Sore yang sendu didepan rumahku yang sederhana. Malam nanti malam perdana tarawih. Alunan shalawat terdengar nyaring dari speaker masjid, wujud kebahagiaan menyambut ramadhan. Seorang kurir menghentikan motornya di depan rumah, menenteng plastik besar sambil berteriak.
"Assalamualaikum."
Aku bergegas menarik jilbab yang tergantung di handle pintu kamar. Sembari memakai jilbab aku berjalan menghampiri pintu.
"Wa'alaikumsalam, ya Pak? " tanyaku.
"Rumah pak Rizal? "
"Betul, Pak."
"Ini ada kiriman, " ujar kurir itu sambil menyodorkan plastik ditangannya padaku.
"Dari siapa Pak? "
"Oh dari Pak Jay, "sahut kurir santai.
"Baik, Pak. Terima kasih."
Aku ambil ponsel diatas lemari.
CEKREK
[Bang, pak Jay kirim rendang sm ruthob. Kesukaan abang semua nih. Masyaa allah]
[ Alhamdulillah, oke nanti abang kirim ucapan terima kasih. ]
[Oke, aku kirim 1 box rendang buat Umi ya. Kurma Ajwa dari mbak Widya juga masih ada. Aku kasih ke umi aja. ]
[Oke, Sayang. Terima kasih ya.]
Aku mengumpulkan semua barang yang akan dipaketkan ke dalam satu plastik baru. Memesan kurir dari aplikasi ojol.
Tak lama driver sampai didepan rumah, barang kiriman ku serahkan bersamaan upah kurirnya.
Motornya melaju, seketika menghilang dari pandangan.
"Alhamdulillah," gumamku lirih.
Suara shalawat senyap, berganti kumandang adzan yang mengudara di langit senja.
Aku bersiap menunaikan shalat. Menghampar sajadah dan memakai mukena.
Sambil menunggu Isya, kalam Ilahi ku lantunkan. Membuka awal ramadhan dengan keberkahan al qur'an.
Notifikasi pesan masuk ke ponselku.
[Sayang, abang sambung tarawih di masjid ya. Baru selesai lemburan.]
[Oke]
Akhirnya aku ke masjid dekat rumah sendirian. Berbaur dengan tetangga menunaikan tarawih pertama dengan penuh kekhusyukan.
Sepulang tarawih, ketukan di pintu membuatku terkejut.
"Ya, " Sapaku.
"Assalamu'alaikum, mbak. "
"Wa'alaikumsalam, "jawabku membuka pintu.
Retno memegang plastik besar sambil tersenyum ramah memperlihatkan gigi putihnya yang rapi. Berdiri tegak didepan pintu.
" Eh ada apa Bu Retno? "
"Ini mertua saya baru datang dari Jawa, berbagi oleh-oleh mbak. "
"MasyaAllah, Terima kasih Bu,"
"Njih mbak, sama-sama. Saya langsung pamit. Ya"
Retno melambai sambil menjauh meninggalkan rumahku. Ku sambut dengan anggukan dan senyuman.
"Alhamdulillah."
Ku buka bungkusan diatas meja, dan termangu melihat isinya. Satu box kurma, satu box rendang, satu box bumbu pecal dan sebungkus kerupuk ikan mentah.
Senyuman terulas di bibirku.
Seminggu kemudian...
Suara tadarus dari masjid sayup-sayup terdengar masuk melalui jendela ruang tengah yang terbuka. Aroma pengharum ruangan bercampur dengan wangi sarung yang baru disetrika memenuhi ruangan. Aku duduk bersandar di sofa, sementara Rizal--suamiku, melipat sajadahnya dengan rapi setelah kami menyelesaikan tarawih berjamaah di masjid malam ini.
"Bang," panggilku pelan.
"Hmm?" sahutnya tanpa menoleh, masih sibuk merapikan peci hitam kesayangannya.
"Abang ingat nggak rendang satu box dan kurma ruthob kiriman Mas Jay minggu lalu?"
Rizal duduk di sampingku, menyandarkan punggungnya yang tampak lelah namun rileks.
"Ingat dong. Rendang legendaris itu, kan? Yang bumbunya sampai hitam pekat. Kenapa? Kamu menyesal ya sudah dikirim ke rumah Umi?" godanya sambil mencolek daguku.
Aku tertawa kecil, menepis tangannya pelan.
"Ih, bukan menyesal! Justru aku lagi mikir. Waktu itu kan aku kirim ke Umi karena jujur saja, aku takut mubazir. Kita cuma berdua, stok makanan di kulkas masih penuh. Pikirku, daripada 'nganggur' di sini, mending buat Umi sahur."
"Terus?" Rizal menatapku, mulai tertarik.
"Terus, Abang lihat kan tadi buka puasa kita makan apa?" tanyaku penuh semangat.
"Makan rendang kiriman Bu Retno tetangga sebelah, terus ada bumbu pecel sama kerupuknya juga. Enak lho, bumbu pecelnya otentik banget rasa Jawanya," jawabnya santai.
"Nah, itu dia! Coba Abang bayangkan. Aku kasih satu box rendang ke Umi karena merasa 'kelebihan'. Eh, beberapa hari kemudian, orang tua Bu Retno datang dari Jawa, malah nganterin rendang lagi ke sini. Satu mangkuk penuh! Ditambah bonus bumbu pecel sama kerupuk mentah."
Rizal terkekeh. "Itu namanya kurir langit, Sayang. Kamu kirim ke arah sana, Allah putar jalannya lewat tetangga sebelah."
"Belum selesai, Bang!" aku memotong bicaranya, mataku berbinar.
"Tadi sore, waktu Abang masih di kantor, Mbak Widya teman pengajianku mampir. Dia bawa pempek sama kurma. Dan coba tebak kurmanya jenis apa?"
"Kurma biasa?" tebak Rizal asal.
"Bukan! Kurma Ajwa, Bang. Dan kualitasnya... masya Allah, lebih premium, lebih lembut dari yang aku kirim ke Umi kemarin. Aku sampai termenung di dapur tadi sore."
Aku menghela napas panjang, menyandarkan kepala di bahu suamiku. Aroma parfum maskulinnya yang bercampur sisa wangi sabun memberikan rasa tenang.
"Itulah indahnya Ramadhan, Dek. Kadang kita ini terlalu banyak hitung-hitungan sama Allah. Kita takut kurang, takut habis, takut repot. Padahal, Allah nggak pernah kekurangan cara buat mengembalikan apa yang sudah kita lepas."
"Iya ya, Bang. Aku jadi merasa malu sendiri. Padahal niatku cuma biar nggak mubazir, tapi balasannya malah berkali lipat," ucapku lirih.
"Tapi itu tandanya 'sinyal kemanusiaan' kamu masih bagus," canda Rizal sambil tertawa.
"Meskipun awalnya karena takut mubazir, tapi tangan kamu ringan untuk memberi. Itu yang penting. Banyak orang di luar sana yang meskipun makanannya berlebih sampai busuk di kulkas, tetap berat mau kasih ke orang lain."
Aku mengangguk setuju.
"Betul, Bang. Padahal di bulan lain, kadang kita mikir dua kali kalau mau kasih barang yang menurut kita masih 'sayang' kalau dilepas."
Rizal membetulkan posisi duduknya, wajahnya beralih dari canda menjadi sedikit lebih teduh.
"Mungkin itu inti dari sekolah satu bulan ini, Sayang," jawabnya pelan.
"Ramadhan itu kan hakikatnya tentang penahanan. Kita tahan lapar, tahan haus, tahan amarah. Tapi anehnya, saat kita menahan diri, pintu kemanusiaan kita justru terbuka lebar. Kita jadi lebih peka sama sinyal-sinyal di sekitar kita."
"Coba bayangkan, kita berpuasa supaya tahu rasanya lapar. Nah, rasa lapar itu yang jadi jembatan buat kita peduli sama orang yang nggak punya. Tapi bagi kita yang sudah merasa cukup, tantangannya beda lagi. Mampu nggak kita berbagi, saat kita sudah merasa cukup. "
"Dan ternyata disitulah keberkahannya. Allah nggak mau rezeki itu berhenti di kita, Dia cuma mau kita jadi 'saluran' buat sampai ke Umi atau orang lain. Dan disaat kita merasa cukup, Allah justru 'memaksa' kita buat lebih dari cukup. Allah malah kasih lebih."
"Tepat." Rizal menjentikan jarinya.
"Itu janji-Nya, Dek. Lain syakartum la azidannakum. Jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambah. Syukur itu bukan cuma di lisan, tapi juga dengan tangan yang terbuka."
"Ramadhan itu melatih kita buat nggak jadi 'wadah' yang tertutup, tapi jadi 'saluran' yang mengalir. Wadah kalau diisi terus, lama-lama penuh dan isinya bisa busuk kalau nggak dipakai. Tapi kalau jadi saluran, airnya akan terus mengalir, segar, dan nggak akan pernah habis."
Aku tersenyum, merasa tercerahkan.
"Jadi, hikmah rendang dan kurma ini sebenarnya adalah ujian kecil buat aku ya, Bang? Ujian apakah aku mau jadi saluran itu atau cuma mau jadi wadah yang serakah."
"Dan alhamdulillah, istriku lulus ujian rendang!" candanya lagi, kembali ke mode usilnya.
"Buktinya, Allah langsung 'isi ulang' salurannya pakai pempek dan kurma premium. Bahkan rendangnya dikembalikan lagi. Itu cara Allah bilang: 'Teruslah mengalir, nanti Aku yang urus sisanya.'"
Aku mengangguk setuju.
"Ramadhan memang ajaib ya, Bang. Mengajarkan kita untuk ringan berbagi, tidak hanya saat kita merasa lapang, tapi juga saat kita merasa punya keterbatasan. Ternyata, kuncinya bukan pada seberapa banyak yang kita beri, tapi seberapa ikhlas kita melepas apa yang kita punya untuk kebahagiaan orang lain."
Rizal mengusap kepalaku lembut.
"Itulah indahnya. Di bulan ini, Allah lipat gandakan bukan cuma pahalanya, tapi juga rasa bahagia di hati pelakunya."
Aku tersenyum lebar. "Berarti besok-besok kalau ada kiriman lagi, aku bagi-bagi lagi ya?"
"Boleh, asal jangan Abangnya yang dibagi-bagi ke tetangga ya," sahutnya kilat dengan wajah serius yang dibuat-buat.
"Hahaha! Kalau itu sih, stoknya cuma satu dan nggak ada penggantinya yang premium!" balasku sambil mencubit lengannya.
Malam itu, di tengah ruang tamu sederhana kami, rendang dan kurma bukan lagi sekadar makanan. Mereka adalah guru kecil yang mengajarkan bahwa dalam setiap butir rezeki yang kita lepaskan, ada keberkahan yang sedang mengantre untuk kembali. Seringkali dalam bentuk yang lebih indah dari yang kita duga.
Event menulis Cerpen GC Rumah Menulis tema 1 Hikmah Ramadhan