Bukber yang Berujung Kekacauan
Setelah sukses (dan sedikit dimarahi Pak RT) saat bangunin sahur, Geng Sahur Terlambat punya rencana baru.
“Gimana kalau kita bukber bareng?” kata Siti.
Doni langsung semangat.
“Setuju! Aku sudah bayangin es teh dingin…”
Raka menambahkan, “Dan gorengan!”
Udin mengangkat tangan dramatis.
“Aku juga bawa makanan!”
Siti langsung curiga.
“Yang penting bukan permen lagi ya.”
Mereka sepakat bukber di taman dekat masjid. Masing-masing harus membawa makanan.
Sore harinya mereka datang sambil membawa kantong plastik besar.
Doni membuka bungkusan.
“Aku bawa pisang goreng!”
Raka bangga menunjukkan kotaknya.
“Aku bawa martabak mini!”
Siti tersenyum.
“Aku bawa kurma dan es buah.”
Semua menoleh ke Udin.
“Din, kamu bawa apa?”
Udin dengan percaya diri membuka plastiknya.
Isinya… mie instan mentah dan termos air panas.
Semua langsung diam.
“Din… ini bukber atau camping?” tanya Raka.
Udin santai.
“Tenang, kita bikin mie bareng! Hemat dan mengenyangkan.”
Doni menggeleng.
“Bukanya tinggal beberapa menit, kamu malah masak mie.”
Saat adzan hampir berkumandang, mereka sudah duduk siap.
“3… 2… 1…”
ADZAN MAGRIB
Mereka langsung minum dan makan kurma.
Namun tiba-tiba—
“PRANG!”
Termos air panas milik Udin jatuh dan airnya tumpah ke tanah.
Udin panik.
“MIENYA GIMANA?!”
Raka ketawa.
“Ya dimakan mentah saja sekalian.”
Siti menahan tawa.
“Din, orang bukber bawa makanan siap makan… bukan bahan masakan.”
Doni menepuk bahu Udin.
“Tenang, makan saja pisang gorengku.”
Udin akhirnya duduk sambil makan gorengan dengan wajah pasrah.
“Tahun depan,” katanya, “aku bawa makanan yang benar.”
Raka langsung menyela,
“Yang penting bukan permen dan bukan mie mentah.”
Semua tertawa sampai hampir tersedak.
Walaupun bukber mereka sedikit kacau, yang penting satu:
mereka berbuka bersama, penuh cerita lucu yang bakal diingat terus.