Lantai marmer lobi hotel itu seolah bergetar saat langkah sepatu bot kulit buaya milik Adrian Mahendra menghentak masuk. Ia tidak berjalan; ia meluncur dengan aura yang menuntut penyembahan. Kacamata hitam seukuran jendela pesawat menutup matanya, meski saat itu jarum jam menunjukkan pukul dua pagi di dalam ruangan. Di belakangnya, tiga asisten berlari kecil—satu memegang kipas angin portabel, satu membawa *iced americano* dengan takaran sirup yang presisi, dan satu lagi sibuk menangkis tatapan staf hotel yang kelelahan.
"AC di set panasnya minta ampun. Saya tidak mau keluar dari *trailer* kalau suhunya tidak di bawah 16 derajat," geram Adrian tanpa menoleh. Suaranya berat, penuh bariton yang sengaja dibuat-buat agar terdengar karismatik, meski yang keluar hanyalah keluhan manja.
Adrian adalah "Anak Emas" industri perfilman tanah air saat itu. Wajahnya ada di setiap papan reklame dari Sabang sampai Merauke. Namun, seiring dengan meroketnya angka pengikut di Instagram, merosot pula adab yang ia miliki. Di lokasi syuting film terbarunya, *Lentera di Ujung Senja*, Adrian adalah diktator kecil. Ia pernah melempar naskah ke wajah sutradara muda hanya karena dialognya dianggap "terlalu kampungan" untuk level aktor internasional sepertinya. Ia sering datang terlambat lima jam, membuat ratusan kru dan aktor senior menunggu di bawah terik matahari tanpa sepatah kata maaf.
"Mas Adrian, kita sudah siap untuk adegan *climax*," bisik Rina, seorang *talent coordinator* yang baru bekerja dua bulan. Wajahnya pucat, kurang tidur.
Adrian menurunkan kacamatanya sedikit, menatap Rina seolah gadis itu adalah serangga yang mengganggu pemandangan. "Kamu lihat saya sedang apa? Saya sedang membangun emosi. Kalau saya keluar sekarang dan akting saya hambar, itu salah kamu. Paham?"
Padahal, Adrian hanya sedang bermain *game* di ponselnya.
Sikap *star syndrome* Adrian mencapai puncaknya saat ia menghina seorang ibu kantin di lokasi syuting. Gara-garanya sepele: sambal yang disajikan terlalu pedas bagi lidahnya yang "sensitif". Ia menumpahkan piring nasi itu ke lantai dan menyuruh ibu tua itu memungutnya dengan tangan kosong sambil memaki-maki tentang kelas sosial. Tidak ada yang berani melawan. Adrian adalah nyawa film itu. Jika ia mundur, produksi bangkrut.
Namun, roda nasib tidak pernah berhenti berputar pada satu titik yang sama.
Malam itu, sebuah video amatir berdurasi 30 detik muncul di akun gosip paling berpengaruh. Kualitasnya buram, diambil dari sudut tersembunyi. Di sana terlihat jelas Adrian sedang memaki seorang asistennya, menyebutnya "sampah tak berguna" dan diakhiri dengan sebuah tamparan keras. Tak butuh waktu lama, video-video lain bermunculan seperti jamur di musim hujan. Testimoni dari mantan kru, supir, hingga sesama artis mulai membanjiri lini masa. Tagar #CancelAdrian menjadi *trending topic* nomor satu selama tiga hari berturut-turut.
Dalam sekejap, citra "pria idaman" itu runtuh. Kontrak iklan diputus secara sepihak. Produksi film *Lentera di Ujung Senja* dihentikan karena investor menarik diri akibat boikot massal. Adrian yang biasanya dikelilingi kerumunan, kini menemukan dirinya duduk sendirian di apartemen mewahnya yang mendadak terasa seperti penjara bawah tanah. Asisten-asistennya menghilang. Manajernya tidak mengangkat telepon.
Setahun berlalu, Adrian Mahendra hanyalah nama yang sesekali muncul dalam kuis "Artis Mana yang Paling Cepat Redup?". Uang simpanannya terkuras untuk membayar denda pinalti kontrak. Ia terpaksa menjual mobil-mobil mewahnya dan pindah ke sebuah rumah kecil di pinggiran kota, jauh dari gemerlap Jakarta.
Suatu sore, seorang pria paruh baya mengetuk pintunya. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Pak Baskoro, seorang sutradara indie yang dikenal idealis namun misterius.
"Saya punya satu naskah. Ini film tentang seorang pria yang kehilangan segalanya karena kesombongannya. Saya ingin kamu yang memainkannya, Adrian," ujar Baskoro tenang.
Adrian, yang sudah sangat rindu pada sorot lampu kamera, menerima tawaran itu tanpa pikir panjang. Ia tidak peduli meski bayarannya kecil. Ia ingin membuktikan bahwa ia masih "Sang Aktor".
Proses syuting dilakukan di sebuah gudang tua yang terisolasi. Kru-nya sangat sedikit, dan semuanya memakai masker penutup wajah yang rapat. Baskoro sangat menuntut. Adrian diminta beradegan menangis di lantai yang kotor, memakan sisa makanan, hingga dicaci maki oleh aktor lawan mainnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Adrian benar-benar "berakting" dengan jiwanya. Ia merasakan sakitnya menjadi orang kecil. Ia merasa ini adalah karya terbaiknya, jalan kembali menuju panggung Oscar.
"Bagus sekali, Adrian. Adegan terakhir adalah kamu memohon ampun di depan kamera, lalu layar akan menjadi hitam," instruksi Baskoro dengan nada dingin.
Adrian melakukannya dengan sempurna. Air matanya asli. Kehancurannya nyata. Setelah Baskoro meneriakkan kata "Cut!", Adrian berdiri, menunggu pujian atau tepukan tangan yang biasa ia terima dulu.
Namun, suasana hening. Baskoro mendekat, perlahan membuka maskernya. Adrian tersentak. Wajah di balik masker itu adalah wajah anak muda yang pernah ia lempar naskahnya setahun lalu. Dan kru lainnya? Mereka membuka masker satu per satu. Ada ibu kantin yang pernah ia hina, ada asisten yang ia tampar, dan ada Rina, sang koordinator lapangan.
"Film ini tidak akan pernah tayang di bioskop, Adrian," kata Baskoro sambil tersenyum tipis.
"Maksudmu apa? Kita sudah syuting sebulan penuh!" teriak Adrian panik.
Baskoro mengangkat sebuah *hard drive*. "Ini bukan film fiksi. Semua yang kamu lakukan di sini—kehinaanmu, tangisanmu, caramu memohon ampun—akan kami jadikan dokumenter nyata tentang 'Karma Seorang Bintang'. Kami tidak butuh aktingmu. Kami hanya butuh bukti bahwa kamu akhirnya merasakan apa yang kami rasakan. Seluruh dunia akan melihat betapa hancurnya kamu sekarang, bukan sebagai aktor, tapi sebagai manusia yang kalah."
"Kalian menjebakku?" suara Adrian mencicit.
"Kami hanya memberikan panggung terakhir yang layak untukmu," jawab Rina dingin.
Mereka semua pergi meninggalkan gudang itu, mematikan lampu satu per satu hingga Adrian tertinggal dalam kegelapan total. Tidak ada lagi asisten, tidak ada lagi kamera, tidak ada lagi pengagum. Hanya ada Adrian Mahendra, yang kini menyadari bahwa dalam naskah kehidupan, tidak ada yang benar-benar bisa menjadi sutradara selain waktu itu sendiri.
---