Matahari di Kepulauan Virgin AS biasanya berarti liburan mewah bagi orang-orang terkaya di dunia, namun bagi Triana yang baru berusia lima belas tahun, cahaya itu adalah alarm kutukan. Ia berdiri di dek kapal pesiar, menatap pulau pribadi milik Jeffrey Epstein yang tampak seperti firdaus dari kejauhan. Namun, Triana tahu betul bahwa di balik dinding-dinding marmer dan pepohonan tropis yang rimbun itu, terdapat sebuah pabrik penghancur jiwa yang efisien.
Triana bukan datang dari keluarga berada. Ia adalah gadis dari pinggiran Florida yang bermimpi menjadi model untuk membantu ibunya membayar sewa apartemen. Ketika seorang wanita elegan mendekatinya di mal dan menjanjikan "peluang beasiswa dan karier" melalui seorang dermawan kaya, Triana merasa Tuhan akhirnya mendengar doanya. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja menjual jiwanya kepada iblis yang memakai setelan linen mahal.
Pertemuan Pertama menunjukkan bahwa Monster di Balik Senyum itu begitu rapi jalankan rencananya! "Kau punya potensi, Triana. Tapi dunia ini keras. Kau butuh perlindungan, kau butuh... bimbingan," suara Jeffrey Epstein rendah dan tenang, namun matanya memindai tubuh Triana seolah-olah ia sedang memeriksa barang belanjaan di rak supermarket.
Triana duduk di sofa kulit yang harganya mungkin bisa membiayai sekolahnya sampai sarjana. Di ruangan itu, ada aroma cerutu mahal dan parfum yang memuakkan. "Saya hanya ingin sekolah dan bekerja, Tuan," bisik Triana lugu.
Epstein tertawa kecil, suara yang kelak akan menghantui mimpi buruk Triana selama berdekade-dekade. "Sekolah itu lambat. Di sini, kau bisa mendapatkan segalanya dalam semalam. Cukup jadikan aku senang, dan ibumu tidak perlu bekerja lagi."
Itulah awal dari jeratan itu. Bukan dengan paksaan fisik di hari pertama, melainkan dengan manipulasi psikologis yang halus. Epstein, persis seperti figur predator industri musik yang belakangan heboh seperti P Diddy, menggunakan kekuasaan, koneksi selebritas, dan uang untuk menciptakan dinding isolasi. Triana merasa berutang budi, sekaligus merasa kecil.
Rutinitas neraka dilakukan selama bertahun-tahun, dan "bimbingan" itu berubah menjadi eksploitasi yang brutal. Triana dipaksa memberikan pijatan yang berakhir dengan pelecehan setiap hari. Jika ia menolak atau menangis, Epstein hanya perlu menyebutkan nama ibunya atau mengancam akan menjebloskan keluarganya ke penjara dengan pengacara-pengacaranya yang dibayar jutaan dolar.
Suatu malam di rumah besar Epstein di Manhattan, Triana bertemu dengan seorang gadis lain yang lebih muda darinya. Gadis itu gemetar di pojok ruangan.
"Kenapa kau tidak lari?" tanya Triana dengan suara serak.
"Lari ke mana?" gadis itu balik bertanya dengan mata kosong. "Dia punya foto-fotoku. Dia kenal gubernur, dia kenal pangeran, dia kenal bintang film. Siapa yang akan percaya pada anak yatim piatu sepertiku?"
Triana terdiam. Itulah kengerian utama dari lingkaran Epstein. Ini bukan hanya tentang satu orang jahat, tapi tentang sebuah sistem yang melindungi penjahat tersebut. Para tamu undangan—orang-orang berkuasa yang sering muncul di televisi—datang dan pergi, bersulang sampanye sementara di kamar-kamar tersembunyi, gadis-gadis di bawah umur sedang dihancurkan masa depannya.
Percakapan yang memuakan terjadi di suatu sore di pulau pribadinya, Epstein sedang duduk santai sementara Triana dipaksa menemaninya makan siang. Triana melihat daftar tamu yang akan datang malam itu—nama-nama besar dari dunia politik dan hiburan.
"Tuan, mengapa Anda melakukan ini semua?" tanya Triana, memberanikan diri. "Anda punya segalanya. Kenapa harus menyakiti kami?"
Epstein meletakkan garpunya perlahan, menatap Triana dengan tatapan dingin yang tak memiliki empati manusiawi sedikit pun. "Karena aku bisa, Triana. Karena di dunia ini, ada predator dan ada mangsa. Orang-orang hebat yang kau lihat di berita itu? Mereka punya nafsu yang sama denganku. Aku hanya menyediakan tempat bermain di mana aturan moral manusia biasa tidak berlaku."
"Anda monster," desis Triana, air mata kemarahan mulai jatuh.
"Monster?" Epstein menyeringai. "Monster adalah orang yang tidak punya uang untuk menutupi jejaknya. Aku? Aku adalah seorang dermawan. Besok, aku akan menyumbang jutaan dolar untuk riset sains, dan dunia akan memujaku. Kau? Kau hanya catatan kaki yang akan dilupakan."
Triana merasa mual. Ia teringat bagaimana industri hiburan bekerja dengan pola yang sama—pesta-pesta liar penuh obat-obatan, janji ketenaran yang ditukar dengan tubuh, dan kontrak-kontrak yang mengikat leher. Ia menyadari bahwa Epstein dan orang-orang seperti P Diddy adalah dua sisi dari koin yang sama: mereka merasa di atas hukum karena mereka merasa memiliki hukum itu sendiri.
Puncak Tragedi dan Kehampaan terjadi. Bertahun-tahun Triana menjadi "properti" Epstein. Ia dipindahkan dari satu rumah mewah ke rumah mewah lainnya, dari New York ke Paris, dari Palm Beach ke pulau pribadinya. Setiap kali ia melihat wajahnya di cermin, ia tidak lagi mengenali gadis lugu dari Florida itu. Wajahnya telah menjadi topeng kesedihan yang permanen.
Ia pernah mencoba melarikan diri saat berada di Paris. Ia berlari ke kantor polisi, mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Namun, dalam hitungan jam, pengacara Epstein sudah ada di sana dengan tumpukan dokumen yang menyatakan Triana adalah "pasien mental" yang delusif. Polisi-polisi itu bahkan menjabat tangan sang pengacara dengan hormat. Triana dikembalikan ke sangkar emasnya, dan hukuman yang ia terima setelah itu jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya.
Eksploitasi itu bukan hanya soal fisik, tapi soal mematikan harapan. Epstein senang melihat korbannya merasa bahwa tidak ada tempat yang aman di dunia ini. Ia ingin mereka percaya bahwa semua orang berkuasa itu busuk, sehingga tidak ada gunanya melapor.
Ini adalah Akhir yang Pahit, Tapi Belum Usai! Karena berita tentang kematian Epstein di penjara bertahun-tahun kemudian tidak memberikan ketenangan bagi Triana. Baginya, itu adalah cara pengecut sang monster untuk menghindari pengadilan yang sebenarnya. Triana kini berdiri di depan cermin di usianya yang sudah matang, namun hatinya masih tertinggal di usia lima belas tahun di pulau itu.
Ia melihat berita-berita di internet tentang korban-korban baru dari industri lain, tentang pesta-pesta gelap yang mulai terungkap satu per satu. Ia merasa muak melihat bagaimana pola yang sama berulang: penggunaan kekuasaan untuk membungkam, uang untuk menyuap, dan koneksi untuk memalsukan kebenaran.
"Dia memang mati," bisik Triana pada bayangannya sendiri, "tapi sistem yang dia bangun masih bernapas di tempat lain."
Triana memutuskan untuk bicara. Bukan untuk uang, karena uang tidak bisa membeli kembali masa mudanya yang hilang. Ia bicara agar remaja-remaja di luar sana tidak tergiur oleh kilau berlian yang ditawarkan oleh tangan-tangan yang berlumuran darah. Ia ingin dunia tahu bahwa di balik pesta-pesta mewah, pesawat pribadi, dan senyum para pesohor, terkadang ada jeritan yang sengaja diredam oleh dentum musik dan gemerlap lampu pesta.