Pagi itu aku tiba di studio rekaman lebih awal dari biasanya.
“Ara, itu kopi latte-mu sudah siap,” sapa manager kecilku sambil menyerahkan termos.
Aku mengangguk, tapi mataku tertuju pada pria yang sedang duduk di ruang tunggu.
Iqbal.
Idol papan atas yang kutemani setiap hari sebagai asistennya. Wajah tampan, senyum menawan, tapi sifatnya… sangat sulit ditebak.
“Selamat pagi, Kak Ara,” sapa Iqbal sambil tersenyum tipis.
Aku menelan ludah. Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum ke arahnya
Setiap hari, aku melihatnya menghadapi tekanan fans, media, dan agensi. Dan setiap hari juga… aku semakin sulit menahan perasaan ini.
Hari demi hari berlalu.
Aku mengurus jadwalnya, menyiapkan kontrak, bahkan menenangkan fans yang terlalu fanatik.Tapi aku hanya dianggap sebagai
“asisten yang baik”.
Bukan lebih.
Sampai suatu hari,
Ketika ia hampir terjatuh di tangga, aku menahannya tepat waktu.
“Tolong hati-hati Iqbal,” kataku pelan.
Dia menatapku lama.
“Terima kasih, Kak Ara,” katanya.
Dan ada sesuatu di matanya yang membuat jantungku berdetak lebih kencang.
Seminggu kemudian,
Gosip mulai tersebar. Fans mulai menebak ada chemistry di antara kami. Iqbal mengajak aku keluar, pura-pura untuk meeting bisnis.
“Tadi aku dengar kabar… fans mulai gosip ya Kak,” katanya sambil tertawa kecil.
Aku menatapnya bingung. “Dan? Kamu percaya?” tanyaku.
Dia tersenyum misterius. “Terkadang aku ingin mereka benar Kak.”
Malam itu,
Setelah rehearsal panjang, ia membawaku ke rooftop studio. Lampu kota berkilau, angin dingin menyentuh wajah kami.
“Iqbal… kenapa bawa aku ke sini?” tanyaku gugup.
Dia diam. Lalu menatapku dalam-dalam.
“Kak Ara… aku ingin kamu tahu. Selama ini aku hanya bisa memandangmu sebagai asistennya… tapi sekarang… aku tidak bisa berpura-pura lagi Kak.”
Jantungku berdetak tak karuan.
“Aku… aku?” aku terbata.
Dia tersenyum, menyentuh tanganku pelan.
“Ya, aku suka padamu Kak Ara. Lebih dari sekadar asistenku.”
Aku tersenyum lega, tapi juga takut.
“Apakah ini… benar-benar perasaanmu atau karena gosip fans?” tanyaku ragu.
Dia tertawa kecil, menarik tanganku lebih dekat.
“Kalau itu hanya gosip, aku tidak akan berani melakukan ini.”
Malam itu,
Aku belajar satu hal, kadang cinta muncul di tempat yang tidak terduga, bahkan di antara jadwal padat, sorotan kamera, dan tekanan dunia hiburan.
Dan kali ini, aku bukan hanya asistennya.
Aku juga… pilihannya.