Langkah kaki Arya terasa berat saat menyusuri hamparan pasir putih yang seolah tak bertepi. Sejauh matanya memandang, hanya ada warna putih murni yang menyilaukan, sebuah bentang alam yang membakar indra penglihatannya. Di atas sana, matahari berdiri tegak lurus, memancarkan panas menyengat yang terasa hanya beberapa jengkal dari puncak kepalanya.
Namun, sebuah keganjilan merayap di akal sehatnya. Meski hawa panas terasa menguliti permukaan kulit, tubuh Arya tidak mengeluarkan setetes pun keringat. Pori-porinya kering, napasnya berat namun tetap stabil. Rasa haus yang seharusnya mencekik justru berganti menjadi sebuah keteguhan yang aneh di dalam dadanya. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan, baginya waktu bukan lagi detak jam yang linear, melainkan keabadian yang statis.
Kesadaran Arya terasa mengawang, terputus dari realitas kehidupan yang bising. Ia merasa terdampar di ambang batas antara jaga dan tidur, di sebuah wilayah pelataran menuju sesuatu yang lebih besar. Pakaian yang melekat di tubuhnya hanyalah selembar kain putih sederhana tanpa jahitan, serupa dengan yang dikenakan oleh ribuan orang di sekelilingnya.
Mereka tampak seperti sungai manusia yang mengalir pelan di atas lautan pasir dalam keheningan yang absolut. Tidak ada perbincangan, tidak ada keluh kesah, bahkan tidak ada suara gesekan kain. Hanya ada irama langkah kaki yang lembut srek, srek, srek sebuah prosesi panjang yang terasa sakral sekaligus misterius bagi Arya.
Arya memperhatikan wajah-wajah di sekitarnya. Mereka tampak lelah dengan guratan dahi yang menceritakan perjalanan ribuan mil melintasi ruang dan waktu. Namun, di balik kelelahan itu, ia menangkap pancaran ketenangan yang dalam. Mata mereka menatap lurus ke cakrawala dengan keyakinan tak tergoyahkan, seolah telah dijanjikan sebuah tujuan pasti di ujung jalan. Mereka semua bergerak seperti satu jiwa, ditarik oleh magnet yang sama menuju titik yang belum terlihat.
Gurun ini berbeda dari apa pun yang pernah Arya baca dalam buku geografi. Tidak ada kaktus, tidak ada fatamorgana, bahkan tidak ada angin yang menerbangkan debu. Hanya ada pasir putih bersih di bawah langit biru pekat yang nyaris tampak hitam di puncaknya karena saking bersihnya udara di sana. Keheningan itu seolah-olah sedang menghakimi setiap pikiran yang muncul di kepala Arya.
Setelah perjalanan yang terasa seperti ribuan tahun dalam satu tarikan napas, sebuah siluet mulai terbentuk di kejauhan. Awalnya hanya berupa titik gelap, namun semakin ia melangkah, bentuknya semakin jelas. Itu bukan gedung modern, melainkan sebuah struktur kuno. Benteng raksasa dari batu-batu besar yang dipahat kasar. Bangunan itu berdiri kokoh sendirian, menantang kehampaan gurun dengan dinding tinggi yang seolah ingin menyentuh langit.
Blok-blok batu raksasa itu tampak kusam oleh gesekan waktu, namun tetap memancarkan kesan tangguh yang menyimpan ribuan tahun sejarah tak tertulis. Kekuatannya terletak pada kesederhanaan purba, sebuah monumen tentang ketahanan.
Rombongan itu akhirnya melambat dan berhenti tepat di hadapan gerbang batu yang menganga lebar. Tanpa ada komando suara, Arya dan ribuan orang lainnya secara kolektif mengerti bahwa bangunan ini adalah tempat persembunyian, sebuah oase tanpa air untuk melindungi jiwa-jiwa yang letih.
Begitu ia melangkah masuk, suhu udara berubah drastis. Bayangan dinding batu menghalau panas menyengat, menggantikannya dengan kesejukan yang meresap hingga ke tulang. Arya berjalan menyusuri lorong-lorong batu yang dingin, jemarinya meraba permukaan dinding yang kasar. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah ini tempat persinggahan para nabi, ataukah sebuah barzakh bagi mereka yang mencari jalan pulang?
Ada rasa aman yang aneh di sana. Batu-batu tebal itu seolah berbisik ke sukmanya bahwa perjalanan masih jauh, dan ini hanyalah persinggahan sementara sebelum ujian sesungguhnya dimulai. Arya menaiki anak tangga batu yang curam dan berdiri di bagian yang lebih tinggi. Dari sana, ia menatap kembali ke padang pasir putih yang baru saja mereka lalui, kilauan pasir di bawah matahari yang tampak tenang namun mematikan.
Saat ia membiarkan angin dingin menerpa wajahnya, pikiran Arya mulai menerawang tentang apa yang menanti setelah fajar menyingsing. Keheningan benteng menyelimutinya seperti selimut berat, hingga kesadarannya perlahan larut ke dalam kegelapan yang tenang.
Tiba-tiba, dunia itu retak.
Arya terbangun di kamarnya dengan napas tersengal dan dada yang naik turun dengan cepat. Kamar itu terasa asing, dingin, dan gelap. Sangat kontras dengan panas gurun yang baru saja ia tinggalkan. Jendela masih tertutup rapat, menghalau suara malam yang sunyi. Ia melirik jam dinding masih pukul 03:15 pagi.
Jantungnya masih berdegup kencang seolah baru saja berlari maraton di atas pasir. Baginya, mimpi itu bukan sekadar bayangan lewat. Ia mencoba memejamkan mata lagi, memohon agar bisa kembali ke benteng itu, namun pintu bangunan tua itu seolah telah terkunci. Ia menetap di ujung ingatan Arya, menuntut penjelasan yang lebih dalam dari sekadar bunga tidur.