Pagi itu di Universitas Indonesia, Kasih Kirana adalah matahari yang enggan tenggelam; ia adalah bunga kampus dengan kecerdasan yang membuat para profesor segan dan kecantikan yang membuat mahasiswa dari berbagai fakultas rela mengantre hanya untuk sekadar menyapa. Namun, hatinya telah tertambat pada Arjan Vllasi, seorang mahasiswa pertukaran dari Kosovo yang memiliki sorot mata kelam sehitam kopi pekat tanpa gula. Arjan adalah teka-teki yang ingin dipecahkan Kasih, seorang lelaki yang bicara tentang kemerdekaan negaranya dengan nada suara yang lebih mirip dengan ratapan daripada perayaan. Ketertarikan itu membawa Kasih terbang ribuan kilometer menuju Pristina, sebuah perjalanan yang ia kira adalah romansa lintas benua, namun nyatanya adalah gerbang menuju neraka sosiopolitik yang tak pernah ia bayangkan dalam buku teks mana pun.
Begitu menginjakkan kaki di tanah Kosovo, Kasih Kirana merasakan atmosfer yang berat seolah oksigen di sana bercampur dengan debu sisa ledakan tahun sembilan puluhan. Arjan Vllasi membawanya ke sebuah desa di pinggiran kota yang dihuni oleh orang-orang dengan wajah yang keras dan penuh curiga. Di sebuah bar temaram bernama Black Eagle, Kasih terhenyak saat mendengar Arjan berbincang dengan rekan-rekannya dalam bahasa Albania yang kasar. Melalui terjemahan yang seadanya, Kasih mulai memahami sisi gelap negara itu yang tidak pernah muncul di brosur wisata: tentang bagaimana negara bayi tersebut sebenarnya dikuasai oleh klan-klan kriminal yang merupakan mutasi dari unit gerilya masa lalu. Ia mulai mendengar bisik-bisik tentang perdagangan manusia dan jalur gelap narkotika yang membelah Balkan, di mana hukum hanyalah saran dan kekerasan adalah mata uang yang paling berlaku.
Puncak dari guncangan batin Kasih Kirana terjadi saat ia menginap di rumah keluarga Arjan Vllasi yang tampak megah namun terisolasi oleh pagar beton tinggi dengan kawat berduri. Di sana, ia bertemu dengan ayah Arjan, seorang pria bernama Besnik Vllasi, yang memiliki aura preman namun berpakaian layaknya politisi kelas atas. Pada suatu malam yang sunyi, Kasih tidak sengaja menemukan sebuah ruangan bawah tanah yang pintunya sedikit terbuka. Di dalamnya, ia tidak menemukan kenangan perang yang heroik, melainkan tumpukan paspor palsu dan laporan pengiriman barang yang menggunakan istilah medis yang mencurigakan. Kasih terhenyak saat menyadari bahwa Arjan bukan sekadar korban perang yang traumatis, melainkan bagian dari dinasti gelap yang mengeruk keuntungan dari kekacauan pasca-konflik.
Pertengkaran hebat terjadi di bawah lampu minyak yang remang. Arjan Vllasi tidak lagi menyembunyikan wajah aslinya; ia menatap Kasih Kirana dengan dingin tanpa sisa cinta di matanya. Arjan mengakui bahwa perkenalan mereka di kampus bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari rencana ayahnya untuk mencari jalur pencucian uang di Asia Tenggara melalui koneksi keluarga Kasih yang memiliki pengaruh di dunia perbankan Indonesia. Kasih merasa mual menyadari bahwa pelukan hangat Arjan selama setahun terakhir hanyalah riset pasar untuk sindikat kriminal Balkan. Ia melihat bagaimana negara yang katanya telah merdeka itu sebenarnya hanya berganti tuan, dari penindas militer menjadi penindas ekonomi yang mengenakan setelan jas namun memiliki tangan yang berlumuran darah kawan sendiri.
Malam itu juga, Kasih Kirana melarikan diri dari rumah tersebut dengan bantuan seorang supir taksi tua yang menyimpan dendam pada keluarga Besnik Vllasi. Di sepanjang jalan menuju bandara, ia melihat wajah-wajah rakyat Kosovo yang malang, yang terjepit di antara bayang-bayang trauma etnis dan kenyataan pahit bahwa pemimpin mereka adalah bos mafia. Kasih pulang ke Jakarta dengan membawa luka yang tidak akan pernah bisa dilihat orang lain. Bunga kampus itu kini menyadari sebuah kebenaran yang memuakkan: bahwa di negara yang lahir dari air mata seperti Kosovo, cinta sering kali hanyalah alat kamuflase bagi kejahatan yang lebih besar, dan Arjan Vllasi adalah monster paling tampan yang pernah ia kenal. Ia telah terhenyak oleh realitas bahwa kemerdekaan suatu bangsa terkadang hanyalah panggung sandiwara bagi para predator untuk memangsa rakyatnya sendiri di balik tirai kekuasaan.
Kasih Kirana tidak pergi dengan tangan hampa; di balik lipatan jaket tebalnya, terselip sebuah cakram keras portabel dan beberapa lembar dokumen asli yang ia sambar dari ruang kerja Besnik Vllasi saat rumah itu sedang terlelap. Setibanya di Jakarta, ia tidak lagi tampak seperti mahasiswa yang sedang patah hati, melainkan seorang wanita dengan misi yang berbahaya. Ia segera menghubungi seorang kerabat di Badan Intelijen Negara yang memiliki jalur langsung ke perwakilan Interpol. Di sebuah ruang pertemuan rahasia yang dingin dan kedap suara, Kasih menyerahkan bukti-bukti tersebut—data yang berisi skema pencucian uang lintas negara, daftar pejabat yang disuap, dan rute pengiriman barang haram yang melibatkan pelabuhan-pelabuhan kecil di Asia Tenggara.
Petugas yang memeriksa data tersebut terbelalak melihat betapa rapinya jaringan Arjan Vllasi bekerja. Ternyata, selama di kampus, Arjan tidak hanya mendekati Kasih Kirana karena status sosialnya, tetapi juga secara diam-diam menanam perangkat lunak mata-mata di laptop beberapa anak pejabat lainnya yang menjadi teman nongkrong mereka. Kasih merasa dadanya sesak melihat bagaimana setiap momen romantis mereka di kafe-kafe sekitar Depok ternyata adalah kesempatan bagi Arjan untuk memanen data penting. Penyelidikan Interpol mulai bergerak serentak di tiga benua; mereka menyebutnya sebagai "Operasi Bunga Balkan". Kasih diminta untuk tetap tenang dan bersikap seolah-olah hubungan mereka berakhir karena alasan pribadi, agar Arjan tidak curiga bahwa "kuda Troya" miliknya telah berbalik menjadi penghancur dinastinya.
Beberapa minggu kemudian, Kasih Kirana menerima kabar bahwa Arjan Vllasi ditangkap saat sedang transit di Singapura, tepat ketika ia hendak melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk "meminta maaf" kepada Kasih. Di saat yang sama, penggerebekan besar-besaran terjadi di Pristina; rumah mewah Besnik Vllasi dikepung oleh pasukan khusus internasional. Kasih melihat berita itu di layar televisinya dengan perasaan yang campur aduk antara lega dan ngeri. Ia telah berhasil menghancurkan jaring laba-laba yang mengancam negaranya, namun ia tahu bahwa mulai saat itu, ia tidak akan pernah bisa melihat dunia dengan cara yang sama lagi. Bunga kampus yang lugu itu telah gugur, digantikan oleh seorang wanita yang paham bahwa di balik senyum paling menawan, terkadang tersembunyi rencana yang paling mematikan.
Ruang interogasi itu terasa sempit dan pengap, hanya dipisahkan oleh sebuah meja besi dingin yang bautnya mulai berkarat. Kasih Kirana duduk tegak, tangannya terkepal di bawah meja, mencoba mengendalikan gemetar yang menjalar hingga ke ujung jari. Di hadapannya, Arjan Vllasi duduk dengan tangan terborgol, namun tetap mempertahankan dagu yang terangkat tinggi. Tidak ada lagi sorot mata kelam yang puitis; yang tersisa hanyalah tatapan predator yang tertangkap basah, tajam dan penuh kebencian. Rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan, dan kemeja mahalnya tampak lusuh setelah tiga hari dalam tahanan Interpol.
"Kau menghancurkan segalanya, Kasih," suara Arjan Vllasi memecah kesunyian, rendah dan bergetar karena amarah yang ditahan. "Semua kerja keras ayahku, masa depan negaraku, kau buang begitu saja demi moralitas konyolmu."
Kasih Kirana menatap pria itu tanpa kedip, matanya yang dulu penuh binar cinta kini sedingin es di puncak pegunungan Alpen. "Negaramu? Kau tidak sedang menyelamatkan Kosovo, Arjan. Kau sedang menghisap sumsum tulang rakyatmu sendiri untuk membangun istana di atas tumpukan mayat. Aku tidak menghancurkan masa depanmu, aku hanya menghentikan parasit yang mencoba merambat ke rumahku."
Arjan Vllasi tertawa kecil, tawa kering yang menggema menyakitkan di ruangan itu. "Kau pikir kau pahlawan? Kau hanya seorang gadis kecil yang bermain api. Ayahku memiliki orang-orang di setiap sudut Eropa. Penjara ini tidak akan menahanku selamanya. Dan ketika aku keluar, aku akan memastikan bunga kampus kesayangan semua orang ini akan layu dalam kegelapan."
Mendengar ancaman itu, Kasih Kirana justru condong ke depan, mendekatkan wajahnya hingga ia bisa mencium aroma sisa rokok dan keputusasaan dari napas Arjan. "Kau lupa satu hal, Arjan. Dokumen yang kuserahkan bukan hanya soal uang. Ada nama-nama rekan bisnismu di sana. Orang-orang yang jauh lebih berkuasa dan lebih kejam dari ayahmu. Sekarang setelah mereka tahu kau adalah lubang kebocoran informasi, kau pikir siapa yang akan menghabisimu lebih dulu? Hukum, atau sekutumu sendiri?"
Wajah Arjan Vllasi seketika memucat, binar kesombongan di matanya padam digantikan oleh ketakutan yang murni. Ia menyadari bahwa Kasih Kirana tidak hanya menyerahkannya ke polisi, tapi telah melemparkannya ke tengah kerumunan serigala yang lapar. Kasih bangkit berdiri, merapikan jaketnya tanpa sekali pun berpaling. Sebelum melangkah keluar pintu besi yang berat itu, ia menoleh sedikit. "Selamat tinggal, Arjan. Di Kosovo kau mungkin seorang pangeran kegelapan, tapi di sini, kau hanyalah narapidana tanpa nama yang akan segera dilupakan dunia."
Kasih Kirana melangkah keluar menuju cahaya matahari Jakarta yang terik, menghirup udara yang terasa jauh lebih bersih dari sebelumnya. Ia tahu hidupnya tidak akan pernah tenang sepenuhnya, namun setidaknya, ia tidak lagi menjadi boneka dalam sandiwara berdarah dari Balkan.