Cahaya dari layar ponsel memantul di wajah Katya Mawashandrina yang pucat. Jarum jam di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun matanya masih terjaga, menatap deretan komentar di unggahan terbarunya. Katya baru saja membagikan sebuah kutipan sederhana tentang proses penyembuhan diri alias healing setelah pengkhianatan. Ia pikir, berbagi sedikit kerentanan akan membantunya merasa tidak sendirian. Namun, dunia maya seringkali lebih kejam daripada kenyataan yang ia hadapi di dalam rumah.
"Halah, drama mulu. Udah setahun lewat juga, masih aja dibahas. Move on dong, kasihan anaknya kalau ibunya galau terus," tulis seorang akun dengan foto profil bunga mawar.
"Istri sah kok hobi banget buka aib? Pantesan suaminya gak betah," sambung akun lainnya, seolah-olah pengkhianatan adalah kesalahan pihak yang setia.
Katya menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Air mata yang sudah ia bendung selama berjam-jam akhirnya luruh juga. Mereka yang mengetik dengan jari-jari ringan itu tidak tahu. Mereka tidak mengerti bahwa trauma bukanlah sebuah saklar lampu yang bisa dimatikan kapan saja. Mereka tidak tahu bahwa bagi Katya, luka itu tidak punya tanggal kadaluwarsa.
Setahun yang lalu, dunia Katya runtuh dalam satu sore yang tenang. Ia sedang melipat baju balitanya, Elang, ketika sebuah pesan nyasar masuk ke iPad keluarga yang terhubung dengan ponsel suaminya, Rendy. Pesan itu singkat, namun cukup untuk membakar seluruh pondasi kepercayaan yang ia bangun selama lima tahun pernikahan. Ada foto-foto, ada panggilan sayang yang bukan untuknya, dan ada rencana masa depan yang tidak melibatkan dirinya maupun Elang.
Katya teringat bagaimana rasanya saat itu; jantungnya seolah berhenti berdetak, oksigen di sekitarnya mendadak hilang, dan dunianya menjadi hitam putih. Perjuangan seorang istri sah dimulai bukan saat perselingkuhan itu ketahuan, melainkan pada detik-detik setelahnya—ketika ia harus memilih antara hancur berkeping-keping atau tetap berdiri tegak demi anak yang masih butuh asupan ASI dan kasih sayang.
Pagi harinya, Katya harus bangun dengan senyum di wajah. Elang, yang baru berusia dua tahun, tidak boleh tahu bahwa ibunya baru saja melewati malam yang paling mengerikan. Sambil menyuapi Elang bubur sumsum kegemarannya, Katya harus menelan bulat-bulat rasa mual setiap kali melihat Rendy keluar dari kamar mandi dengan wajah tanpa dosa, seolah-olah tidak ada rahasia busuk yang ia simpan di balik saku kemeja kerjanya.
"Kat, kok bengong? Kurang tidur ya?" tanya Rendy santai sambil mengancingkan mansetnya.
Katya hanya mengangguk kecil. Di dalam kepalanya, ia ingin menjerit. Ia ingin melempar piring bubur itu ke wajah pria yang ia cintai namun kini terasa seperti orang asing. Tapi ia menahan diri. Itulah perjuangan seorang istri sah yang seringkali dianggap "drama" oleh netizen. Ia harus menyusun strategi, ia harus mengumpulkan bukti, dan yang terpenting, ia harus memastikan mentalnya cukup kuat untuk menghadapi badai yang akan datang.
Bulan-bulan berikutnya adalah neraka yang disamarkan dengan rutinitas. Katya menjalani hari-hari dengan kecemasan yang akut. Setiap kali Rendy pulang terlambat sepuluh menit, jantungnya berdebar kencang. Setiap kali Rendy membalikkan ponselnya ke bawah, pikiran Katya melayang ke skenario terburuk. Netizen bilang, "Kalau sudah dimaafkan, ya sudah, jangan diingat-ingat lagi."
Mudah sekali bicara begitu. Mereka tidak tahu bahwa bayangan suami yang memeluk wanita lain muncul setiap kali Katya memejamkan mata. Trauma itu bukan sebulan atau dua bulan. Trauma itu menetap di sumsum tulang. Ada bau parfum tertentu, ada lagu di radio, atau bahkan sekadar melewati jalanan tertentu yang bisa memicu tangisan histeris di dalam kamar mandi yang terkunci rapat agar Elang tidak mendengar.
Puncak dari perjuangannya adalah saat ia memutuskan untuk menghadapi Rendy dan wanita itu. Bukan dengan menjambak rambut atau melabrak di depan umum seperti yang sering viral di media sosial. Katya Mawashandrina memiliki kelas tersendiri. Ia mengatur pertemuan di sebuah kafe yang tenang. Ia membawa dokumen lengkap: mutasi rekening, bukti check-in hotel, dan tangkapan layar percakapan mesra yang ia kumpulkan dengan tangan gemetar selama berbulan-bulan.
"Aku bukan sedang membuat drama, Rendy," ucap Katya dengan suara yang stabil meski hatinya hancur berkeping-keping. "Aku sedang menegakkan martabatku sebagai istri dan ibu dari anakmu."
Wanita selingkuhan itu, yang usianya jauh lebih muda, hanya bisa menunduk. Rendy mencoba membela diri, mengeluarkan seribu satu alasan klasik tentang kekhilafan. Namun Katya tetap tenang. Di titik itu, ia menyadari satu hal: ia tidak bisa mengubah pengkhianat menjadi setia, tapi ia bisa mengubah dirinya dari korban menjadi penyintas.
Setelah perceraian yang melelahkan secara mental dan finansial, Katya memulai hidup baru sebagai orangtua tunggal bagi Elang. Namun, stigma masyarakat tetap mengejarnya. Menjadi "janda" karena diselingkuhi seolah-olah menjadi dosa sosial. Di grup WhatsApp lingkungan atau kolom komentar media sosial, selalu ada saja yang menyudutkan. Mereka menyebutnya "terlalu banyak drama" hanya karena ia vokal tentang kesehatan mental pasca-selingkuh.
"Kenapa sih harus diposting terus masalah lukanya? Gak takut nanti anaknya gede lihat?" komentar netizen lain yang terbaca oleh Katya malam itu.
Katya meletakkan ponselnya. Ia berjalan menuju kamar Elang yang gelap. Di sana, balitanya tidur dengan sangat pulas, satu tangan memeluk boneka beruang. Katya mengusap rambut halus putranya.
"Justru karena aku sayang kamu, Elang," bisik Katya pelan. "Aku membagikan ini agar nanti kamu tahu bahwa ibumu bukan seorang pengecut. Aku ingin kamu tahu bahwa jika suatu saat kamu terluka, kamu boleh bicara. Kamu boleh merasa tidak baik-baik saja. Kamu tidak perlu berpura-pura kuat demi menyenangkan orang-orang yang tidak pernah berjalan di atas duri yang kita injak."
Katya menyadari bahwa netizen yang menghujat istri sah biasanya adalah mereka yang hidup dalam gelembung kenyamanan yang semu, atau mungkin mereka yang sebenarnya sedang melakukan hal yang sama tapi takut ketahuan. Mereka merasa terancam dengan keberanian seorang istri sah yang menolak untuk diam.
Perjuangan Katya bukan tentang memenangkan kembali hati Rendy. Itu adalah perjuangan untuk menemukan kembali jati dirinya yang sempat hilang tertutup bayang-bayang kebohongan. Ia mulai mengikuti terapi, ia mulai berolahraga, dan ia mulai merintis bisnis dekorasi rumah yang selama ini ia tunda demi mengurus suami yang tidak tahu cara menghargainya.
Suatu hari, seorang teman lama bertanya, "Kat, kapan kamu benar-benar akan sembuh?"
Katya tersenyum, sebuah senyuman yang kini sampai ke matanya. "Aku tidak tahu kapan. Mungkin tahun depan, mungkin lima tahun lagi, atau mungkin aku akan selalu membawa luka ini tapi dengan cara yang berbeda. Penyembuhan itu bukan garis lurus, itu adalah labirin. Kadang aku merasa sangat kuat hari ini, lalu besok aku menangis lagi hanya karena melihat merek rokok yang dulu biasa Rendy hisap. Dan itu tidak apa-apa."
Ia kini lebih selektif dalam menggunakan media sosial. Ia memblokir akun-akun toksik dan mulai membangun komunitas bagi sesama istri sah yang sedang berjuang. Ia ingin mereka tahu bahwa "drama" yang dituduhkan orang lain sebenarnya adalah proses duka yang sah. Tidak ada yang berhak menentukan berapa lama seseorang boleh bersedih atas pengkhianatan yang menghancurkan seluruh konsep dunianya.
Satu tahun, dua tahun, atau bahkan belasan tahun—proses setiap orang berbeda. Katya Mawashandrina memilih untuk tidak lagi peduli pada nynyiran netizen. Baginya, setiap pagi saat ia bisa bangun tanpa sesak di dada adalah sebuah kemenangan kecil. Setiap tawa Elang adalah pengingat bahwa keputusannya untuk meninggalkan lingkungan yang beracun adalah benar.
Malam itu, sebelum ia benar-benar memejamkan mata, Katya mengunggah satu foto terakhir. Bukan foto kutipan sedih, melainkan foto tangannya dan tangan kecil Elang yang sedang menggenggam erat satu sama lain dengan latar belakang matahari terbenam.
Keterangan fotonya singkat namun menohok:
"Untuk kalian yang bilang ini drama, semoga kalian tidak pernah harus belajar apa itu trauma dari tangan orang yang kalian percaya. Untuk para istri sah yang masih menangis di pojok kamar, jangan terburu-buru untuk 'sembuh' hanya karena tuntutan dunia. Ambil waktumu. Luka ini milikmu, dan hanya kamu yang tahu cara menjahitnya kembali. Perjuangan kita belum selesai, tapi kita pasti akan sampai."
Setelah menekan tombol post, Katya mematikan notifikasi. Ia berbaring di samping Elang, menghirup aroma sabun bayi yang menenangkan dari tubuh anaknya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Katya tidak lagi merasa perlu menjelaskan dirinya kepada dunia. Ia adalah seorang istri sah yang selamat, seorang ibu yang tangguh, dan seorang wanita yang akhirnya menyadari bahwa dirinya jauh lebih berharga daripada komentar anonim manapun di internet.
Luka itu memang masih ada, tapi kini ia tidak lagi membiarkan luka itu yang memegang kendali atas hidupnya. Katya Mawashandrina telah menang, bukan dengan cara membalas dendam, tapi dengan cara tetap menjadi manusia yang punya hati di tengah dunia yang makin kehilangan empati.
---