Ponsel di balik saku sarungnya berdenyut lagi, pelan, seperti sesuatu yang mencoba keluar. Dzakir menekur, menatap ubin masjid yang dingin. Debu tipis berserakan di sela-selanya. Ia memaksakan pandangannya pada ujung sajadah, berharap khusyuknya bisa terlihat meyakinkan—meski hatinya tahu, ia sedang berbohong pada Tuhan, pada neneknya, dan pada dirinya sendiri.
"Nek, jangan sekarang," batinnya mendesis.
Ia mencecap tajamnya tatapan Ustadz Ahmad yang merambat dari atas mimbar, seolah petuah tentang bakti itu sengaja dilemparkan tepat ke ulu hatinya.
"Rasulullah pernah bersabda," suara Ustadz Ahmad menggaung pelan, "sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain."
Ia berhenti sejenak, matanya seolah menembus barisan jemaah.
"Tapi seringkali, kita sibuk menghitung pahala shalat kita, sambil lupa menghitung air mata yang kita biarkan jatuh di wajah orang yang menunggu kita pulang."
Dzakir merasa dagunya bergetar. Ia ingat neneknya pernah menangis—sekali, hanya sekali—ketika ia membatalkan rencana pulang karena lembur.
"Maaf, Nek," katanya di telepon. "Pekerjaan."
Nenek tidak marah. Hanya berkata. "Yang penting Zak sehat."
Suara Ustadz Ahmad kembali menggaung. "Waktu itu bagaikan pedang, Ia tidak kenal tunggu, ia hanya tahu cara menebas"
Dzakir menyusupkan jemari ke saku. Ujung jarinya meraba permukaan layar yang mulai membara. Nama Nenek berpijar di sana, menuntut atensi di tengah remang cahaya lampu gantung masjid. Ia menyapu ikon merah. Senyap seketika. Panggilan itu tumpas, meninggalkan sesal yang hanya bertahan dua detik sebelum terkubur oleh egonya sendiri.
"Nek, aku sedang ibadah," bisiknya dalam hati, sebuah pembenaran yang terasa sangat masuk akal baginya saat itu.
Farhan yang bersila tepat di sebelahnya menyikut lengan Dzakir. "Angkat saja, Zak. Siapa tahu penting," bisik Farhan, suaranya nyaris terendam oleh deru kipas angin plafon.
Dzakir mengedikkan kepala tanpa menoleh.
"Paling hanya bertanya sudah makan atau belum. Bisa besok," balasnya ketus.
Aroma kasturi dari arah mimbar terasa menyesakkan. Dzakir merasa seisi masjid sedang menghakiminya, tetapi ia memilih untuk tetap mematung.
Tiga hari berselang, hiruk-pikuk kota mulai menggerus sisa-sisa kesadaran Dzakir. Apartemennya berantakan; tumpukan berkas terserak di samping cangkir kopi dengan noda yang sudah mengerak. Ponselnya memekik di atas meja kerja. Kali ini bukan Nenek, melainkan Farhan.
"Kau di mana?" tanya Farhan tanpa basa-basi.
"Kantor. Kenapa? Aku sedang dikepung tenggat, Han," jawab Dzakir sembari jemarinya lincah menari di atas papan tik.
"Nenekmu ambruk lagi. Kata Bibi, beliau terus merancau memanggil namamu sejak subuh tadi."
Jemari Dzakir membeku di atas tuts. Ada jeda panjang yang hanya diisi oleh deru AC ruangan yang monoton. "Bilang pada Bibi, aku akan pulang akhir pekan ini. Akan kubawakan martabak kesukaannya," ujar Dzakir datar. Ia meyakinkan diri sendiri bahwa rindu bisa dijadwalkan layaknya rapat bulanan.
Ia memutus sambungan, lalu menatap notifikasi pesan suara yang dikirim Nenek kemarin lusa. Durasi tiga puluh detik yang tidak pernah ia jamah.
Sebenarnya, ia pernah mencoba menelepon balik. Tepat pukul sembilan malam, setelah rapat yang membuat matanya perih.
Nenek tidak mengangkat. Dzakir mencoba lagi sepuluh menit kemudian. Masih tidak ada jawaban. Ia menyimpulkan nenek sudah tidur, lalu meyakinkan diri bahwa ia sudah "cukup berusaha."
Baru kemudian Bibi menceritakan bahwa malam itu neneknya demam tinggi, terbaring lemas di kamar, sambil terus memegang ponsel yang baterainya habis karena terlalu lama menunggu.
Dzakir tidak tahu mana yang lebih menyiksa; kenyataan bahwa ia terlambat, atau kenyataan bahwa ia pernah menggunakan "tidak diangkat" sebagai alasan untuk tidak mencoba lagi.
Dzakir menatap layar ponselnya lebih lama dari yang seharusnya. Ia teringat suara neneknya yang selalu sama setiap kali menelepon. Serak, pelan, kadang diselingi batuk kecil yang ditahan.
"Zak, kamu sudah makan?" Itu hampir selalu pertanyaan pertama. Tidak pernah soal pekerjaan atau jabatan.
Kadang setelah itu neneknya menambahkan nasihat pendek dengan nada yang lembut.
"Jangan lupa shalat, Nak."
Sejak kecil memang hanya nenek yang ia punya. Orang tuanya telah lama pergi, dan perempuan tua itu menjadi satu-satunya orang yang selalu menunggu kabarnya, bahkan ketika ia sendiri terlalu sibuk untuk sekadar menjawab telepon.
Dzakir menghela napas, mengusap wajah yang terasa kasar karena kurang tidur. Ia merasa hidupnya tengah meroket ke puncak, dan segala hal dari masa lalu hanyalah jangkar yang menghambat lajunya.
Ponselnya tetap berada di genggaman. Ia sempat membuka layar pesan suara dari Nenek, menatap tombol putarnya beberapa detik. Lalu, seperti seseorang yang baru saja menyentuh sesuatu yang terlalu panas, ia buru-buru mematikan layar ponselnya dan meletakkannya kembali di meja.
***
Hujan menghunjam bumi seperti tinta hitam di atas aspal Jakarta malam itu. Dinginnya merajam hingga ke sumsum, menyelinap melalui celah jendela apartemen yang tidak tertutup rapat.
Malam itu apartemennya terasa lebih sunyi dari biasanya. Dzakir sempat terbangun sekali sebelum benar-benar tertidur, tanpa tahu apa yang membuatnya gelisah. Ponselnya tergeletak di meja samping tempat tidur, layar hitamnya memantulkan cahaya lampu kota yang redup.
Nama bibinya berkedip di layar dengan frekuensi yang tidak wajar. Jantung Dzakir mencelus. Ada firasat pahit yang tiba-tiba menggenang di kerongkongannya.
"Halo?" Suara Dzakir parau, bergetar oleh sisa kantuk dan cengkeraman ketakutan.
Tidak ada jawaban langsung, hanya isak tangis yang pecah di seberang sana.
"Dzakir ... Nenekmu, dia sudah tiada."
Kalimat itu meremukkan dadanya layaknya hantaman palu godam. Ponsel di genggamannya meluncur, menghantam lantai dengan bunyi "prak" yang membelah sunyi. Dunia seolah berhenti berputar, menyisakan kesunyian yang mencekik. Ia menatap dinding kamar yang hampa, membayangkan wajah Nenek yang terakhir kali ia abaikan panggilannya di masjid.
Perjalanan menuju rumah duka terasa seperti mimpi buruk tanpa ujung. Di dalam taksi, Dzakir menatap jendela yang berembun. Seorang penjual bunga melintas di persimpangan, menggendong sekuntum melati putih.
Dzakir teringat, setiap Lebaran, nenek selalu menyematkan melati di kerah bajunya.
"Biar wangi, Zak," katanya dulu, "biar orang tahu cucuku sudah datang."
Kali ini, taksi itu melaju melewati penjual itu, membawa Dzakir menuju aroma kapur barus yang tidak akan pernah bisa ia hindari lagi.
Di tengah ruangan, di atas ranjang kayu tempatnya dulu sering didongengkan, sesosok tubuh terbujur kaku. Putih. Dingin. Bisu.
Dzakir ambruk di samping dipan. Tangannya yang gemetar menyentuh kain kafan yang kasar di bagian wajah. Wajah Nenek tampak sangat tenang—terlalu tenang hingga terasa menyayat.
Dzakir menelan sesuatu yang terasa pahit di tenggorokannya.
"Nek ... aku sudah bawa martabaknya," bisiknya lirih dengan suara hancur.
Tentu saja, tidak ada jawaban. Hanya deru hujan di atap seng yang terdengar seperti tawa ejekan dari takdir. Penyesalan itu datang perlahan, tetapi menghancurkan. Ia teringat panggilan telepon yang ia tolak karena merasa sedang ibadah di masjid.
Dua minggu setelah tanah makam itu masih basah, Dzakir kembali ke masjid. Langkahnya tidak lagi tegap; bahunya merosot seolah memikul beban tak kasat mata yang teramat berat. Ia meringkuk di sudut paling gelap, menjauh dari kerumunan jemaah lain. Sajadahnya basah oleh sisa air wudu dan air mata yang tak kunjung kering.
Setelah jemaah mulai bubar, suara langkah kaki perlahan menghilang dari dalam masjid. Dzakir masih duduk di sudut sajadahnya, bahunya merosot.
Langkah seseorang mendekat.
"Dzakir?"
Ia mendongak. Ustadz Ahmad berdiri di sampingnya, tasbih kayu berputar pelan di sela jemari.
"Kamu sudah lama di sini?" tanya ustadz itu lembut.
Dzakir mengusap wajahnya yang basah. "Saya ... tidak tahu harus ke mana lagi, Ustadz."
Ustadz Ahmad lalu duduk di sampingnya.
Beberapa saat mereka hanya diam. Hanya suara kipas masjid yang berputar pelan di atas kepala.
"Nenekmu orang baik," ujar Ustadz Ahmad akhirnya.
Dzakir menunduk dalam. "Saya bahkan tidak sempat minta maaf."
Ustadz Ahmad mengangguk pelan. "Kalau begitu jangan berhenti di penyesalan saja, Zak."
Dzakir menoleh.
"Doakan dia. Sedekahkan sesuatu atas namanya. Itu yang bisa kamu kirim sekarang." Ustadz Ahmad menepuk ringan bahunya. "Kadang orang tua tidak butuh banyak dari kita. Mereka cuma ingin tahu kalau anaknya masih di jalan yang baik."
Dzakir terdiam, meresapi setiap kata yang meresap ke relung jiwanya yang hampa. Penyesalan memang pahit, tetapi ia sadar bahwa meratapi jasad tidak akan mengubah apa pun. Ia menghirup napas panjang. Aroma gaharu masjid kini tidak lagi mencekik, melainkan terasa seperti pelukan yang memintanya untuk pulang.
Ustadz Ahmad pergi, meninggalkan Dzakir dalam sunyi yang semakin pekat.
Beberapa saat kemudian, langkah lain terdengar mendekat.
Farhan datang dan duduk di sampingnya tanpa banyak suara. Ia sempat memandang wajah Dzakir yang sembap, lalu menarik napas pelan seperti sedang menimbang sesuatu. Dari tas kecil di tangannya, Farhan mengeluarkan sebuah buku saku doa yang sudah agak kusam di bagian sudutnya.
"Dulu nenekmu yang menitipkan ini kepadaku," ujar Farhan pelan sambil menyerahkannya.
Dzakir menoleh, sedikit terkejut.
"Waktu kamu mulai sibuk kerja," lanjut Farhan, "beliau bilang kalau suatu hari kamu mungkin butuh ini, tapi mungkin terlalu malu untuk minta."
Farhan menepuk punggungnya dengan mantap. "Beliau sering cerita tentang kamu, Zak. Selalu bangga. Bahkan waktu kamu jarang pulang."
Dzakir menunduk. Jemarinya menggenggam buku kecil itu lebih erat.
Farhan menatapnya lama. "Ingat waktu di masjid? Aku bilang angkat teleponnya." Ada jeda yang tajam. "Kamu dengar, Zak. Tapi kamu pilih untuk tidak mendengar."
Farhan menarik napas. "Aku bukan mau menyalahkanmu. Tapi nenekmu—beliau titip ini bukan karena beliau tahu kamu akan menyesal. Beliau titip ini karena beliau tahu kamu akan butuh ini. Ada bedanya." Ia menyerahkan buku itu. "Jalan pulang itu masih ada. Tapi jangan kira jalan itu pendek."
Farhan pergi meninggalkannya. Masjid kini sunyi, hanya tinggal Dzakir dan ponselnya yang diam di atas sajadah.
Dzakir membuka ponselnya, menatap folder pesan suara yang masih tersimpan. Jemarinya ragu, lalu perlahan menekan tombol putar.
"Dzakir, Cucuku ... jangan lupa shalat, ya. Nenek cuma rindu kamu," suara lemah itu bergetar di telinganya.
Malam itu, di bawah remang lampu masjid, Dzakir tidak tahu harus mulai dari mana. Ia membuka buku yang Farhan berikan, halaman-halaman yang berbau tembakau dan lamunan tangan tua.
Ia tidak tahu apakah doa yang terlambat punya alamat. Tapi untuk saat ini, ia tidak buru-buru mengembalikan ponselnya ke saku. Ia membiarkannya tergeletak di atas sajadah, layarnya masih menampilkan nama "Nenek", sampai baterainya habis sendiri.
END
Rumah Menulis: Religi Islami — Tema 3; Keluarga