Cerita ini dimulai sekitar 19 tahun yang lalu, jauh sebelum tragedi mengerikan itu benar-benar terjadi. Latar tempatnya adalah sebuah desa kecil terpencil di pelosok Kabupaten Bekasi, sebuah daerah yang pada masa itu terasa terasing, jauh dari hiruk pikuk Jakarta, dengan akses jalan menuju ke sana yang terbilang sulit dan hanya bisa dilalui sepeda motor atau jalan kaki. Desa itu hidup dalam dunianya sendiri, terisolasi oleh kebun dan sawah yang luas.
Dahulu kala, di desa tersebut, hiduplah seorang dukun perempuan bernama Maria. Konon, ia adalah sosok yang memiliki paras cantik, namun menyimpan kekuatan gaib yang hebat. Aura misteriusnya menarik banyak orang datang padanya, entah untuk meminta bantuan pengobatan, ilmu pelet, atau sekadar mencari pertolongan supranatural lainnya. Bisik-bisik warga menyebutkan, Maria adalah titisan Dewi Sundari, sang penjaga mistis.
Dari cerita yang beredar, pasien yang datang ke rumah sang dukun tersebut kebanyakan adalah laki-laki dewasa. Hal ini pada akhirnya menimbulkan kecurigaan dan gunjingan di antara warga sekitar kediaman Maria. Kecurigaan itu semakin membesar karena ada cerita lain yang beredar. Konon, sang dukun memiliki kebiasaan berpakaian yang sangat minim. Kesehariannya, bahkan saat menerima pasien di ruang tamunya, ia hanya mengenakan sehelai sarung yang dililitkan asal-asalan ke tubuhnya, mengekspos lekuk tubuhnya yang indah namun dianggap tabu.
Wajar jika para penduduk desa, yang hidup dalam norma ketat pedesaan, berpikir negatif. Dari cara berpakaian dan tingkah laku sang dukun, timbullah desas-desus bahwa Maria melakukan praktik terlarang; ia dianggap melakukan pesugihan atau ritual pemanggilan jin yang melibatkan "persembahan" dari para pasien laki-lakinya. Aroma dupa dan kemenyan yang sering tercium dari rumahnya semakin memperkuat dugaan warga.
Suatu hari, datanglah seorang pasien laki-laki yang cukup terpandang di desa itu. Namanya Pandi. Dia merupakan salah satu penduduk desa tersebut yang dikenal memiliki kemampuan finansial yang cukup mapan, ramah, dan sangat baik hati. Namun, Pandi memiliki kebiasaan aneh: ia hampir setiap waktu datang ke rumah Maria. Dalam satu minggu, ia bisa dua sampai tiga kali datang, selalu di waktu senja.
Setiap kali berkunjung, Pandi selalu naik ojek langganannya yang bernama Mardi, ayah dari seorang anak bernama Agung (yang kelak menjadi sumber cerita ini). Pandi tidak pernah membawa kendaraan sendiri. Ia adalah orang yang sangat ramah; ia selalu memberikan ongkos lebih, bahkan sering membelikan Mardi rokok dan kopi. Mardi, sang tukang ojek, hanya menganggap Pandi sebagai pelanggan setia yang membutuhkan konsultasi bisnis dengan sang dukun. Mardi tidak pernah curiga, ia hanya menjalankan tugasnya sebagai penyedia jasa transportasi.
Singkat cerita, kecurigaan warga akhirnya mencapai puncaknya. Mengingat frekuensi kedatangan Pandi yang nyaris setiap hari dan kebiasaan sang dukun yang selalu berpakaian minim, asumsi warga menjadi liar. Mereka yakin Maria sedang menjalankan praktik ilmu hitam yang membahayakan desa, dan Pandi adalah salah satu pengikut setianya. Gunjingan berubah menjadi fitnah, fitnah berubah menjadi amarah kolektif.
Suatu malam, saat bulan tidak terlihat sempurna, seluruh penduduk desa berkumpul di balai desa. Amarah mereka memuncak, dipicu oleh ketakutan akan hal gaib dan norma sosial yang merasa terancam. Mereka memutuskan untuk melakukan tindakan main hakim sendiri. Ratusan warga yang dipersenjatai dengan bambu runcing, batu, dan parang, mendatangi rumah Maria.
Mereka melempari rumah sang dukun dengan batu. Kaca jendela pecah berhamburan. Suasana berubah menjadi histeris. Pandi, yang saat itu sedang berada di dalam rumah Maria, terkejut melihat ratusan massa yang datang dengan wajah penuh amarah. Maria sendiri tidak terlihat; ia seolah lenyap ditelan udara.
Pandi, yang panik, mencoba melarikan diri. Namun, amarah warga lebih cepat. Menurut cerita yang beredar, saat dikejar oleh warga, Pandi yang dikenal ramah mendadak menunjukkan kemampuan gaibnya. Ia memiliki ilmu yang memungkinkannya melompat dari satu atap rumah ke atap rumah lain, dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa lain, dan menyeberangi sungai kecil hanya dengan satu kali lompatan saja.
Setiap kali ia melompat turun ke tanah untuk sesaat, ia akan melayangkan pukulan yang kuat kepada satu warga yang menghalangi jalannya, lalu kembali melompat ke atas. Hal ini membuat warga semakin ketakutan, mengira Pandi sedang kerasukan jin peliharaan Maria.
Berita mengenai pengejaran brutal tersebut akhirnya sampai ke telinga Mardi, si tukang ojek yang sedang santai di pangkalan ojek desa. Berita tersebut diberitahukan oleh anak si tukang ojek bernama Agung, yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar.
Menurut pengakuan Agung yang sekarang sudah berkeluarga dan memiliki satu orang anak, ayahnya sempat kaget bukan main hingga jatuh lemas dari bangku bambu mendengar berita tersebut. Mardi segera sadar bahwa Pandi bukan sedang berbisnis dengan dukun itu. Ada rahasia lain yang ia tidak ketahui. Ayahnya hanya menangis meratap, berkata pada orang-orang di pangkalan bahwa Pandi tidak bisa diselamatkan karena seluruh warga desa mengejarnya dengan amarah yang membabi buta. Ayahnya terus meminta maaf karena tidak bisa membantunya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi; ia tahu Pandi adalah orang baik.
Pengejaran tersebut memakan waktu cukup lama, hingga Maghrib menjelang. Banyak warga yang mulai ketakutan dengan kejadian supranatural itu. Di tengah pelarian, Pandi terus mencoba lari dan melompat dari satu tempat ke tempat lain. Namun, ilmu yang ia gunakan terlalu lama menuntut energi besar. Kedua bola matanya pecah karena memakai ilmu tersebut, mengeluarkan banyak darah segar yang membuat pandangannya kabur.
Dalam kondisi buta dan kelelahan, Pandi kehilangan keseimbangan. Hingga pada akhirnya, salah satu warga yang paling berani, berhasil mengayunkan sebilah bambu kuning (yang dipercaya ampuh mengusir setan) yang mengenai kaki Pandi. Pandi langsung tersungkur jatuh ke tanah.
Para penduduk desa yang sudah dirasuki amarah dan ketakutan langsung menghakimi Pandi dengan sangat sadis. Diceritakan, salah satu warga mengambil sebongkah batu besar seukuran kepala bayi dan menghantamkan batu tersebut tepat pada kemaluan Pandi. Benturan itu keras, membuat kemaluan Pandi hancur pecah hingga tercium bau darah segar yang membuat semua orang merasa mual dan ingin muntah.
Selama disiksa dengan keji, Pandi terus merintih. "Saya tidak salah... saya tidak melakukan apa pun... saya tidak salah..." rintihnya berulang kali, hingga ia menemui ajalnya di tangan massa yang kejam.
Tidak sampai di situ saja, amarah warga yang masih tersisa bahkan sampai membakar mobil milik Pandi yang terparkir di rumahnya. Terdengar suara ledakan yang cukup keras, menyempurnakan malam tragis itu. Semenjak kejadian tersebut, sang dukun Maria tidak diketahui keberadaannya. Seperti janjinya pada angin, ia menghilang ditelan bumi, tidak ada yang melihat ataupun mengetahui ke mana ia pergi.
Beberapa hari berlalu sejak kejadian mengerikan tersebut. Dusun yang tadinya tenang kini diliputi ketakutan yang mencekam. Menurut cerita yang beredar, arwah Pandi terus bergentayangan dan membuat warga ketakutan setiap malam. Selepas maghrib, tidak ada satu pun warga yang berani keluar rumah karena diliputi rasa takut oleh arwah Pandi yang bergentayangan, seolah meminta pertanggung jawaban dari mereka yang telah merenggut nyawanya secara tidak adil.
Menurut pengakuan Agung (anak si tukang ojek), ayahnya pernah bercerita bahwa dirinya selalu didatangi arwah Pandi dalam mimpi. Arwah temannya itu berbisik, "Jangan menyalahkan diri sendiri, Di, karena kamu tidak salah. Kamu orang baik." Ayahnya, Mardi, yang merasa bersalah karena tidak bisa membela Pandi, terus menangis dan meminta maaf dalam mimpinya karena tidak bisa menolong Pandi dan mengatakan yang sebenarnya kepada warga.
Satu minggu kemudian, tragedi tentang dukun dan Pandi tersebut dimuat dalam surat kabar lokal. Entah apa nama judul koran tersebut dan seperti apa isi beritanya, tidak ada yang mengetahuinya secara pasti karena koran itu sudah sangat lama. Diceritakan juga kalau ada seorang penjual koran yang menjual dagangannya tersebut di kampung yang memang menjadi tempat kejadian; setelah dirinya diberitahu oleh salah satu warga tentang kejadian tragis seminggu lalu, sontak si penjual kaget dan langsung pergi ketakutan.
Kisah ini merupakan karya fiksi yang terinspirasi dari desas-desus, peristiwa nyata, serta urban legend yang beredar di masyarakat. Seluruh nama tokoh, lokasi, dan detail kejadian telah disamarkan atau diubah untuk kepentingan narasi serta melindungi privasi pihak-pihak terkait. Karya ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan atau merepresentasikan pihak mana pun secara nyata.