Aku diam. Lagi. Untuk kesekian kalinya aku melakukan hal yang sama. Perbedaan seringkali mengacaukan, tapi yang selalu sama apakah benar-benar indah?
Aku memilih menjauh. Menenangkan hati dan membiarkannya, dengan egonya, dengan pikirannya, aku hanya berharap satu atau dua hari kedepan ia yang memulai percakapan. Gagal. Ternyata gagal, hari yang kutunggu tak kunjung datang. Lagi-lagi aku yang meminta maaf, mengajak berbaikan dan kembali berteman.
Di tulisan ini, aku tak ingin menggambarkannya secara rinci, lebih tepatnya tak perlu.
Puncak permasalahan terjadi hingga kami berdiaman lebih dari tiga bulan. Waktu yang cukup lama untuk tidak bertegur sapa dengan seseorang yang sangat diinginkan. Kangen? Iya. Berteman dengan orang yang frekuensinya sama itu menyenangkan, energi tidak hilang, dan lebih percaya diri. Lagi-lagi aku mengalah. Aku lelah, lelah harus menatapnya dengan luka dan membiarkan sisa waktu kami di waktu dan tempat yang sama habis sia-sia.
Hingga saat ini, kami masih bersama. Aku selalu mencoba memahaminya. Bukan hanya dia, tapi semua orang. Aku selalu berusaha memahami bagaimana orang ingin diperlakukan, bagaimana orang merasa nyaman tanpa harus berpelukan, berjalan sambil bergandengan, atau memukul saat tertawa tanpa beban.
Kami berteman. Tanpa merasa harus terikat satu sama lain. Kami berteman. Untuk mengisi waktu dan tempat yang ada di hadapan. Kami berteman, dengan membawa luka masing-masing, dengan harapan untuk tetap tumbuh dan mengerti.