Malam ketiga tiba dengan membawa beban yang berbeda pada jiwa Arya. Begitu matanya terpejam, ia tidak lagi menemukan gurun putih atau kota kuno Mekkah. Ia langsung dilemparkan ke dalam sebuah dimensi baru dengan kegelapan total yang hidup, sebuah kehampaan yang seolah memiliki massa dan menekan dadanya hingga setiap napas terasa seperti menghirup jelaga. Di sana, arah tidak lagi bermakna, hanya ada Arya dan kesunyian yang mengerikan.
Tiba-tiba, dari dalam kepekatan itu, muncul sesosok raksasa yang melampaui logika. Wajahnya adalah manifestasi kengerian, memancarkan aura kehancuran, dengan tangan bersisik yang menggenggam gada besi raksasa berkarat. Suaranya menggelegar seperti ledakan guntur dari segala sudut, menghantam kesadaran Arya.
"Akulah Tuhanmu!" raung sosok itu dengan keangkuhan yang memekakkan telinga. "Sembahlah aku sekarang juga di hadapanku, atau gada ini akan menghancurkan tulang-tulangmu hingga tak bersisa!"
Rasa dingin menjalar hingga ke tulang sumsum Arya. Meski insting kemanusiaannya berteriak untuk tunduk agar selamat, sebuah kekuatan bangkit dari relung jiwanya. Ia mendongak, menatap mata merah menyala raksasa itu, dan menjawab dengan suara bergetar namun tidak pecah, "Tuhanku hanya Allah."
Jawaban itu memicu amarah luar biasa hingga ruang hampa di sekeliling Arya berguncang. Ancaman itu datang berulang kali, namun kepasrahan Arya telah mencapai puncaknya, ia tetap pada jawabannya. Akhirnya, tanpa bicara lagi, gada besar itu melayang turun menuju kepalanya. Arya tidak memejamkan mata, ia melihat kematian datang menjemput. Saat hantaman itu terjadi, segalanya meledak dalam kegelapan yang menghapus seluruh keberadaannya.
Namun, kegelapan itu hanyalah sebuah pintu. Saat kesadarannya kembali, Arya mendapati dirinya di bawah langit merah saga yang sangat indah, sebuah wilayah barzakh yang suci. Empat sosok cahaya turun dengan pendar lembut, mengangkat tubuh Arya dengan penuh kasih sayang layaknya sebuah tandu surgawi.
Dari ketinggian, Arya melihat ribuan orang di bawah sana yang masih berjalan susah payah memikul beban berat yang tak terlihat namun terasa nyata penderitaannya. Di tanah gersang itu, mereka berjuang dalam langkah yang tertatih-tatih. Namun, berkat anugerah sosok cahaya itu, ia melintas dengan anggun di atas segala penderitaan tersebut. Perjalanan itu berakhir di sebuah gerbang megah yang ditutupi tanaman merambat hijau subur.
Begitu gerbang terbuka, Arya tertegun melihat padang rumput hijau murni yang tak bertepi, dipenuhi bunga warna-warni beraroma wangi yang seolah membersihkan segala dosa dari ingatannya. Pakaiannya telah berubah menjadi sutra putih yang halus dan sejuk. Di taman ini, fenomena ajaib terjadi, ingatan Arya tentang dunia nyata mulai menguap. Ia gagal mengingat nama jalannya, wajah keluarganya, bahkan identitasnya sendiri. Ia tidak merasa takut, tapi justru ia merasa utuh dan yakin bahwa inilah tempat seharusnya ia berada.
Seorang pria agung berjenggot putih muncul dengan langkah ringan, wajahnya memancarkan keteduhan meski Arya tak bisa melihatnya dengan jelas karena cahaya yang menyilaukan. Arya bertanya di mana mereka berada, namun pria itu hanya memberikan keheningan sebagai jawaban.
Teringat pada orang-orang yang menderita di luar gerbang, Arya bertanya dengan iba, "Kenapa mereka tidak dibiarkan masuk?" Pria itu tersenyum tipis dan menjawab lembut, "Mereka akan masuk suatu saat nanti. Setiap jiwa memiliki waktunya sendiri."
Pria itu kemudian meletakkan tangannya di pundak Arya dan berkata, "Anak muda, kamu harus kembali. Belum saatnya kamu menetap di sini."
Mendengar kata kembali, Arya dilanda kebingungan besar. Ia tidak tahu apa itu kembali karena baginya tidak ada tempat lain selain taman ini. Ia bersikeras untuk tinggal, namun sosok agung itu hanya berjanji akan menjaga tempatnya sampai saatnya tiba bagi Arya untuk kembali selamanya.
Arya kembali mencoba bertanya siapa namanya agar dia memiliki satu-satunya ingatan yang bisa di bawa pergi, namun pria itu tetap tidak menjawabnya. Saat Arya berusaha menatap wajahnya untuk yang terakhir kali, sebuah cahaya sangat terang muncul, memaksa Arya menutup mata. Seketika, rasa ringan itu hilang.
Arya membuka mata di tempat tidurnya saat pagi datang. Ia menangis tersedu-sedu, bukan karena takut, melainkan karena rindu yang luar biasa pada taman yang baru saja ia tinggalkan. Meski masih merasa bingung, Arya menyadari bahwa hidup ini adalah perjalanan pulang yang panjang, dan mimpi tiga malam itu telah memberinya gambaran, hingga tiba saatnya nanti gerbang itu akan terbuka kembali untuknya.