Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak malam mengerikan di pematang sawah itu. Desa Sukamaju telah banyak berubah. Listrik sudah masuk ke pelosok, dan anak-anak muda kini lebih banyak memegang ponsel daripada cangkul. Namun bagi Agus, yang kini rambutnya telah memutih dan langkahnya mulai menyeret, sawah adalah tempat yang tak boleh diubah isinya.
Budi, putra tunggal Agus yang baru saja menyelesaikan pendidikan di kota, berdiri di tepi sawah dengan kening berkerut. Ia melihat ayahnya membiarkan petakan sawah mereka dipenuhi singgang, tunas padi sisa panen yang tumbuh liar tanpa menyentuhnya sedikit pun.
"Pak, sayang kalau dibiarkan busuk," ujar Budi suatu sore. "Kalau kita kumpulkan, ini bisa jadi pakan ternak tambahan atau kita giling lagi. Di kota, orang-orang bicara tentang efisiensi. Tidak boleh ada yang terbuang."
Agus menghentikan kegiatannya membersihkan saluran air. Ia menatap putranya dengan tatapan yang dalam, tatapan yang menyimpan rahasia seperempat abad.
"Bud," suara Agus parau namun tegas. "Ada hal-hal di dunia ini yang tidak diukur dengan efisiensi. Ada sisa yang memang diciptakan bukan untuk manusia, melainkan untuk membayar hutang kita pada bumi."
Budi tertawa kecil, tawa khas anak muda yang merasa logika adalah segalanya. "Bapak masih percaya mitos Raja Tikus itu? Itu hanya cerita lama untuk menakuti pencuri, Pak. Secara sains, tikus itu hama karena sanitasi sawah yang buruk."
Agus tidak mendebat. Ia hanya tersenyum tipis. "Malam ini, ikutlah Bapak ke sawah. Hanya untuk sekali ini."
Malam itu, bulan hanya tampak separuh, tertutup awan tipis. Agus membawa lampu minyak yang sama dengan yang ia bawa puluhan tahun lalu. Budi mengikutinya dari belakang dengan lampu senter yang terang benderang.
Saat mereka sampai di tengah sawah, Agus meminta Budi mematikan senternya. Keheningan segera menyergap. Bau tanah basah dan aroma apek yang janggal mulai tercium. Tiba-tiba, angin berdesir kencang, membuat batang-batang padi yang kering saling beradu menciptakan suara seperti bisikan ribuan mulut.
"Dengarkan," bisik Agus.
Dari kegelapan, muncul suara gemerisik yang masif. Bukan satu atau dua ekor, tapi suara ribuan kaki kecil yang bergerak secara ritmis. Budi terpaku. Senter di tangannya bergetar. Di depannya, di atas gundukan tanah tertinggi, ia melihat sesuatu yang tak mungkin dijelaskan oleh buku-buku pelajarannya.
Sepasang mata merah, sebesar kelereng, bersinar di kegelapan. Sosok itu jauh lebih besar dari tikus mana pun yang pernah Budi lihat. Bulunya yang putih keperakan berkilau di bawah cahaya bulan yang redup. Makhluk itu tidak bergerak, ia hanya berdiri di sana, seperti seorang raja yang sedang meninjau upeti dari rakyatnya.
Budi merasa sesak napas. Ia melihat ribuan tikus kecil bergerak di sekitar kaki makhluk besar itu, memunguti butiran padi sisa yang ada di tanah dengan sangat rapi, seolah-olah sedang membersihkan piring setelah perjamuan.
Agus melangkah maju satu tindak, membungkuk hormat dengan sangat rendah. "Ini putraku, sang penjaga. Ia hanya ingin belajar," ucap Agus pelan.
Sang Raja Tikus menggerakkan kepalanya sedikit, menatap Budi. Dalam tatapan itu, Budi tidak merasakan ancaman, melainkan sebuah peringatan tentang keseimbangan. Bahwa keserakahan manusia adalah satu-satunya hal yang bisa merusak kedamaian ini.
Tak lama, awan menutupi bulan sepenuhnya. Saat cahaya kembali, sosok-sosok itu telah hilang. Sawah kembali bersih, seolah baru saja disapu oleh tangan-tangan gaib.
Dalam perjalanan pulang, Budi terdiam seribu bahasa. Ia menyimpan senter canggihnya ke dalam saku.
"Pak," panggil Budi saat mereka hampir sampai di rumah. "Besok, biarkan saya yang menjaga sawah. Saya tidak akan mengambil apa pun yang bukan bagian kita."
Agus menepuk bahu putranya. Ia tahu, tugasnya telah usai. Warisan yang ia berikan bukan hanya sepetak tanah, melainkan rasa hormat pada yang tak terlihat. Malam itu, di bawah langit Desa Sukamaju, mitos Raja Tikus resmi berpindah ke pundak generasi baru, bukan sebagai rasa takut, tapi sebagai janji untuk tetap menjadi manusia yang tahu diri.
Tahun-tahun terus bergulir, membawa semen dan beton yang perlahan mengimpit pematang. Zaman bergerak maju dengan deru mesin traktor yang menggantikan lembu, serta cahaya lampu jalanan yang mencoba mengusir sisa-sisa kegelapan dari wajah desa. Di bawah gempuran modernitas, mitos-mitos lama mulai tergerus, dianggap sebagai dongeng usang yang tak lagi laku di telinga generasi yang mendewakan logika. Kisah tentang Raja Tikus mungkin akan terkubur di bawah riuhnya suara televisi dan sinyal internet yang kini memenuhi udara Sukamaju.
Namun, di balik hilangnya cerita-cerita itu dari lisan manusia, mereka tidak benar-benar pergi. Di sela-sela retakan tanah yang kering, di balik rimbunnya padi yang bergoyang diterpa angin malam, mereka tetap ada. Tanpa suara, tanpa rupa yang sering menampakkan diri, mereka tetap diam memperhatikan. Mereka adalah saksi bisu atas setiap jengkal keserakahan manusia, menunggu dengan sabar hingga saatnya tiba bagi alam untuk menagih kembali apa yang menjadi haknya. Sebab, meski manusia telah melupakan tanah, tanah tidak akan pernah lupa siapa yang menghormatinya dan siapa yang sekadar merampasnya.