Operasi Bangunin Sahur
Setelah kejadian “permen mokel” yang memalukan itu, Udin jadi bahan ejekan Geng Sahur Terlambat. Tapi malam itu dia punya ide.
“Besok kita bangunin orang sahur keliling kampung, yuk!” kata Udin penuh semangat.
Doni mengangkat alis.
“Kamu mau tobat atau mau cari sarapan gratis?”
Raka langsung setuju. “Aku ikut! Tapi kita bawa apa buat bunyi-bunyian?”
Akhirnya mereka kumpul jam 03.00 pagi.
Peralatannya… sangat tidak profesional.
Doni bawa panci
Raka bawa sendok sayur
Udin bawa botol galon kosong
Siti cuma bawa senter (katanya biar kelihatan serius)
“Siap?” tanya Udin.
“SIAP!”
TANG! TANG! TANG!
“SAHUUUURRR… SAHUUURRR…!!”
Suara mereka menggema sepanjang gang. Beberapa lampu rumah mulai menyala.
Tiba-tiba dari dalam rumah ada bapak-bapak keluar.
“Terima kasih ya sudah bangunin sahur,” katanya.
Geng Sahur Terlambat langsung bangga.
“Tuh kan, kita membantu masyarakat,” bisik Raka.
Mereka lanjut keliling… sampai tiba di rumah Pak RT.
Udin paling semangat.
BRAK! BRAK! BRAK!
“SAHUUURRRR!”
Tiba-tiba pintu terbuka keras.
Pak RT keluar dengan rambut acak-acakan.
“Kalian tahu ini jam berapa?!”
Doni gugup. “Jam… sahur, Pak?”
Pak RT menunjuk jam dinding di teras.
02.15
Semua langsung diam.
Raka berbisik panik, “Din… kamu lihat jam yang benar nggak?”
Udin pelan menjawab, “Aku lihat jam… tapi itu jam microwave di dapur.”
Siti langsung menepuk dahi.
Pak RT akhirnya menghela napas.
“Ya sudah, sekalian saja saya bangun. Tapi besok lihat jam yang benar!”
Mereka semua minta maaf sambil menahan tawa.
Saat pulang, Doni berkata,
“Din… kalau kita terus ikut kamu, Ramadhan kita bakal penuh kejadian aneh.”
Raka mengangguk.
“Tapi jujur… ini seru.”
Udin nyengir.
“Yang penting kita bangunin sahur… bukan bangunin masalah.”
Siti langsung menyela,
“Masalahnya… kamu selalu jadi sumber masalah.”
Mereka pun tertawa sepanjang jalan pulang, sambil tetap memukul panci pelan-pelan.
“Sahur… sahur… tapi jangan jam dua lagi!”