Malam di pinggiran Jakarta biasanya riuh, namun bagi Pak Kirman, aspal hitam di depannya terasa lebih bisu dari biasanya. Lampu neon putih yang mencuat dari atap gerobak martabaknya berkedip-kedip tidak stabil, seolah sedang sekarat, memantulkan cahaya pucat ke atas loyang besi tebal yang masih bersih tanpa olesan mentega. Aroma margarin yang biasanya menggoda selera, malam ini hanya menguap sia-sia, kalah telak oleh udara dingin sisa hujan sore tadi. Pak Kirman membetulkan letak peci lusuhnya yang sudah mulai berubah warna karena keringat dan minyak. Ia melirik jam tangan digital murah di pergelangan kirinya. Pukul sembilan malam. Di bulan Ramadan seperti ini, seharusnya ini adalah jam-jam emas saat orang-orang pulang dari salat Tarawih dan mencari kudapan manis untuk teman berbincang di teras rumah. Namun, deretan plastik bungkus martabak di raknya masih utuh, tersusun rapi seperti barisan nisan yang meratapi nasibnya sendiri.
Pikirannya melayang ke rumah kontrakan petak yang atapnya bocor di tiga titik. Di sana, istrinya, Siti, pasti sedang menghitung sisa uang belanja yang mungkin hanya cukup untuk membeli tempe dan kangkung esok pagi. Belum lagi si bungsu, bayangan wajahnya yang memelas saat melihat iklan baju Lebaran di televisi tadi sore membuat ulu hati Pak Kirman serasa diremas. "Bapak, nanti kalau Lebaran, adek boleh punya sepatu lampu yang kalau dipijak nyala merah?" tanya bocah itu polos. Pak Kirman hanya bisa mengelus kepala anaknya sambil menjanjikan doa, sebuah janji yang rasanya kian hari kian berat untuk dipikul. Kebutuhan mendesak terus mengepungnya dari segala penjuru; tunggakan listrik dua bulan, uang kontrakan yang sudah ditagih pemiliknya dengan nada ketus, hingga cicilan motor tua yang ia gunakan untuk menarik gerobak ini. Semua menuntut untuk dibayar, sementara loyang martabaknya tetap dingin dan bisu.
Ia mencoba menyalakan kompor, sekadar memanaskan loyang agar terlihat "sibuk" di mata orang yang lewat. Api biru menjilat dasar besi, menimbulkan suara desis yang hambar. Pak Kirman mengambil serbet, mengelap bagian gerobak yang sebenarnya sudah sangat bersih. Ia hanya ingin mengalihkan rasa cemas yang mulai berubah menjadi keputusasaan yang gelap. Satu-dua motor lewat dengan kecepatan tinggi, menghempaskan angin dingin ke wajahnya yang mulai keriput. Tak satu pun yang menoleh, apalagi berhenti. Padahal, martabak manis buatannya adalah resep turun-temurun, dengan adonan yang lembut dan topping yang tak pelit. Namun, apa gunanya keahlian jika dunia seolah sepakat untuk memalingkan muka? Ia mulai menghitung sisa adonan di dalam ember plastik. Jika malam ini tidak habis, besok adonan itu akan masam dan ia harus membuangnya. Itu artinya, kerugian lagi. Air mata hampir saja meluncur dari sudut matanya, namun ia segera mengusapnya dengan punggung tangan yang kasar. "Sabar, Kirman. Allah tidak tidur," bisiknya, meski suaranya sendiri terdengar ragu di telinganya.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Harapan Pak Kirman sudah berada di titik nadir. Ia mulai berkemas, melipat kursi plastik kecil tempatnya biasa duduk menunggu keajaiban. Ia merasa gagal. Gagal sebagai suami, gagal sebagai ayah, dan gagal sebagai manusia yang berusaha menjemput rezeki di bulan yang katanya penuh berkah ini. Di tengah rasa sesak yang menghimpit dada, sebuah mobil SUV hitam mewah perlahan menepi tepat di depan gerobaknya. Cahaya lampu depannya yang terang benderang sempat menyilaukan mata Pak Kirman. Seorang pemuda turun dengan langkah energik, mengenakan jaket *oversize* dan topi yang dibalik ke belakang. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel yang terpasang pada *stabilizer* canggih, sementara seorang pria lain di belakangnya tampak memanggul kamera besar dengan lampu yang menyala terang.
"Halo semuanya! Masih di *vlog* gue, dan malam ini, di saat orang-orang sudah mulai istirahat, gue ketemu sama satu pahlawan keluarga yang masih berjuang di pinggir jalan," ujar pemuda itu bicara ke arah kamera dengan nada yang sangat bersemangat. Ia kemudian mendekati gerobak Pak Kirman yang tampak kaget dan bingung. "Halo Pak! Dengan Bapak siapa? Kok jam segini masih buka? Dagangannya masih banyak ya?" tanya pemuda itu ramah, menyodorkan sebuah mik kecil ke arah Pak Kirman. Dengan suara bergetar, Pak Kirman menjawab, "Nama saya Kirman, Mas. Iya, hari ini sepi sekali... mungkin belum rezekinya." Pemuda itu, yang ternyata adalah seorang vlogger terkenal dengan jutaan pengikut, tersenyum lebar. Ia melihat ke arah deretan bahan-bahan martabak dan ember adonan yang masih penuh. "Pak, saya punya tantangan buat Bapak. Gimana kalau malam ini, semua martabak Bapak, saya borong habis? Semuanya! Bapak masak sampai adonannya habis, nanti saya bayar sepuluh kali lipat dari harga aslinya. Setuju?"
Pak Kirman tertegun. Ia merasa seperti sedang bermimpi di tengah siang bolong yang terik, padahal ini malam yang dingin. Sepuluh kali lipat? Semua diborong? "Mas... Mas serius? Ini banyak sekali, Mas," katanya terbata-bata. Sang vlogger tertawa kecil sambil menepuk bahu Pak Kirman. "Serius, Pak. Tapi ada syaratnya. Bapak jangan pulang dulu setelah masak. Martabak-martabak ini nanti kita bagi-bagikan ke orang-orang yang masih kerja malam di sekitar sini, ke ojek online, pemulung, atau siapa pun yang lewat. Gimana?" Air mata yang tadi ia tahan-tahan kini benar-benar tumpah. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang meluap-luap hingga tak tertampung oleh raga tuanya. Pak Kirman mengangguk mantap, lalu dengan semangat yang baru, ia mulai menuangkan adonan ke atas loyang yang kini sudah panas sempurna. Suara desis adonan yang menyentuh besi terdengar seperti simfoni kemenangan bagi telinganya.
Selama dua jam berikutnya, Pak Kirman bekerja tanpa lelah. Tangannya yang terampil mengoles mentega, menabur meses, kacang, dan keju dengan royal. Sang vlogger terus mendokumentasikan setiap gerakan Pak Kirman, menceritakan kisah perjuangan pria tua itu kepada penontonnya di dunia maya. Satu demi satu martabak dipotong, dikemas dalam kotak, dan langsung dibagikan oleh tim vlogger tersebut kepada para pengemudi ojek yang kebetulan lewat dan tampak kelelahan. Wajah-wajah lelah di jalanan itu mendadak cerah saat menerima sekotak martabak hangat. Pak Kirman melihat semua itu dengan hati yang bergetar. Ia baru sadar bahwa rezeki yang ia dapatkan malam ini bukan hanya soal uang untuk membayar kontrakan atau membeli sepatu lampu untuk anaknya, tapi juga soal menjadi saluran kebahagiaan bagi orang lain.
Saat adonan terakhir habis, sang vlogger mendekati Pak Kirman dan menyerahkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal. "Ini sesuai janji saya, Pak. Semoga ini bisa bantu Lebaran Bapak dan keluarga di rumah. Terima kasih sudah tetap sabar dan tidak menyerah malam ini," ucapnya tulus sebelum akhirnya berpamitan dan menghilang di balik kegelapan malam dengan mobil mewahnya. Pak Kirman berdiri mematung di samping gerobaknya yang kini benar-benar kosong. Ia membuka sedikit amplop itu dan melihat lembaran uang berwarna merah yang tersusun rapi. Jumlahnya jauh lebih banyak dari yang ia bayangkan. Ia langsung bersimpuh di samping gerobaknya, mencium bumi dengan isak tangis yang pecah dalam kesunyian malam. Di atas sana, bulan sabit Ramadan tampak bersinar lembut, seolah tersenyum menyaksikan seorang hamba yang baru saja melewati ujian kesabaran paling berat dalam hidupnya. Malam itu, Pak Kirman pulang dengan langkah ringan, membawa lebih dari sekadar uang; ia membawa kembali harapan yang sempat hilang di antara dinginnya aspal jalanan.
---