Malam itu, Bandung seolah merunduk di bawah selimut kabut yang tebal. Di Jalan Cipaganti, deretan pohon damar berdiri kaku seperti barisan nisan raksasa yang menjaga rahasia masa lalu. Bagi Rini, rumah bergaya kolonial itu awalnya adalah sebuah anugerah—warisan dari garis keturunan jauh yang memungkinkannya menyelesaikan skripsi dengan tenang, jauh dari hiruk-pukuk kos-kosan mahasiswa yang sumpek.
Namun, ketenangan itu ternyata hanya kulit luar yang menipu.
Rumah itu—Huize de Rozentuin—masih berdiri megah dengan jendela-jendela tinggi berdaun ganda dan lantai tegel bermotif geometris warna terakota yang dingin. Bau kayu tua yang lembap beradu dengan sisa-sisa wangi melati yang entah datang dari mana, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada.
Rini duduk di meja jati besar di ruang tengah. Lampu gantung kristal di atasnya bergetar pelan, padahal tidak ada angin.
"Hanya perasaanmu saja, Rin," bisiknya pada diri sendiri, mencoba membenamkan wajah pada tumpukan literatur kedokteran. Sebagai calon dokter, ia dididik untuk percaya pada logika. Namun, logika tidak bisa menjelaskan mengapa suhu di ruangan itu tiba-tiba merosot tajam hingga ia bisa melihat uap napasnya sendiri di udara.
---
Gangguan itu dimulai tepat saat jam dinding kayu besar di ruang tamu berdentang sebelas kali. Suaranya berat, bergema di setiap sudut plafon yang tinggi.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah sepatu pantofel di atas lantai tegel. Kedengarannya berat dan berwibawa, datang dari arah koridor panjang yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur belakang. Rini menegang. Ia tahu benar ia sendirian. Pintu depan sudah dikunci rapat, gerbang besi di luar pun digembok.
Ia memberanikan diri menoleh. Koridor itu gelap gulita, namun di bawah temaram lampu meja, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Di atas debu tipis lantai koridor, tampak jejak-jejak samar yang terbentuk satu demi satu. Tak ada kaki yang terlihat, hanya tekanan pada debu yang bergerak maju menuju arahnya.
Tap. Jejak itu berhenti tepat di batas cahaya lampu mejanya.
Rini tidak berani bernapas. Ia merasakan kehadiran yang dingin, sebuah tatapan yang intens dan penuh kebencian dari kegelapan. Tiba-tiba, sebuah buku anatomi di ujung mejanya tergeser pelan, seolah ada tangan tak kasat mata yang sedang membelainya.
---
Rini melarikan diri ke kamar tidurnya di lantai dua, berharap pintu kayu jati yang tebal bisa melindunginya. Ia meringkuk di bawah selimut, telinganya menangkap setiap bunyi sekecil apa pun.
Tepat pukul dua belas, kesunyian itu pecah oleh suara musik.
Itu adalah denting piano. Lemah, namun jernih. Melodi *Für Elise* dimainkan dengan tempo yang sangat lambat, hampir menyerupai rintihan. Masalahnya, tidak ada piano di rumah itu. Satu-satunya piano tua di ruang bawah sudah dipindahkan ke gudang luar sejak sepuluh tahun lalu.
Suara itu berpindah. Sekarang bukan lagi dari bawah, melainkan dari balik dinding kamarnya. Rini menempelkan telinga ke dinding kayu. Di balik sana, ia mendengar suara isak tangis seorang wanita. Isakan yang tersedat-sedat, diikuti oleh gumaman dalam bahasa Belanda yang kaku.
"Waarom heb je me verlaten? Waarom?"(Mengapa kau meninggalkanku? Mengapa?)
Tiba-tiba, suara tangis itu berubah menjadi tawa melengking yang menyayat telinga. Pintu lemari pakaian Rini yang besar dan antik itu terbuka perlahan dengan bunyi derit yang panjang. Dari sela-sela gantungan baju, Rini melihat sepasang mata merah yang menatapnya dengan rasa lapar yang purba.
---
Ketakutan Rini mencapai puncaknya saat ia mendengar suara keributan dari ruang makan di bawah. Suara piring-piring berdenting, tawa riuh rendah, dan aroma masakan bistik yang menyengat—tapi bercampur dengan bau bangkai yang busuk.
Seolah terhipnotis, Rini melangkah keluar kamar. Ia berdiri di balkon lantai dua, memandang ke bawah ke arah ruang makan.
Pemandangan di bawah sana adalah sebuah kegilaan. Kursi-kursi yang tadinya kosong kini terisi oleh sosok-sosok samar berwarna abu-abu kebiruan. Mereka berpakaian pesta ala tahun 1930-an. Namun, wajah-wajah mereka hancur. Ada yang rahangnya bergantung lepas, ada yang rongga matanya kosong mengeluarkan cairan hitam.
Di kepala meja, duduk seorang pria tinggi dengan seragam militer Belanda yang compang-camping. Dadanya berlubang besar, bekas tembakan yang masih tampak basah. Pria itu mendongak, matanya yang mati terkunci pada Rini.
Ia mengangkat gelas kristalnya yang berisi cairan merah kental.
"Welkom, meisje. Kom bij ons."(Selamat datang, Nak. Bergabunglah dengan kami.)
Lampu kristal di atas mereka tiba-tiba berguncang hebat, jatuh menghantam meja makan dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Ruangan itu seketika menjadi gelap total.
---
Saat sinar matahari pertama menembus jendela kaca patri, Rini ditemukan jatuh pingsan di depan pintu kamarnya. Ketika ia sadar, rumah itu kembali sunyi. Tidak ada jejak kaki di debu, tidak ada aroma bistik, dan piano itu tetap terkunci di gudang.
Namun, saat ia bercermin untuk mencuci muka, ia menjerit tertahan. Di lehernya yang pucat, terdapat bekas cengkeraman tangan yang membiru, dan di atas meja belajarnya, sebuah pesan tertulis di atas debu dengan tulisan tangan yang miring dan kuno:
"Tot ziens, Rini. We wachten op je."(Sampai jumpa, Rini. Kami menunggumu.)
Rini menyadari satu hal: rumah ini tidak menginginkannya pergi. Rumah ini menginginkannya untuk tetap tinggal... selamanya.
---