Bau kertas ujian yang baru dibuka selalu bikin perut mual, apalagi ditambah suasana kelas yang mendadak sunyi banget. Suara pensil yang bergesekan dengan kertas terdengar hampir serempak dari seluruh meja. Alana bolak-balik ngelirik jam dinding. Tiap detiknya berasa kayak lagi ngejar-ngejar dari belakang
Alana duduk tepat di belakang Gavin.
Punggung cowok itu lurus dan tenang. Tangannya bergerak stabil mengarsir lembar jawaban. Tidak ada gerakan ragu, tidak ada jeda lama.
Seolah tiga puluh soal olimpiade fisika di depan mereka hanyalah latihan biasa.
Menyebalkan.
Alana memaksa matanya kembali ke kertasnya sendiri. Isi otak Alana udah berantakan. Rumus sama angka mendadak campur aduk gak karuan, bikin pusing sendiri. Ia melirik jam sekali lagi.
Tinggal sepuluh menit.
Ucapan Gavin kemarin tiba-tiba muncul lagi di pikirannya.
Jangan bikin gue kecewa.
Alana menekan pensil lebih kuat sampai ujung grafiknya hampir patah.
Siapa juga yang minta dia peduli.
Bel tanda selesai akhirnya berbunyi nyaring. Kursi-kursi langsung bergeser, disusul suara keluhan pelan dari beberapa siswa.
Anak-anak langsung ribut. Ada yang mukanya udah ditekuk sampai ke bawah, ada juga yang sombong banget pamer jawaban di depan kelas.
Alana tidak langsung berdiri.
Satu soal masih mengganjal di kepalanya. Nomor tiga puluh.
Ia akhirnya bangkit, memasukkan alat tulis ke dalam tas dengan cepat, lalu keluar kelas sebelum pikirannya makin dipenuhi keraguan.
Tujuannya hanya satu.
Perpustakaan.
Tempat itu hampir kosong saat ia masuk. Perpus lagi sepi-sepinya, cuma kedengeran suara gesekan sepatu yang sengaja Alana pelanin supaya nggak narik perhatian.
Suara AC perpus yang mendengung malah bikin kepala Alana makin berdenyut.Alana berjalan menuju rak referensi di bagian belakang.
Langkahnya tiba-tiba berhenti.
Gavin sudah ada di sana.
Cowok itu duduk santai di dekat jendela dengan buku fisika tebal terbuka di tangannya. Gavin keliatan santai banget buka-buka buku tebalnya, beda jauh sama Alana yang udah mau meledak.
Alana menatapnya sebentar lalu mengalihkan pandangan.
Serius banget.
Ia mengambil buku yang ia butuhkan dari rak dan duduk di meja lain yang agak jauh. Tanpa menyapa, tanpa menoleh lagi.
Halaman buku dibuka cepat.
Alana langsung buka bab yang dia cari, matanya bolak-balik nyari angka yang pas sama jawaban soal tadi.Matanya berhenti pada bagian solusi soal yang ia cari.
Alana membaca sekali.
Lalu sekali lagi.
Alana langsung lemes. Ternyata bener, jawabannya meleset dikit. Tetep aja artinya Alana salah.
Alana nenggelamin mukanya ke lipatan tangan.
Begadang semalaman terasa seperti usaha yang sia-sia.
Langkah kaki terdengar mendekat di lantai perpustakaan yang sunyi.
Alana belum mengangkat kepala, tapi ia sudah tahu siapa yang datang. Aroma mint yang samar langsung dikenali.
Sesuatu yang dingin tiba-tiba menyentuh pipinya.
Alana tersentak dan langsung menoleh.
Tiba-tiba ada susu coklat kotak muncul di depan muka Alana, nangkring pas di atas halaman buku fisika yang lagi dia pelototin.
“Tuh, minum. Biar nggak mati.” kata Gavin singkat.
Alana menatap kotak itu lalu mendongak dengan wajah kesal. "Apa maksudnya?"
Gavin berdiri di samping meja dengan tangan di saku celana. Ekspresinya tetap datar seperti biasa.
"Muka lo pucet," katanya.
Alana menyilangkan tangan di depan dada. "lo lagi seneng karena gue salah jawab soal?"
Tatapan Gavin turun sekilas ke halaman buku di depannya lalu kembali ke wajah Alana.
"Kalau gue tahu lo salah soal yang mana, berarti gue terlalu perhatian."
Nada suaranya tetap tenang. Hampir terdengar malas.
Alana mendengus pelan.
Gavin menggeser kotak susu itu sedikit lebih dekat ke arahnya.
"Minum aja."
Setelah mengatakan itu, ia berbalik seolah urusannya sudah selesai.
"Gavin."
Cowok itu berhenti berjalan, tapi tidak menoleh.
"Gue nggak butuh dikasihani," kata Alana.
Gavin nggak langsung jawab. Dia cuma diem sebentar, tangannya masih di dalam saku celana, seolah lagi nimbang-nimbang mau ngomong apa lagi.
"Bagus," jawab Gavin akhirnya.
"Karena gue juga nggak lagi kasihan."
Ia melangkah lagi menuju pintu perpustakaan.
"Tapi kalau lawan gue tumbang sebelum hasil ujian keluar, itu membosankan."
Begitu Gavin hilang di balik pintu, perpus mendadak terasa semakin sunyi.
Alana ngeliatin kotak susu yang sekarang jadi basah karena dingin itu. Dinginnya nempel di telapak tangannya, tapi pikirannya masih panas. Sialan, bisa-bisanya Gavin tahu kalau Alana lagi butuh asupan gula tiap kali otaknya mau meledak kayak gini
Sial. Gue lupa kalau Gavin satu-satunya orang yang pernah liat gue minum ini tiap kali otak gue mau pecah.
Alana menusukkan sedotan ke dalam kotak itu.
"Nyebelin banget," gumamnya.
Susu coklat itu terasa manis di lidahnya, tapi perasaannya tetap campur aduk.
Besok hasil ujian akan diumumkan.
Dan Alana sudah memutuskan satu hal.
Kalau Gavin ingin menjadikannya lawan, maka ia akan memastikan pertandingan ini tidak akan mudah dimenangkan.