Hai, namaku Haffa.
Kata orang, aku sosok perempuan yang terlihat tenang, tetapi menyimpan lautan perasaan di dalamnya. Wajahku sering tampak biasa saja—tidak banyak ekspresi, tidak banyak protes. Padahal di balik tatapan yang terlihat damai, ada gelombang yang kadang saling bertabrakan. Sejak kecil aku terbiasa memendam rasa, memilih diam daripada menyakiti orang lain.
Aku tumbuh sebagai anak yang lebih sering mendengarkan daripada berbicara. Saat teman-temanku berani mengungkapkan keinginan mereka, aku memilih mengalah. Bukan karena aku tak punya pendapat, tetapi karena aku takut suaraku akan melukai. Aku belajar memahami suasana, membaca nada bicara, menebak isi hati orang lain. Tanpa sadar, aku menjadi ahli dalam mengerti—namun jarang dimengerti.
Ada masa ketika aku merasa lelah menjadi “kuat”. Kuat bukan berarti tidak menangis. Aku menangis, hanya saja tidak di depan banyak orang. Aku menangis dalam diam, di balik pintu kamar, atau saat semua sudah tertidur. Air mata menjadi bahasa rahasia yang hanya aku dan Tuhan yang tahu. Dari situlah aku belajar bahwa menjadi lembut bukanlah kelemahan.
Aku sangat menyayangi keluargaku. Mereka adalah alasan aku terus bertahan dalam banyak keadaan. Saat keadaan tidak berjalan sesuai harapan, aku memilih tersenyum agar mereka tidak khawatir. Kadang aku ingin sekali bersandar dan berkata bahwa aku juga lelah. Tapi setiap kali melihat wajah mereka, aku kembali menguatkan diri. Cinta membuatku bertahan, walau kadang membuatku lupa memeluk diri sendiri.
Namun seiring waktu, aku mulai mengerti sesuatu. Memendam semua rasa tidak selalu membuat segalanya lebih baik. Ada perasaan yang perlu dilepaskan agar tidak berubah menjadi luka yang semakin dalam. Aku mulai belajar berbicara, walau pelan. Mulai belajar berkata “aku tidak baik-baik saja” tanpa merasa bersalah. Ternyata dunia tidak runtuh hanya karena aku jujur pada perasaanku.
Aku menyadari bahwa lautan di dalam diriku bukan untuk ditakuti. Lautan itu adalah kekuatanku. Ia menyimpan empati, kepekaan, dan kasih yang tulus. Dari situlah aku bisa memahami kesedihan orang lain, memberi pelukan yang hangat, dan menjadi tempat pulang bagi mereka yang membutuhkan.
Hari ini, aku masih Haffa yang tenang. Aku masih suka diam, masih suka merenung. Tetapi kini aku tidak lagi ingin terus bersembunyi di balik ketenangan itu. Aku ingin bertumbuh, menjadi perempuan yang bukan hanya kuat untuk orang lain, tetapi juga lembut untuk dirinya sendiri.
Namaku Haffa.
Aku mungkin terlihat sederhana. Namun di dalam diriku, ada cerita panjang tentang belajar menerima, belajar melepaskan, dan belajar mencintai diri sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi takut pada perasaanku sendiri.