Malam berikutnya, tabir yang memisahkan dunia nyata dan alam mimpi kembali tersingkap bagi Arya. Tanpa ada transisi maupun keraguan, ia langsung mendapati dirinya berada kembali di tengah perjalanan itu. Rasanya seolah-olah waktu yang ia habiskan di dunia nyata setelah terbangun kemarin hanyalah sebuah kedipan mata yang tidak berarti.
Dalam mimpi kali ini, langkah Arya terasa jauh lebih berat. Ia merasa telah menempuh ribuan mil lagi sejak meninggalkan benteng batu di tengah gurun putih itu. Kaki telanjangnya mulai terbiasa dengan tekstur kerikil tajam dan debu halus yang menyelimuti permukaan tanah. Di cakrawala, pemandangan gurun yang hampa perlahan berganti menjadi sebuah lanskap yang lebih berstruktur.
Pandangan Arya akhirnya tertumbuk pada sebuah kota yang seolah dimunculkan dari lipatan waktu yang paling dalam. Begitu memasukinya, ia menyadari bahwa ini adalah pemukiman yang sangat lampau dan kuno, seolah peradaban modern belum pernah menyentuhnya sama sekali. Bangunan-bangunannya rendah dan bersahaja, namun memancarkan wibawa yang tak terlukiskan. Jalanan sempit yang berdebu berkelok di antara dinding rumah berwarna kecokelatan, dilewati oleh orang-orang dengan jubah panjang dan sorban khas zaman dahulu.
Tanpa perlu bertanya, sebuah intuisi mimpi yang kuat memberitahu Arya dengan pasti bahwa ini adalah Mekkah di zaman dahulu kala. Mekkah yang masih murni, pekat dengan aroma sejarah dan rahasia ilahi.
Namun, Arya merasakan ada sesuatu yang salah. Suasana kota itu terasa sepi, sunyi, dan mencekam. Di pusat kota, berdiri agung bangunan berbentuk kubus hitam. Ka'bah. Akan tetapi, Baitullah yang ia lihat sekarang tampak terisolasi dan dijaga sangat ketat, seolah manusia dilarang untuk mendekat.
Di sekeliling pelataran, berdiri barisan prajurit perang kuno bertubuh tegap dan besar. Mereka mengenakan pakaian tempur berat dengan pedang panjang yang telah terhunus, bilahnya berkilauan tajam dan tampak haus darah. Wajah mereka membeku, memancarkan peringatan mematikan bagi siapa pun yang berani melanggar batas.
Didorong oleh kerinduan yang tak tertahankan, Arya melangkah maju. Namun, baru beberapa langkah ia mendekati garis batas, salah satu prajurit menatapnya dengan sorot mata yang menghunus.
"Jangan berani mendekat!" suara mereka menggelegar serempak seperti guntur. Mulut mereka tidak bergerak, namun frekuensi suaranya bergetar hebat di dalam dada Arya hingga membuat tulang rusuknya ngilu. "Siapa pun yang lancang mendekati Baitullah ini akan dibunuh!"
Ketakutan luar biasa seketika melumpuhkan saraf tubuh Arya. Ia mematung, nyaris tak sanggup bernapas. Saat menoleh ke belakang, ia baru menyadari bahwa ribuan orang berpakaian putih yang bersamanya sejak dari gurun tadi juga ada di sana, berdiri dalam kerumunan besar dengan wajah dipenuhi keputusasaan. Barisan pedang terhunus itu telah mematahkan keberanian mereka.
Namun, di tengah cekaman itu, sesuatu yang lain mulai bangkit dari dalam diri Arya. Bukan keberanian manusiawi, melainkan sebuah dorongan absolut dari iman yang murni. Sebuah suara di hatinya berbisik: Apakah kau akan membiarkan pedang manusia menghalangimu bersujud kepada Penciptanya?
Keyakinan itu membakar rasa takutnya hingga menjadi abu. Dengan tangan yang tak lagi gemetar, Arya meraih ke sisi tubuhnya dan secara ajaib mendapati sebuah sajadah lusuh dari kain kasar. Perlahan, di bawah tatapan ribuan mata dan pedang yang siap menebas, ia menggelar sajadah itu tepat di atas tanah berdebu, hanya beberapa meter di depan para prajurit.
Arya berniat salat.
Prajurit di hadapannya mendengus geram dan mengangkat pedang raksasanya tinggi-tinggi. Arya bisa merasakan angin dingin dari logam pedang itu saat diayunkan, siap memisahkan kepalanya jika ia berani memulai takbir. Orang-orang di kejauhan terkesiap, banyak yang menutup mata.
Arya memejamkan mata dan menarik napas dalam, memenuhi paru-parunya dengan debu kota suci. Ia mengangkat kedua tangannya, membelakangi seluruh ketakutan dunia, dan mengucap dengan mantap, "Allahu Akbar."
Seketika, dunia seolah berhenti berputar bagi Arya. Ia tidak lagi mendengar suara gertakan senjata, melainkan masuk ke dalam ruang hening yang sangat dalam. Ia memulai rakaat pertama, ruku dengan pasrah, dan sujud meletakkan dahinya di atas debu Mekkah yang panas. Ia merasa jika pedang itu jatuh saat ia bersujud, itulah kematian paling indah yang bisa didapatkannya.
Dua rakaat berakhir. Arya melakukan tasyahud akhir dan mengakhirinya dengan salam.
Ia masih hidup.
Saat membuka mata, pemandangan di depannya telah berubah. Para prajurit menurunkan pedang mereka ke tanah. Prajurit yang tadinya paling garang melangkah maju dengan wajah yang melunak dan penuh rasa hormat.
"Kau berhasil," katanya dengan suara berat. "Kau telah melewati ujian keberanian yang hanya bisa dilewati oleh hati yang benar-benar berserah."
Kelegaan dan kebahagiaan hebat membanjiri seluruh sel tubuh Arya. Rasa takut dan keraguannya lenyap. Ia menyadari kebahagiaan ini terlalu besar untuk dinikmati sendiri. Arya berdiri dan menoleh ke arah kerumunan, mencari sosok paling berarti yaitu Ibunya.
"Ibu! Kemarilah!" teriak Arya dengan suara haru. "Jangan takut lagi! Prajurit ini tidak akan melukai siapa pun yang benar-benar ingin bersujud!"
Satu per satu, orang-orang mulai memberanikan diri. Ibunya berlari kecil ke arahnya dengan tangis pecah, memeluknya sebelum mereka bersama-sama menggelar sajadah di pelataran yang kini terasa damai. Ribuan orang lainnya mengikuti, mengubah pelataran yang tadinya mencekam menjadi lautan manusia yang bersimpuh dalam harmoni spiritual.
Hingga kemudian, pemandangan itu memudar dalam kabut putih yang lembut.
Arya terbangun tepat saat gema Azan Subuh berkumandang dari masjid di dekat rumahnya di Bekasi. Ia menyadari bantalnya basah oleh air mata yang mengalir di dunia nyata, sebuah reaksi atas kerinduan yang amat sangat pada apa yang baru saja ia alami.