Musim panen telah usai. Hamparan sawah di Desa Sukamaju kini menyisakan jerami kering yang menguning dan aroma tanah yang pekat. Bagi Agus, ini adalah waktu untuk menyandarkan cangkul dan menikmati hasil jerih payahnya selama empat bulan terakhir. Namun, bagi tanah itu sendiri, kehidupan tidak benar-benar berhenti. Dari sisa-sisa batang padi yang telah dipenggal sabit, mulai muncul tunas-tunas hijau kecil yang dalam bahasa warga setempat disebut singgang.
Agus sedang duduk di langgar bersama Pak Karto, sesepuh desa yang jemarinya tak lepas dari lintingan tembakau. Di kejauhan, mereka melihat sosok Tono, pria yang dikenal warga tak pernah merasa cukup sedang sibuk membawa karung goni di tengah sawah yang seharusnya sudah kosong.
"Tono itu rakus sekali, Gus," gumam Pak Karto, asap rokoknya mengepul lambat, tertiup angin sore yang terasa lebih dingin dari biasanya. "Padahal hasil panennya sendiri sudah lebih dari cukup untuk makan setahun. Tapi lihatlah, sisa tunas padi milik orang lain pun ia sikat."
Agus hanya mengangguk pelan. Sebagai petani dengan sifat yang lurus dan apa adanya, ia tidak ingin mencampuri urusan orang. "Mungkin dia ingin tambahan untuk pakan ternak, Pak," jawab Agus berusaha berprasangka baik.
Pak Karto terkekeh, namun tawanya terdengar getir. "Tanah ini punya penjaga, Gus. Ada yang namanya 'hak bumi'. Kalau kita mengambil yang bukan bagian kita, apalagi mengambil sisa yang seharusnya kembali ke tanah, sang Raja tidak akan diam."
Agus mengerutkan kening. Ia sudah sering mendengar mitos tentang Raja Tikus, sesosok makhluk yang konon memimpin ribuan tikus sawah. Namun, bagi Agus, tikus hanyalah hama yang bisa diatasi dengan racun atau burung hantu. Ia tidak tahu bahwa malam itu akan mengubah cara pandangnya selamanya.
Dua hari kemudian, berita duka mengguncang desa. Tono ditemukan kaku di tengah sawah milik Agus. Tubuhnya tergeletak di antara batang-batang padi singgang yang telah ia babat. Agus, sebagai pemilik lahan, segera datang dengan jantung berdebar kencang. Di sana, ia melihat pemandangan yang tidak masuk akal secara logika.
Tono mati tanpa luka senjata tajam. Namun, pakaiannya tercabik-cabik halus. Yang paling mengerikan adalah ekspresi wajahnya, matanya melotot seolah melihat sesuatu yang luar biasa besar dan mengerikan tepat di depan wajahnya.
"Gusti Allah..." bisik Agus, kakinya lemas.
Di sekitar jasad Tono, terdapat ribuan jejak kaki kecil yang membentuk lingkaran sempurna. Padi sisa panen yang dikumpulkan Tono di dalam karung telah hancur menjadi bubuk, seolah dikunyah oleh ribuan gigi dalam sekejap.
Malam harinya, setelah pemakaman Tono yang penuh dengan bisik-bisik ngeri, Agus tidak bisa tidur. Ia teringat kata-kata Pak Karto tentang keserakahan. Karena merasa gelisah, Agus memutuskan untuk pergi ke sawahnya sendirian, membawa lampu minyak dan niat untuk memberikan doa bagi tanahnya.
Suasana sawah malam itu terasa sunyi yang mencekam. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara katak. Hanya ada desis angin yang melewati celah-celah jerami. Saat Agus sampai di lokasi tempat Tono tewas, ia mencium aroma yang aneh, bau apek yang sangat kuat, seperti bau ribuan hewan yang berdesakan di ruang sempit.
Tiba-tiba, lampu minyak Agus meredup. Dari kegelapan di balik gundukan tanah, Agus melihat sepasang mata berwarna merah menyala. Bukan kecil seperti mata tikus biasa, tapi sebesar kelereng dan bercahaya seperti bara api.
Agus membeku. Dari sela-sela batang padi yang baru tumbuh, munculah sosok itu. Tingginya hampir setinggi orang dewasa. Bulunya putih keabu-abuan dengan kumis yang panjang dan kaku. Yang paling membuat bulu kuduk Agus berdiri adalah ekornya yang sangat panjang dan tampak memiliki beberapa cabang, seolah-olah beberapa ekor tikus menyatu di pangkalnya. Itulah sang Raja Tikus.
Makhluk itu tidak menyerang. Ia hanya berdiri diam, menatap Agus dengan kecerdasan yang tidak dimiliki binatang biasa. Agus merasa seolah-olah sang Raja sedang menilai hatinya. Apakah ia manusia yang rakus? Apakah ia manusia yang juga akan merampas hak bumi?
Agus segera bersujud di pematang sawah. "Ampun, Mbah... Saya tidak berniat jahat. Tanah ini milik Tuhan, saya hanya numpang mengolah," bisiknya dengan suara bergetar.
Hanya dalam sekejap, terdengar suara gemerisik ribuan kaki yang bergerak serempak di seluruh hamparan sawah. Suara itu seperti ombak laut yang menghantam karang. Ketika Agus memberanikan diri untuk mendongak, sosok besar itu telah hilang. Yang tersisa hanyalah keheningan dan sawahnya yang kini terlihat lebih bersih, seolah-olah sisa-sisa padi singgang yang tadinya ingin diambil Tono telah lenyap tak berbekas, dibawa kembali ke dalam perut bumi.
Sejak kejadian itu, Agus menjadi orang yang paling depan dalam mengingatkan warga agar tidak pernah mengambil "sisa" setelah panen. Mitos itu bukan sekadar cerita pengantar tidur, itu adalah pengingat bahwa alam memiliki cara sendiri untuk menghukum mereka yang tidak mengenal kata cukup. Bagi Agus, Raja Tikus bukanlah musuh yang harus dilawan dengan perangkap, melainkan simbol keadilan alam yang menuntut penghormatan paling dalam.