"Mas hari ini kita kemana? " Kata sisil
Mas dwi :" Kamu lama sekali menceritakan hari yang istimewa kamu harus memberitahu bahwa kamu ini list keinginan kamu dihari ulang tahun "
Sisil :" Iyaa, saya mau mobil, rumah, bunga dan pekerjaan yang layak mas "
Mas dwi :" Iyah kamu juga harus tau waktu yang kamu mau, contohnya pas mas lagi dapat uang dari pekerjaan "
Aku mendongak, menatap kedua bola mata suamiku yang merah padam tanpa berkedip. Jantungku berpacu gila-gilaan di dalam dada, menabrak rusuk seolah ingin melompat keluar. Tapi anehnya, debaran itu bukan karena takut.
Itu adalah debaran adrenalin. Debaran orang yang sudah tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan lagi.
“Mas mau apa?” tantangku. Suaraku pelan, tapi terdengar jelas di ruang tengah yang hening mencekam. “Mau pukul aku? Ayo. Pukul sini.”
Aku memajukan wajahku sedikit.
Tangan kanan mas dwi yang sudah terkepal di udara terlihat gemetar hebat. Urat-urat hijau menonjol di punggung tangannya, menandakan betapa kerasnya ia menahan diri. Napasnya memburu, kasar dan berat seperti banteng yang siap menyeruduk.
Sissil di belakangnya menahan napas, matanya berbinar licik menunggu pertunjukan. Sementara Bu Ratmi di pojokan sofa memegang dadanya, memasang wajah seolah dialah korban yang paling menderita di sini.
Perlahan, kepalan tangan Dimas turun.
Ia tidak jadi mengayunkan tinjunya. Bukan karena ia sayang padaku. Aku bisa melihat kilatan di matanya—kilatan sadar yang jauh lebih berbahaya daripada pukulan fisik.
Dia tahu, memukulku hanya akan membuatnya berurusan dengan polisi atau tetangga. Dia tahu ada cara yang jauh lebih menyakitkan untuk melukai seorang istri rumah tangga yang tidak bekerja.
Apalagi kalau bukan uang.
Bagi laki-laki seperti Dimas, uang adalah tali kekang. Dia pikir aku adalah kuda liar yang bisa dia paksa berlutut asalkan dia menarik tali itu cukup kuat.
“Sini,” ucap Dimas tiba-tiba. Nadanya dingin, datar, tanpa emosi.
Ia menadahkan tangan kasarnya tepat di depan wajahku.
“Sini dompet kamu. Kembalikan kartu ATM-ku!”
“Kalau kamu nggak mau kerja ngurus rumah, kalau kamu merasa jadi babu itu merendahkan harga dirimu,” lanjut Dimas dengan senyum miring yang meremehkan, “buat apa aku kasih nafkah? Enak saja kamu makan tidur gratis di sini tapi nggak mau ngerjain apa-apa.”
Sisil terkikik di belakang punggung kakaknya. “Nah, gitu dong Mas. Biar Mbak Naya tahu rasa. Masa mau hidup enak tapi modal ongkang-ongkang kaki doang.”
“Betul itu, Dim,” timpal Bu Ratmi, kepalanya mengangguk-angguk semangat persis seperti hakim ketua yang baru saja mengetuk palu vonis mati. “Biar dia mikir. Emangnya beras turun dari langit? Emangnya sabun cuci baju itu gratis?”
Aku menatap mereka bertiga bergantian. Satu keluarga yang kompak sekali dalam menyakiti.
Tanpa banyak bicara, aku merogoh saku dasterku. Mengeluarkan dompet kain kumal yang resletingnya sudah agak macet.
Dengan gerakan tenang, aku mengeluarkan satu-satunya kartu ATM yang ada di sana. Kartu yang selama ini diisi Dimas hanya pas-pasan untuk beli sayur dan bayar listrik. Tidak pernah lebih.
Kuletakkan kartu itu di atas telapak tangan Dimas.
“Ambil,” kataku singkat.
Dimas menyambar kartu itu dengan kasar, lalu menarik dompet dari tanganku sekalian. Ia membukanya, menghitung beberapa lembar uang ribuan yang terselip di sana.
“Cuma segini?” cibirnya, melihat uang dua puluh ribu lecek di dalam dompet. Ia mendengus, lalu melempar dompet kosong itu kembali ke arahku. Dompet itu jatuh membentur dadaku sebelum mendarat di lantai.
“Mulai detik ini, uang belanja aku pegang sendiri. Nanti Ibu yang atur semua,” titah mas dwioktvn, matanya menatapku seolah aku ini pengemis yang baru saja diusir dari teras tokonya. “Kamu urus perutmu sendiri. Makan saja pakai uangmu sendiri! Jangan harap ada sebutir nasi pun dari keringatku yang masuk ke mulutmu kalau kelakuanmu masih begini.”
Aku memungut dompetku yang tergeletak di lantai. Membersihkan debu yang menempel padanya dengan tepukan pelan.
“Baik,” jawabku.
Aku berbalik badan, melangkah menuju kamar. Tanganku di samping tubuh meremas kain daster kuat-kuat, menahan getaran hebat yang mulai menyerang lututku.
Aku tidak boleh menangis di depan mereka. Tidak boleh.
Begitu pintu kamar tertutup dan kunci berputar, barulah tubuhku merosot.
Aku duduk bersandar di pintu, memeluk lutut. Ruangan ini remang-remang karena matahari sudah hampir tenggelam, tapi aku enggan menyalakan lampu.
Tanganku gemetar saat meraih ponsel di atas kasur. Jempolku menekan aplikasi mobile banking dengan ragu.
Layar loading berputar, seolah mengejek nasibku. Lalu angka itu muncul.
Rp 154.000,-
Hanya itu.
Itu adalah sisa tabunganku dari uang kembalian belanja yang ku kumpulkan receh demi receh selama berbulan-bulan, yang diam-diam ku setor tunai kalau pas ke pasar.
Seratus lima puluh ribu.
Cukup untuk apa?
Makan seminggu? Mungkin cukup kalau aku cuma makan mie instan. Tapi setelah itu bagaimana?
Rasa panik mulai merayap naik dari perut, mencekik leherku. Bayangan menakutkan tentang kelaparan, tentang tidak punya tempat tinggal, tentang menjadi gelandangan, berputar-putar di kepalaku.
Air mata jatuh tak terbendung. Aku mengusapnya kasar.
“Jangan cengeng, Naya,” bisikku pada diri sendiri di keheningan kamar. “Menangis nggak akan bikin saldo ATM-mu nambah jadi sepuluh juta.”
Mataku beralih ke deretan notifikasi di layar ponsel. Ada satu notifikasi TikTok yang belum kubuka. Video yang tadi siang kutonton.
Seorang ibu rumah tangga dasteran, sedang memegang panci teflon sambil bicara di depan kamera HP yang goyang-goyang. Caption-nya sederhana: "Beruntung banget, komisi affiliate cair lagi. Lumayan buat jajan anak."
Ya, affiliate.
Menjual barang orang lain tanpa harus stok barang. Cuma modal video. Cuma modal bicara.
Aku menatap sekeliling kamarku yang sederhana. Lemari plastik, kasur yang spreinya sudah agak pudar, cermin retak di pojok. Apa yang bisa kujual? Apa yang bisa kujadikan konten?
Aku tidak punya barang mewah. Aku tidak punya wajah glowing ala selebgram.
Tapi aku punya masalah. Dan di video tadi, si ibu bilang: "Konten terbaik adalah konten yang ngasih solusi buat masalah orang lain."
Aku terdiam. Otakku berputar lebih cepat dari roda nasib.
Malam mulai turun. Perutku berbunyi nyaring, memecah lamunanku. Rasa perih melilit lambung karena sejak siang aku cuma makan sate itu.
Aku bangkit, menyelipkan ponsel ke saku, lalu keluar kamar menuju dapur.
Rumah tampak sepi. Mas dwi sepertinya ada di kamar Ibu, terdengar suara TV dan tawa Siska dari sana. Mereka pasti sedang merayakan kemenangan mereka karena berhasil menindasku.
Langkahku terhenti di depan lemari makan.
Ada yang aneh.
Di pegangan pintu lemari kayu itu, tergantung sebuah gembok kecil berwarna emas yang tampak baru dipasang.
Aku menoleh ke kulkas. Ada lakban hitam ditempel di pintunya dengan tulisan spidol besar di atas kertas: MILIK IBU. JANGAN SENTUH.
Darahku mendidih, tapi kemudian surut lagi menjadi rasa geli yang getir. Bu Ratmi benar-benar niat. Bahkan telur dan mie instan pun sekarang dia sandera. Dia pikir aku akan mati kelaparan dan besok pagi bakal sujud di kakinya minta makan.
Mataku menyapu dapur yang berantakan. Cucian piring masih menumpuk—bahkan bertambah banyak karena bekas makan malam mereka barusan tidak dicuci.
Pandanganku terhenti pada rak piring di dekat wastafel.
Di sana, tergeletak sebuah panci alumunium tua. Panci yang pantatnya sudah gosong legam, penuh kerak hitam tebal yang membandel. Panci itu adalah musuh bebuyutanku setiap hari. Sudah digosok pakai sabut besi sampai tanganku lecet, hitamnya tidak mau hilang.
Tiba-tiba, sebuah ide gila melintas.
Aku mengambil ponsel. Menyalakan fitur kamera.
Kuangkat panci gosong itu ke atas meja dapur. Cahaya lampu dapur yang temaram justru membuat kerak hitam itu terlihat makin dramatis.
Aku menekan tombol rekam.
Tanganku tidak gemetar lagi. Aku mulai merekam detail panci itu. Keraknya yang tebal, pegangannya yang sudah agak goyang. Aku mengambil sabun colek biasa, mencoba menggosoknya di depan kamera, memperlihatkan betapa susahnya kerak itu hilang.
“Lihat panci ini...” gumamku dalam hati, merangkai kata-kata untuk naskah nanti. “Sama kayak nasibku, gosong dan susah dibersihkan kalau cuma pakai sabun biasa. Tapi kalau aku punya serbuk ajaib itu...”
Aku teringat produk pembersih kerak yang sering lewat di beranda TikTok-ku. Aku belum punya barangnya, tapi aku bisa bikin video "Masalah"-nya dulu. Video yang bikin orang merasa relate dengan penderitaan menggosok pantat panci.
Lima menit aku sibuk mengambil angle panci gosong itu. Rasanya aneh, tapi ada sedikit harapan yang menyala di dada.
Sekarang tinggal suara.
Aku butuh tempat sepi untuk merekam suara. Di sini terlalu dekat dengan kamar Ibu, takut kedengaran. Di kamarku pun, suara jangkrik dari luar terlalu bising.
Kamar mandi.
Itu satu-satunya tempat yang tertutup rapat dan suaranya agak menggema, bagus untuk audio.
Aku menyelinap masuk ke kamar mandi dekat dapur. Menutup pintunya pelan-pelan dan mengunci grendelnya.
Di bawah sinar lampu bohlam kuning 5 watt yang suram, aku memegang ponselku dekat mulut.
Aku menarik napas panjang, memasang senyum palsu—senyum ceria khas kreator konten.
“Hai Bunda!” suaraku kubuat renyah dan bersemangat. “Pernah nggak sih kesel banget sama panci yang pantatnya gosong dan...”
KLIK.
Tiba-tiba dunia di sekitarku menjadi hitam pekat. Lampu kamar mandi mati total.
Suara rekamanku terhenti di tenggorokan.
Jantungku mencelos. Mati lampu? Tapi kipas angin di ruang tengah masih terdengar berputar.
Lalu, terdengar suara sandal diseret di depan pintu kamar mandi.
Dan selanjutnya ,suara Bu Ratmi yang melengking, menembus pintu plastik kamar mandi.
“Bayar listrik kalau mau pakai lampu lama-lama! Jangan buang-buang duit anakku buat mainan HP di kamar mandi! Gelap-gelapan sana, kayak tikus!”
Air mataku yang tadi sudah kering, mendesak keluar lagi.
Aku berdiri mematung di dalam kegelapan yang pekat dan lembap. Bau sabun lantai murahan menusuk hidung.
Dia mematikan saklar dari luar dengan sengaja.
Hanya untuk melihatku menderita, dia rela berjalan ke dapur dan mematikan lampu saat tahu aku ada di dalam.
Tanganku mengepal erat pada ponsel di genggamanku. Buku-buku jariku memutih, meski tak terlihat oleh mata.
Rasanya sakit sekali diperlakukan seperti hama di rumah yang aku rawat setiap hari.
Tapi aku tidak berteriak. Aku tidak menggedor pintu minta lampu dinyalakan.
Aku membiarkan air mata itu jatuh satu tetes, mengalir hangat di pipi kananku.
Dalam gelap, bibirku perlahan melengkung naik. Senyum miring yang penuh luka, tapi juga penuh janji.
“Matikan saja, Bu. Matikan semua lampunya,” bisikku lirih pada kegelapan.
“Tunggu tanggal mainnya. Nanti aku yang akan bayar tagihan listrik rumah ini ... lalu aku yang akan matikan lampunya saat Ibu sedang mandi. Kita lihat, siapa yang akan berteriak seperti tikus nanti.”