Setiap sore setelah pulang sekolah, Rani sering mampir ke sebuah kafe kecil di dekat jalan utama. Kafe itu tidak terlalu besar, tetapi suasananya hangat. Aroma kopi selalu memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang datang merasa nyaman.
Di sana ada seorang pelayan kafe bernama Arga. Ia selalu menyambut pelanggan dengan ramah. “Selamat datang, silakan duduk,” katanya sambil tersenyum.
Awalnya Rani datang hanya untuk membeli minuman dan mengerjakan tugas sekolah. Namun lama-kelamaan, ia menyadari sesuatu. Setiap kali Arga mengantarkan pesanannya, ia selalu tersenyum dengan tulus. Pelayanannya sopan dan penuh perhatian.
Suatu hari Arga berkata, “Seperti biasa, es kopi susu, ya?”
Rani terkejut. Ternyata Arga mengingat pesanannya. Ia merasa senang sekaligus sedikit malu. Sejak saat itu, Rani semakin sering datang ke kafe tersebut.
Bukan hanya karena kopinya enak, tetapi karena suasana hangat dan pelayanan yang membuat hatinya merasa nyaman. Rani mulai menyadari bahwa perasaannya tumbuh perlahan—bukan hanya pada kafe itu, tetapi juga pada senyum ramah di balik meja kasir.
Bagi Rani, kafe kecil itu bukan sekadar tempat minum kopi. Di sana, ia menemukan cerita sederhana tentang perasaan yang tumbuh bersama aroma kopi dan pelayanan yang tulus