Waktu ku kecil papa sering bercerita tentang kisah putri dan pangeran. Papa bilang akan datang seorang pangeran yang akan membuatku bahagia. Baik itu di saat sedih ataupun senang.
Papa bilang, pangeran itu pasti akan selalu melindungiku. Tapi, ternyata Papa pergi, meninggalkan aku juga mama. Pergi kembali pada ….
“Melamun terus! Ngapain sih sendirian di sini?" Gea mengagetkanku saat aku Tengah asik duduk sendiri kemudian dia duduk di sebelahku.
“Gila! Untung aja gue jantung gue kuat. Kalau nggak pasti udah game over!” Ledekku sambil mengusap-ngusap dada.
“Habisnya gue liatin dari tadi lo ngelamun. Kenapa? Pasti nyokap lo lagi ya?“ tebak yang sudah melihat wajahku muram.
“Eum! Seperti biasa … dia keluar kota. Belum apa-apa dia udah bilang macam-macam, disuruh jaga rumah lah, kalau nyalain api jangan lupa dimatikan, periksa semua jendela sebelum tidur, Jangan lupa kunci pintu, dan … bla … bla … bla …,” ucapku terus menggerutu.
“Kalau begitu … seperti biasa, biar lo nggak kesepian … gimana malam ini gue nginap!” Usul Gea. Aku langsung mengangguk, menyetujuinya.
Nggak seberapa lama kami pun masuk kelas.
Sifat Mama memang Sedikit keras, kalau dibantah dia pasti langsung meledak-ledak, dan kadang berteriak dengan histeris.
Daripada berdebat aku lebih memilih diam agar tidak timbul hal-hal yang menyakitkan. Tapi, hebatnya Mama walaupun dia tahu kalau Papa hanya menjadikannya sebagai istri mudanya … Mama tetap sabar dan berusaha tegar.
Mama menyembunyikan kesedihannya. Padahal di saat seperti ini aku sangat kesepian. Dan … andai saja Papa bersamaku, pasti rasa sepi ini tidak begitu terasa.
Diam-diam, Aku selalu berpikir apakah saat ini papa masih merindukan kami? Merindukan keluarga kami yang sudah dia tinggalkan. Memikirkan itu saja, hatiku benar-benar sedih.
Sekarang, hal yang gak pernah aku bayangkan tiba-tiba muncul di depanku. Perasaan ini, sulit aku mengerti. Namun, aku tidak bisa mengabaikan bahwa baik aku dan mama benar-benar merindukan Papa.
“Sering banget sih lo ditinggal sendirian kayak begini … mmm … kalau gue pasti udah bunuh diri beberapa kali! Bokap lu ke mana sih? Kayaknya gue nggak pernah lihat. Setiap gue kesini … pasti bokap lo nggak ada ….”
Aku hanya tersenyum, teriris. Seperti biasa. Setiap kali dia bertanya hal yang sama.
“Jes, lo emangnya nggak pengen punya cowok? Gue liatin … selama di kampus gue nggak pernah lihat lo jalan bareng sama cowok. Gue yang kayak gini aja udah beberapa kali, masa lo yang punya sedikit tampang … malah? Emangnya tipe cowok lo kayak apa sih? Lama-lama gue kan penasaran juga …,” ucap Gea berceloteh di dalam kamar.
“Seperti pangeran impian gue!”
“Pangeran impian? Emangnya … pangeran impian yang ada di otak lo itu seperti apa sih?" Gea semakin penasaran.
“.... Seperti Pa-pa ….”
“Mmm … udah deh gue makin bingung. Soalnya papa lo itu pun gue nggak tahu. Percuma aja lo ngomong!”
Kami hampir kesiangan. Padahal quaker di kamar sudah disetel. Ini gara-gara kita asik ngobrol hampir pagi baru tidur. Jadilah semua yang dikerjakan secepat kilat, ya mandi, ya sarapan ….
Sudah 15 menitan Gea dan aku menunggu, akhirnya bis yang ditunggu datang dengan penumpang yang penuh sesak. Dengan terpaksa kami pun naik daripada telat.
Orang-orang yang tidak sabaran terus mendesak ku masuk ke dalam bis. Membuat wajah cemberut, menggerutu kesal dalam hati. Aku terjepit.
Tanpa sadar, cowok yang di hadapanku terus tersenyum melihat tingkah kesalku. Aku jadi kikuk sendiri, sampai aku merasakan seseorang mendorong tubuhku hampir terjatuh. Untungnya aku langsung memegang tangan cowok tadi.
Tangannya …, begitu hangat. Seperti tangan seseorang yang sangat kurindukan.
Mobil berhenti di depan kampus. Gea dan aku buru-buru turun lalu kami menyeberang. Aku terus menggerutu kesal di hadapan Gea atas peristiwa tadi.
“Udah sabar Jess, Orang sabar itu disayang mang Engkos, tuh mending elu ke sana aja. Tenangin hati lo biar nggak sewot lagi. Tapi, gue nggak bisa temenin ya soalnya kelas kita udah mau mulai. Dan ingat lo jangan lama-lama. Biar lo nggak telat masuk kelas!” Gea langsung melarikan diri.
Benar … mang Engkos! Hatiku pasti bisa tenang kalau melihat bunga yang segar. Aku menghampirinya untuk membeli sekuntum bunga mawar merah. Ini kebiasaanku.
Yang mana ya … pikirku.
Mataku terus mencari, aku merasa sreg, aku berniat mengambilnya … ternyata ada tangan lain yang akan meraih bunga pilihanku.
Aku menoleh. Mata kami saling bertatapan, lalu aku yang sadar bakal telat masuk kelas …
“.... Kalau elo emang suka buat lo aja tanda kumaha gue bisa cari lagi kok!” Ucapku langsung pergi ninggalin orang tadi, yang ternyata dia adalah orang yang berada di dalam bis.
Aneh … ngapain cowok itu ke sini? Jangan-jangan dia memang mengikutiku. Ih … apaan sih, kok aku jadi ke - GR - an kayak gini.
Gea melihatku masuk kelas. Minta maaf pada dosen yang mengajarkan karena terlambat lalu buru-buru duduk.
“Mana?”
“Apanya?”
“Rose - nya!”
“Oh … itu, gue nggak jadi beli, soalnya bunga yang gue pilih ternyata disukai orang juga ….”
“Tumben … Lo kasih! Biasanya sehari tanpa Rose lo udah kaya kebakaran jenggot, loh … ini?”
“Sssstt ….! Udah, ntar gue ceritain!”
Saat telah selesai. Di arena panjat tebing kampus terdengar suara bersorak-sorak cukup keras. Kami menghampirinya, penasaran.
Kulihat, seorang cowok dengan lihai sedang beradu tanding dengan anak panjat tebing. Dan di saku kantong celana belakangnya, ada bunga mawar yang dia selipkan.
Cowok itu memenangkan padu balap cepat. Dan dengan bangganya, Iya langsung menebarkan senyum pada setiap mahasiswa yang memberikan dukungan.
Aku tersenyum. Dia menatapku bingung, tapi se - nggak - nya Iya tahu bahwa ada sebuah gejolak yang sedang berkecamuk di hatiku.
Satu minggu berlalu
“AW … sakit!” Teriak aku saat bertabrakan di lorong kampung aku sedang membawa banyak buku yang sengaja dipinjam dari perpustakaan, dan buku-buku itu memang mengikuti mataku.
“Maaf!” Ucap orang itu, aku buru-buru menyusun kembali buku yang tadi berserakan.
“Makanya, kalau jalan pakai mata dong! Emangnya, mata lo buta dan kuping lo budek! Dari tadi gue kan udah bilang permisi, eh … ini masih aja ditabrak!” Gerutuku menggebu.
“Sekali lagi maaf, sini … biar gue bantu!” ucapnya.
“Gak usah! Gue bisa sendiri kok!” Jawabku kartu lalu ketika aku mencoba mengangkat buku-buku tadi, saat aku melihat orang yang ada di hadapanku … spontan, aku berteriak, “Ah ….” Dan buku-buku tadi kembali berjatuhan.
“.... E-lo? Ngapain lo disini?” Ucapku masih dengan nada setengah kaget sekaligus malu.
Orang tadi buru-buru membereskan kembali buku yang ku jatuhkan, dia mengangkatnya, lalu ….
“Gue, IGNA! Anak pindahan di kampus ini …,” foto cowok tinggi, tegap, dan tampan itu mengeluarkan tangannya padaku.
“IGNA? Kayak nama cewek aja!” Ucapku spontan sambil mengerutkan dahi.
“Nama lo siapa?” "tanyanya lagi, masih mengulurkan tangan.
“Oh … eh, gue … Jessie!”
“Nama yang bagus, se - manis orangnya ….”
“UPS! Sorry, kue telat, soalnya buku-buku ini ditungguin di kelas. Gue cabut dulu ya!” Ucapku mengambil buku-buku tadi dan meninggalkannya pergi.
Igna tampak tertegun melihat kepergianku. Saat pergi, aku sempat menengok sekali, aku lihat Igna terus menatapku. Seolah Ada yang ingin dia katakan … atau mungkin cuma perasaanku.
Tiba-tiba, di ban aku terlintas Semua ucapan papa, bahwa suatu hari nanti aku akan bertemu dengan pangeran impianku. Mungkinkah sekarang ini sedang terjadi?
Satu pasang sepatu pria ada di samping sepatu mamaku saat aku pulang. Mama sedang menerima tamu. Bukannya aku tidak mengharapkan Mama ada di rumah, tapi kalau berbicara dengan yang hanya di dalam kepala. Cara yang paling ampuh untuk menghindari pertengkaran ….
Pembicaraan mama, sayup-sayup ku dengar begitu gembira. Ada apa ya?
“Jes, kemari …,” panggil mama saat melihatku akan naik ke kamar. Aku menghampirinya. Kulihat di samping Mama ada seorang pria yang seusia dengannya.
“Dia, sudah besar! Cantik, sama seperti - mu dulu …,” ucap pria tadi saat melihatku ada di hadapannya. Aku hanya mengerutkan dahi.
“Jes, kamu masih ingat nggak ini siapa? Ayo, tebak …,” Mama menghampiriku, sambil tersenyum pada pria tadi. Aku cuma menggeleng.
“Ini … Papa! Papa - Mu ….” Mama terlihat bersemangat, lalu … “kamu senang kan. Mama bertemu papamu saat tugas mama kemarin. Mama benar-benar nggak pernah nyangka bisa ketemu dengan papamu lagi ….”
“Papa?” ucapku. Mama tersenyum mengangguk padaku.
“.... Ngapain dia ke sini? Apa dia sudah bosan dengan istrinya, makanya dia cari mama,” ucapku sini.
“Jess, Kenapa kamu sini seperti itu sih? Bukankah ….”
“Sinis?” Ucapan Mama langsung kepotong. “Mama tahu? Dia ini sudah ninggalin kita. Sekarang seenaknya dia datang. Apa Mama tidak, kalau dia itu sebenarnya sudah tidak pantas menginjakkan kakinya di sini. Aku membencinya Ma. Benar-benar membencinya!” Ucapku berteriak, histeris dan marah lalu pergi meninggalkan mereka.
“Jessie … tunggu, biar mama jelaskan dulu …,” Mama berteriak dan menyusulku.
Sebenarnya, saat aku berteriak seperti tadi hatiku menangis. Aku senang Papa kembali dengan mama, dan aku pun memang sangat merindukannya.
Aku ingin memeluk Papa ….
Aku tahu, tadi itu hanya pelampiasanku atas semua kesedihan yang selama ini aku pendam. Mama menjelaskan kepergian Papa dulu karena terpaksa.
Dia mengakui semua kesalahannya. Istri Papa yang pertama telah lama tiada. Sebenarnya, sudah sejak lama Papa mencari kami.
Penjelasan tadi sebenarnya belumlah cukup, tapi … aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku pun sangat merindukannya. Merindukan Papa diantara kami.
Papa berjanji, akan segera pindah dan tinggal bersama kami. Sementara itu, mereka akan mengurus pernikahannya lagi.
Beberapa bulan berlalu
“Jess, Hei … tunggu, tunggu!”
Aku berbalik. Dari arah parkiran kampus Igna sedang berlari ke arahku.
“Gea mana? Tumben sendiri!” Ucapnya dengan napas tersendat-sendat.
“Nggak masuk, sakit!”
“Oh mmm, Jess, e - Lo tunggu di sini ya … sebentar aja!” Ucapnya lalu Igna menghampiri mang Engkos. Setelah memilih salah satu mawar, dia kembali.
“Ini buat Lo!” Mata kami saling bertatapan, igna tampak sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya, “dan … yang ini juga ….” Hikmah memberikanku boneka teddy bear.
“Gimana? Lo suka nggak?” Tanyanya lagi masih menatapku yang tampak terkejut.
“Mm … suka! Thanks ya!” Tanpa sadar aku mencium pipinya. Wajah Igna memerah. Aku jadi malu sendiri. Aku sadar kalau hubungan kami ini belum ada sebuah ikatan, tapi baik aku ataupun igna sepertinya tahu. Kalau kami akan merasa bahagia bila bersama.
Meskipun, di antara kami belum pernah ada yang saling menyatakan perasaan masing-masing. Yang jelas bilang ataupun tidak Igna sudah tahu seluruh isi hatiku.
“Jess!”
“Eum!”
“Balik dari kampus entar, lo ikut gue ya!”
“Ke mana?”
“Ada deh … yang penting lu ikut aja dulu!”
“Oke, tapi baliknya Lo anterin gue ya!” Karena sekarang jadi kebiasaan sejak hubungan kami itu, Igna selalu mengantarkan aku pulang.
“Beres!”
Semua ucapan Papa seakan nyata. Gini Aku telah punya seseorang yang selalu ada di sisiku.
Pangeran impian yang selalu kuinginkan dan teddy bear ini akan terus kusimpan. Ini adalah barang yang paling berharga dan sangat spesial untukku.
Saat di jalan, Igna akhirnya bicara, setelah kupaksa tentunya.
Dia akan memperkenalkanku dengan orang tua dan adik perempuannya. Belum apa-apa, Aku sudah deg-degan duluan. Mudah-mudahan adiknya Igna suka denganku.
Tanganku terus dingin dan berdebar tanpa henti. Mungkin saja Igna tahu, tapi dia tidak mengatakannya.
“Ig, gue di sini aja, kayaknya gue belum siap deh …,” ucapku menolak masuk ke dalam rumahnya.
Igna terdiam sesaat lalu memandangi wajahku yang sudah terlihat pucat.
“Ya udah, kalau gitu gue cek ke dalam dulu ya. Apa mereka sudah siap ….” Aku manut saja, Igna masuk ke dalam rumah. Tidak berapa lama, dia keluar lagi.
“Sorry ya Jes, kayaknya hari ini lo nggak beruntung ketemu adik gue!”
“... Loh, emangnya kenapa?”
“Dia lagi ada janji sama temannya. Nggak pa - pa kan, kalau sekarang lo cuma gue kenalin sama Bonyok gue doang!”
“Gak, pa - pa!”
“Ya … udah! Ayo masuk!” Igna menggandeng tanganku masuk, lalu ….
“Pa, Ma … ini orangnya!” teriak Igna. Aku cuma menunduk. Dan … jantungku semakin berdetak dengan keras.
“Mana Ig, ajak dia kesini ….” Suara seorang pria dari dalam ruangan.
“Ini loh … Pa … namanya …,” belum sempat hikmah melanjutkan kata-katanya ….
“.... Jessie …,” ucap pria tadi. Aku mendongakkan kepala, dan … jantungku benar-benar berhenti mendadak, ketika kulihat dua orang yang berada di depanku.
Tiba-tiba mataku berkunang, dan …. Gelap ….
“Jess, E - Lo gak pa - pa …,” ucap Igna masih terlihat panik setelah melihat ku sadar dari pingsan.
“Jadi … ternyata, IGNA ….” Adalah kakak - ku dari istri pertama Papa yang sudah tiada.
Aku benar-benar tidak menyangka. Semua perasaan lenyap dalam hitungan detik.
Telepon Mama tadi adalah untuk memperkenalkanku dengan Igna.
Igna yang sama kagetnya denganku, tampak begitu terluka ….
Pantas saja aku selalu merasa nyaman dan terlindungi. Bersama dengan Igna, seperti bersama dengan papaku. Begitu hangat dan ….