"Pinjaman?" Aku menoleh padanya, menatap wajah pucatnya yang tampak kontras dengan binar matanya yang hidup.
"Lalu kenapa 'Tuhanmu' memberimu pinjaman yang rusak? Kalau Dia memang ada dan Maha Kuasa, bukankah seharusnya kau lahir dengan jantung yang sempurna? Kenapa Dia begitu pelit memberikan kesehatan padamu, tapi membiarkan orang sepertiku menghamburkan kesehatan di klub malam?"
Ali menarik napas panjang, tampak sedikit berat, namun ia tetap tenang.
"Mungkin karena Dia ingin aku belajar menghargai setiap embusan napas, sementara Dia ingin kau belajar tentang arti sebuah kepulangan. Tuhan tidak sedang pelit, Dia sedang bercerita melalui kita."
"Aku tidak percaya pada dongeng, Ali. Aku hanya percaya pada apa yang bisa kulihat dan kucerna dengan akal. Dan akalku bilang, dunia ini hanya mesin raksasa yang tidak peduli pada kita. Kita lahir, rusak, lalu mati menjadi tanah. Selesai."
"Lalu kenapa hatimu terasa sesak?" tanya Ali pelan, namun tajam. "Jika kau yakin kematian adalah akhir yang mutlak, kenapa kau meremas kertas hasil lab itu sampai hancur? Jika tidak ada makna di balik hidup ini, seharusnya kau tidak perlu merasa kecewa, bukan?"
Aku tertegun. Kalimatnya menghantam tepat di ulu hati. Logikaku tidak punya jawaban untuk serangan sesederhana itu.
"Aku seorang ateis, Ali," ucapku dengan nada lebih rendah, seolah mencoba meyakinkan diriku sendiri. "Aku tidak mau menyembah agama yang dibuat manusia untuk menakut-nakuti sesamanya."
"Aku tidak memintamu menyembah agama," Ali bangkit perlahan, memegang sandaran kursi dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Aku hanya mengajakmu melihat penciptanya. Pikirkanlah, Riana... jika sebuah lukisan butuh pelukis, mungkinkah manusia yang serumit ini terjadi tanpa seorang pengatur?"
Ali mulai melangkah pergi, langkahnya lambat dan hati-hati. Aku menatap punggungnya yang menjauh. Sosok pria yang seharusnya paling pantas mengutuk takdir, justru baru saja memberiku sebuah teka-teki yang merusak logikaku selama ini.
*****
Seperti yang Ali bilang, kami jadi sering bertemu di rumahsakit, kami selalu duduk di kursi taman yang sama, dan berbincang tentang apa saja yang melintas di otak kami, untuk sesaat kami ingin melupakan takdir yang menjerat kami, dan terkadang kami juga berbicara tentang masa depan, masa depan yang tak pasti.
"Riana, kau tau besok sudah mulai bulan Ramadan, tahun ini aku mau mencoba berpuasa seperti yang lain."
"Bulan Ramadan? Seumur-umur aku saja belum pernah puasa." Aku mendengus, mencoba mengalihkan rasa perih di dadaku dengan nada bicara yang biasanya sarkas.
"Lagipula bukannya kau itu langganan infus? Menahan lapar dan haus itu gila untuk orang yang jantungnya saja sering lupa cara berdetak dengan benar, Ali. Memangnya Tuhanmu tidak memberi keringanan untuk orang sakit macam kau ini, dan hei berapa kali aku bilang untuk memanggilku Kak"
Ali tertawa kecil, suara tawanya terdengar sedikit sesak tapi sangat tulus.
"Tentu ada keringanan, KAK Riana. Tuhan itu Maha Adil. Tapi ada kerinduan yang sulit kujelaskan... kerinduan untuk bersujud dalam lapar, merasakan bahwa aku ini benar-benar tidak punya apa-apa di hadapan-Nya."
Dia sengaja menekankan kata KAK untuk menggodaku, aku memutar bola mataku, meski dalam hati aku merasa tersentil dengan kata-katanya.
"Tetap saja tidak logis. Kau butuh nutrisi, kau butuh obat tepat waktu. Tuhanmu pasti lebih suka kau tetap hidup daripada kau mati konyol demi sebuah ritual."
"Mungkin," jawabnya tenang sambil menatap burung-burung yang hinggap di dahan pohon.
"Tapi bagi orang sepertiku, puasa bukan soal menahan lapar saja. Ini soal membuktikan bahwa jiwaku tidak dipengaruhi oleh tubuhku yang rusak ini. Bahwa ada sesuatu di dalam sini..." dia menunjuk dadanya, "yang tetap kuat meski raga ini melemah."
Aku terdiam. Selama ini, aku selalu merasa tubuhku adalah penjara. Karena gagal ginjal ini, aku merasa dikhianati oleh fisikku sendiri. Tapi Ali? Dia melihat penyakitnya sebagai cara untuk membebaskan jiwanya.
"Kau keras kepala," gumamku, kini suaraku lebih lembut. "Bagaimana kalau bulan Ramadan mu justru menjadi penyebab berakhirnya kehidupanmu?."
Ali menoleh padaku, matanya yang teduh menatapku tanpa keraguan.
"Jika masa depanku di dunia memang sudah habis, aku hanya berharap bisa pulang dengan membawa cinta, bukan dendam. KAK Riana sendiri, apa yang kau inginkan jika besok adalah hari terakhir?"
Pertanyaan itu menghujamku. Aku yang ateis, yang tidak percaya ada apa-apa setelah napas ini berhenti, tiba-tiba merasa ngeri.
"Aku ingin... setidaknya aku pernah berguna untuk seseorang," jawabku pelan, hampir tak terdengar. "Bukan hanya menjadi sampah pesta yang berakhir di lubang tanah."
Ali tersenyum sangat manis, seolah dia baru saja mendengar jawaban yang dia tunggu-tunggu.
"Kau orang baik Riana, Hanya saja, kau belum berkenalan dengan yang menciptakan kebaikan itu sendiri."
Sore itu adalah terakhir kalinya kami duduk dengan tenang di taman itu. Malamnya, aku memutuskan untuk pulang ke apartemenku dengan pikiran yang kacau. Aku terduduk di kursi apartemenku dengan tubuh yang lemah dan menengadahkan kepalaku.
"Kalau benar Kau ada," bisikku pada langit-langit apartemenku yang sepi, "setidaknya biarkan bagian dari diriku ini menjadi bukti bahwa keberadaan-Mu bisa menyelamatkan orang seperti Ali."
Aku tidak tahu bahwa beberapa jam kemudian, takdir akan menjemputku di tengah riuhnya jalanan kota melalui sebuah dentuman keras yang mengakhiri logikaku, namun memulai perjalanan iman yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
****
Hari ini hari pertama Bulan Suci Ramadan, aku mencoba mengikuti apa yang Ali ucapkan tentang puasa. Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berpuasa.
Paginya aku pergi mengendarai mobilku menuju ketempat kerjaku. Di perempatan jalan aku berhenti tepat didepan lampu merah. Aku melihat sebuah truk yang melaju kencang di depanku, aku pikir truk itu akan berbelok arah, tapi truk itu terus melaju ke arahku seakan-akan truk itu tidak mempunyai rem, aku ingin membelokan mobilku tapi tidak sempat.
Truk itu menghantam mobilku dengan keras, dan yang kulihat selanjutnya adalah sebuah cahaya yang begitu menyilaukan mata, namun terasa begitu hangat dan damai.
'Apa sekarang aku akan bertemu Tuhan?'
Aku menyebut nama Tuhan yang selama ini belum pernah terucap, 𝘠𝘢𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, dan kemudian aku menutup mataku.
*****
Ali berdiri di depan batu nisan yang bertuliskan nama seorang wanita yang baru dikenalnya beberapa bulan kebelakang. Pertemuan mereka begitu singkat, tapi sungguh bermakna, dan akan terus dia ingat sepanjang hayatnya.
Ali teringat hari dimana Riana mengatakan sesuatu diluar logika, dan membuat Ali melakukan taruhan untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
"𝘏𝘦𝘪 𝘈𝘭𝘪, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘳𝘶𝘩𝘢𝘯?" 𝘜𝘤𝘢𝘱 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘢.
"𝘐𝘵𝘶 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘢."
"𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘩, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘰𝘯𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘰𝘯𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘪𝘯𝘫𝘢𝘭 𝘮𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘰𝘯𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶."
𝘈𝘭𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘸𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘬-𝘣𝘢𝘩𝘢𝘬, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢, 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘤𝘶 𝘢𝘥𝘳𝘦𝘯𝘢𝘭𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶𝘪 𝘵𝘢𝘳𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘢.
"𝘖𝘬𝘦, 𝘢𝘺𝘰 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯."
𝘈𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘪 𝘧𝘰𝘳𝘮𝘶𝘭𝘪𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘰𝘯𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢.
Ali menyentuh dadanya. Di balik tulang rusuk itu, ada sesuatu yang berdetak kuat. Denyutan yang dulu asing, namun kini menjadi melodi yang menyambung nyawanya. Jantung itu milik Riana.
Jantung seorang wanita yang dulu mengaku tidak punya Tuhan, namun akhirnya pulang dengan nama-Nya di ujung lidah.
"Kau menang taruhannya, Kak," bisik Ali pelan, suaranya parau tertiup angin pemakaman.
GC RUMAH MENULIS - TEMA 1 Hakikat Ramadan