Pemandangan alam desa begitu indah menjelang sore. Bau tanah sehabis hujan sangat khas. Terbentang pelangi di petala langit. Warna langit Dusun Karang Sekoti nampak memerah, seolah ikut terbakar oleh amarah yang tertahan di dada Sumarni alias Marni. Di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter yang dinding biliknya sudah mulai lapuk, gadis berusia 21 tahun itu duduk mematung di depan cermin retak. Ia bukan sedang mengagumi kecantikannya yang alami—kulit kuning langsat dan mata jernih yang biasanya berbinar—melainkan sedang menatap "harga" yang harus dibayar untuk nyawa dan harga diri keluarganya.
Di ruang tamu, suara tawa berat dan parau milik Mansur terdengar mendominasi, menenggelamkan suara isak tangis tertahan ibunya dan gumaman pasrah ayahnya, Darman yang berkepala empat.
Sang tuan tanah berperut buncit berusia 65 tahun bernama Mansur Sulanjana itu bukan sekadar orang kaya di kampung itu. Ia adalah hukum yang berjalan. Tubuhnya pendek, gempal, dengan perut buncit yang seolah-olah siap meletus dari balik kemeja batik sutra mahalnya. Wajahnya keras, dengan bekas luka di pelipis kiri dan kumis tebal yang tak terawat, memberikan kesan preman pasar yang sukses "mencuci tangan" menjadi rentenir.
Logatnya kasar, penuh perintah. Bagi Mansur, segala sesuatu di dunia ini adalah komoditas. Dan sore itu, komoditasnya adalah Marni si bunga desa itu!
"Sudah, Darman. Tidak usah menangis seperti orang mati," suara Mansur terdengar lagi, dibarengi bunyi denting gelas teh yang diletakkan kasar. "Hutangmu yang lima puluh juta itu, ditambah bunga yang menumpuk dua tahun, anggap saja lunas. Malam ini, Marni resmi jadi milikku. Kamu tidak perlu lagi sembunyi di kolong tempat tidur setiap kali anak buahku datang menagih." Asap rokok mengepul dari mulutnya.
Darman hanya menunduk, tangannya yang pecah-pecah karena kerja serabutan di sawah orang lain terus gemetar. Kemiskinan di desa terpencil ini bukan hanya soal kurang makan, tapi soal kehilangan kedaulatan atas diri sendiri. Jiwa yang terjajah itu hanya diam seribu bahasa. Maafkan Bapak ya nduk! Bisiknya sedih.
Upacara Kepasrahan di kampung itu telah terjadi, ya pernikahan karena hutang adalah rahasia umum yang dibungkus dengan label "bakti anak". Tetangga-tetangga berdatangan, bukan untuk merayakan cinta, melainkan untuk menonton pertunjukan miris dan tragis. Mereka berbisik di balik bambu, ada yang merasa kasihan, namun lebih banyak yang merasa lega karena bukan anak mereka yang diambil Sang rentenir licik itu!
Marni dipakaikan kebaya putih pinjaman yang sedikit kebesaran di bahunya. Riasannya tebal, gaya khas perias desa yang ingin mengubah wajah gadis lugu menjadi seperti boneka barbie. Namun, bedak setebal apa pun tak mampu menyembunyikan sembab di matanya nan sayu.
Saat akad nikah berlangsung secara sederhana di depan penghulu, Marni merasa rohnya terbang meninggalkan jasadnya. Ia teringat impiannya dua tahun lalu untuk melanjutkan kuliah ke kota, setelah ia menjadi lulusan terbaik SMA di kecamatan. Namun, mimpi itu terkubur bersama gagal panen dan kecanduan judi ayah dan abangnya yang tak kunjung sembuh.
"Sah?" tanya Pak Penghulu.
"Sah!" seru para saksi dengan semangat yang ironis.
Tangan Mansur yang besar, kasar, dan berbau rokok kretek menjabat tangan bapaknya. Marni merasa muak dan mual. Saat ia terpaksa mencium tangan lelaki yang kini sah menjadi suaminya, ia mencium aroma keringat dan parfum murah yang menyengat,sebuah aroma penjara yang akan ia huni seumur hidup tanpa ampun!
Akhirnya, malam yang panjang di kamar itu akan ia lewati! Malam yang jatuh dengan sunyi yang mencekam di Karang Sekoti. Hanya suara jangkrik dan gesekan daun pisang yang terdengar di luar rumah. Di dalam kamar, Marni duduk di tepi ranjang kayu yang sudah diganti sprei baru berwarna merah menyala pemberian Mansur.
Pintu kayu berderit terbuka. Mansur masuk dengan langkah yang berat, membiarkan sarungnya terseret di lantai semen yang lembap. Ia mengunci pintu dengan bunyi 'klik' yang terasa seperti vonis mati di telinga Marni.
"Kenapa masih pakai baju itu? Buka istriku yang manis!" perintah Mansur tanpa basa-basi. Ia duduk di kursi kayu tunggal, menyalakan rokok, dan menatap Marni seperti seekor predator yang sedang menilai mangsanya. Badan gempalnya sudah siap memberikan yang terbaik di malam itu.
"S-saya... saya takut, Pak," bisik Marni, suaranya nyaris hilang.
Mansur tertawa, tawa yang kering dan tidak mengandung keramahan. "Panggil aku Mas'. Aku sudah beli kamu mahal-mahal, Marni. Ayahmu itu sudah hampir masuk penjara kalau bukan karena aku. Sekarang, jalankan tugasmu."
Lelaki itu berdiri, mendekati Marni. Bayangannya yang besar dan buncit menutupi tubuh mungil gadis itu. Dengan kasar, ia menarik kain kerudung yang masih tersampir di bahu Marni. Mansur mencium bibir Marni dengan penuh gairah.
Marni tak kuasa. Ia takluk dalam perih dan pedih! Malam itu, Marni merasakan betapa murahnya harga sebuah kehormatan di hadapan tumpukan hutang. Mansur tidak mengenal kata lembut. Baginya, hubungan suami istri adalah soal penaklukan, soal menunjukkan siapa yang memegang kendali.
Marni meringis, menggigit bibirnya yang kering hingga berdarah agar teriakannya tidak terdengar sampai ke ruang tengah, tempat orang tuanya mungkin sedang menghitung sisa uang "kembalian" dari mahar yang diberikan Mansur. Air matanya mengalir deras, membasahi bantal kapas yang keras. Setiap sentuhan Mansur terasa seperti luka baru. Beginilah nasib merelakan keperawanan di hadapan lelaki yang tak dicintainya.
Lelaki itu mendengus seperti kerbau, tenaganya yang besar menekan dada Marni hingga ia sesak dan sulit bernapas. Marni hanya bisa menatap langit-langit kamar, menghitung cicak yang merayap, mencoba memindahkan pikirannya ke tempat lain ke masa kecilnya, ke ladang hijau, ke mana saja asal bukan di ranjang ini.
Saat Mansur akhirnya mengerang puas dan ambruk di sampingnya, bau keringat dan tembakau memenuhi seluruh ruangan. Lelaki itu segera mendengkur, membiarkan Marni terisak dalam diam, memeluk tubuhnya sendiri yang terasa kotor dan hancur.
Marni mengais sisa malam dan menangisi realitas yang pahit. Ia coba bangkit perlahan, kakinya terasa lemas dan perih. Ia berjalan menuju jendela kecil, membukanya sedikit untuk menghirup udara malam yang dingin. Di kejauhan, ia melihat lampu-lampu rumah penduduk desa yang mulai padam satu per satu.
Dunia luar tetap berjalan seperti biasa. Besok pagi, ia harus bangun lebih awal, memasak untuk Mansur suaminya, mencuci bajunya, melayani segala kebutuhannya dan menjadi "nyonya" di rumah besar yang akan ia tinggali bersama dua istri Mansur dan anak-anaknya, ya sebuah rumah yang dibangun dari air mata orang-orang miskin seperti keluarganya sendiri. Rumah hasil riba Mansur selama ini.
Ia tahu, di desa ini, nasibnya telah digariskan oleh tinta hitam di buku hutang bapaknya. Kebebasannya telah ditukar dengan selembar kuitansi lunas. Marni menatap bulan yang separuh tertutup awan, menyadari bahwa mulai malam ini, ia bukan lagi gadis perawan yang pintar dan berprestasi di sekolah, dirinya kini telah menjadi seorang wanita muda yang raganya ditawan oleh seorang pria tua yang lebih layak jadi kakeknya! Ia tak boleh benci, justru harus menyayangi!
Ia hanya bisa berharap, suatu hari nanti, angin dari gunung akan membawa pergi aroma melati yang kini terasa seperti bau bangkai impiannya sendiri!
Marni menahan isak, saat sentuhan bibir lelaki tiba-tiba datang mencium bahu indahnya dari arah belakang! "Kita lanjutkan lagi sayang, mas belum puas!". Tuhan tolong aku! Gumam Marni sambil memejamkan mata dalam-dalam sementara Mansur lanjut menggerayangi tubuhnya tanpa ampun!
---