Namaku Summer. Aku ingin berbagi pengalaman tentang cinta pertamaku.
Perasaan yang sangat indah, perasaan yang sangat aneh, dan perasaan yang pertama kali aku rasakan. Perasaan itu terasa begitu unik. Aku tidak bisa menamai perasaan itu. Bahkan saat aku berada bersamanya, aku tidak tahu bahwa aku mencintainya. Inilah kisah cinta pertamaku.
Aku mengalami cinta pertama saat berusia tujuh tahun, sekitar kelas satu SD. Aku bertemu dengan seseorang yang belum kukenal. Dia anak laki-laki yang manis, kulitnya putih, matanya indah. Namanya Hiskia.
Hiskia adalah anak yang pintar. Dia sangat percaya diri dan pemberani. Ya, dia cukup berbeda denganku yang sangat pemalu.
Awal aku mengenalnya, aku hanya diam-diam memperhatikannya. Saat itu, ia berada di depan kelas. Guru menyuruhnya menulis soal matematika di papan tulis.
“Wow, kamu sangat hebat, Hiskia!” ucap guru memujinya.
Semua murid bertepuk tangan untuknya. Aku yang duduk diam-diam di bangku belakang juga memperhatikannya dengan senyuman.
Saat itu aku menyimpan rasa ketertarikan padanya, tetapi aku tidak tahu perasaan apa itu, karena aku masih berusia tujuh tahun. Waktu pun berlalu dengan cepat. Ada masa di mana aku hanya memperhatikannya diam-diam.
Kami tidak pernah saling bertatapan. Kami tidak pernah saling menyapa. Dia bahkan mungkin tidak mengenal namaku. Atau mungkin dia mengenalku, tetapi aku tidak tahu, karena kami tidak pernah benar-benar berbicara.
Suatu hari, aku dan Hiskia harus berpisah karena aku berhenti sekolah akibat urusan keluarga. Aku dan ibuku harus pindah ke desa lain untuk mencari pekerjaan. Saat itu aku merasa sedih karena aku tidak akan bertemu dengannya lagi.
Tapi takdir punya cara lain. Dua tahun kemudian, kami bertemu lagi karena aku kembali ke desaku. Ibuku sudah mendapatkan pekerjaan di sana, dan aku kembali bersekolah di sekolah lamaku, tempat Hiskia juga belajar.
Ya, selama dua tahun itu aku sudah melupakannya. Aku tidak lagi mengingatnya. Namun saat aku kembali ke sekolah itu dan melihat wajahnya, aku sadar bahwa ia sudah tumbuh lebih besar. Bagaimanapun juga, saat itu ia sudah berusia sembilan tahun.
Karena sempat berhenti sekolah, aku harus kembali masuk ke kelas satu SD. Sementara Hiskia sudah duduk di kelas tiga. Aku tertinggal cukup jauh. Aku tidak lagi satu kelas dengannya.
Aku bersekolah seperti biasa, menjalani aktivitas sekolah seperti anak-anak lainnya. Namun, ada satu hal yang paling menyedihkan sepanjang masa sekolahku: aku tidak punya teman. Tidak ada yang mau berteman denganku.
Karena aku sangat miskin di desaku, orang-orang selalu berpikir dua kali untuk mendekatiku. Bahkan mereka sering mengejek, menghina, dan menghakimiku. Setiap kali aku datang ke sekolah, ada saja yang memukulku dengan tangan dan berkata kasar kepadaku.
Karena itu, aku tumbuh menjadi anak yang minder dan pemalu. Dalam pikiranku muncul keyakinan bahwa aku tidak akan pernah mempunyai teman. Jadi, saat di sekolah, aku hanya duduk di pojok lorong dan memperhatikan teman-teman yang lain bermain. Aku sendirian, seperti sebatang pohon yang berdiri tanpa pohon lain di sekitarnya.
Rasanya sedih. Namun karena saat itu aku masih SD, aku tidak benar-benar memahami perasaan itu. Aku tidak memahami luka itu. Aku hanya menjalaninya.
Tahukah kamu, aku percaya pada sesuatu yang disebut garis takdir. Sejauh apa pun kami berpisah, kami selalu dipertemukan kembali.
Awalnya aku mengira tidak mungkin bisa berkenalan dengan Hiskia. Kami tidak mungkin saling mengobrol, dan kami tidak akan pernah menjadi teman. Namun lihatlah, takdir kembali mempertemukan kami.
Suatu hari, ayahnya bekerja di sebuah sawah yang tidak jauh dari tempat ibuku bekerja. Setiap kali ayahnya pergi ke sawah, Hiskia selalu ikut bersamanya. Di situlah kami mulai sering bertemu.
Awal pertemuan kami sangat canggung. Kami hanya saling melirik, tetapi tidak saling berbicara. Ya, aku mengenalnya. Aku pertama kali bertemu dengannya saat berusia tujuh tahun, tetapi mungkin dia tidak mengenalku. Atau mungkin dia tahu namaku Summer, namun dia tidak benar-benar mengenalku.
Mungkin saja dia mengenalku dari cerita orang-orang, karena di sekolah banyak yang membullyku. Jadi, bisa jadi dia hanya mengenalku sebagai anak yang selalu dibully di sekolah.
Waktu pun berjalan tanpa terasa. Hari itu aku sangat membutuhkan buku karena persediaan bukuku untuk sekolah sudah habis. Ibuku tidak punya cukup uang, bahkan untuk membelikanku buku. Jadi aku harus bekerja untuk mendapatkan uang dan membeli buku sendiri.
Suatu hari aku mendapatkan pekerjaan. Pekerjaannya adalah membersihkan rumput di ladang. Ternyata pemilik ladang itu adalah ayah Hiskia. Jadi aku pun bekerja di ladangnya.
Aku bekerja dengan tulus dan rajin. Bahkan aku selalu menyelesaikannya tepat waktu. Ayah Hiskia merasa bangga sehingga ia memberiku upah lebih.
“Ini gajimu. Kamu bekerja dengan sangat baik,” kata ayah Hiskia sambil tersenyum.
Aku pun menerima uang itu dengan senyum ramah. “Terima kasih, Om.”
Saat ayah Hiskia memberiku gaji, Hiskia juga ada di sana. Ia melihatku. Ia memperhatikanku dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Ya, aku bisa merasakannya. Mungkin ia penasaran, atau mungkin ia merasa kasihan padaku.
Waktu pun terus berjalan. Setiap pulang sekolah, aku bekerja di ladang ayah Hiskia. Aku bekerja dengan rajin sehingga mendapatkan upah sesuai dengan pekerjaanku.
, Saat Hiskia melihatku, ia memperhatikanku yang sedang bekerja dengan serius. Awalnya ia tidak langsung berbicara denganku. Ia lebih dulu berteman dengan adikku yang bernama Nekara. Karena sudah dekat dengan adikku, ia pun mulai berani berbicara kepadaku.
Ia mengejekku dengan nada bercanda, “Lihat, itu Summer kerjanya serius banget, kayak nenek-nenek.”
Ia dan adikku tertawa bersama. Anehnya, aku justru merasa senang, karena itu adalah pertama kalinya ia mengajakku berbicara. Aku hanya tertawa malu-malu mendengarnya.
Dulu aku mengira tidak akan pernah bisa berteman dengannya, atau bahkan sekadar berkenalan. Namun ternyata selalu ada waktu. Akan selalu ada masa di mana kita menemukan sesuatu atau mendapatkan sesuatu, seperti yang kualami saat itu.
Waktu berjalan—kadang terasa lambat, kadang terasa cepat. Ada musim yang silih berganti, ada tangis dan ada tawa. Dan tanpa kusadari, aku semakin dekat dengan Kia. Kami pun menjadi teman baik.
Aku dan Kia menjadi sahabat. Kami semakin dekat. Kia sering mengajakku datang ke rumahnya hanya untuk sekadar bermain.
Ya, aku masih ingat, saat itu kami sering sekali bermain karet. Setiap kali ia kalah, ia akan kesal lalu berkata, “Yah, kalah.” Kadang ia menambahkan, “Kamu kalah juga dong, masa aku terus yang kalah?”
Kami pun tertawa bersama. Ia sering membuat lelucon-lelucon kecil yang membuatku tertawa.
Kia itu sangat lucu dan manis. Ia selalu melakukan hal-hal yang membuatku tertawa. Setiap tingkahnya, setiap sikapnya, dan perhatian kecil yang ia tunjukkan kepadaku terasa begitu berarti.
Seperti saat ia membeli makanan kecil, ia tidak pernah lupa membagikannya kepadaku. Mungkin karena itulah hati kecilku merasa selalu terhubung dengannya. Tanpa kusadari, aku mulai membangun ikatan batin dengannya.
Namun, tidak semuanya seindah itu. Aku adalah anak yang sering dibully di sekolah. Banyak orang yang tidak mau berteman denganku, bahkan ada yang malu terlihat bersamaku.
Dan entah kenapa, aku merasa Kia pun seperti itu. Di sekolah, kami seperti orang asing. Ia tidak pernah menyapaku. Kalaupun menatapku, hanya sekilas, lalu berlalu begitu saja. Kami hampir tidak pernah berbicara di lingkungan sekolah. Seolah-olah kami tidak memiliki hubungan apa pun.
Namun setiap pulang sekolah, semuanya berubah. Kami kembali seperti teman, seperti saudara, seperti dua orang yang begitu dekat
Waktu pun berlalu, dan hubungan kami semakin dekat. Suatu hari, kami duduk di bawah sebuah pohon, di sawah tempat aku biasa mengarit rumput. Kami berbincang cukup lama di sana.
Tiba-tiba ia berkata, “Kita ini sahabat. Kalau kelak kita lupa, jangan lupakan aku.”
Aku hanya tersenyum mendengarnya.
Diam-diam, kata-katanya kusimpan dalam hatiku. Sejak saat itu, aku mulai menganggapnya lebih dari sekadar teman atau sahabat. Ia menjadi bagian dari hidupku. Karena dialah orang pertama yang pernah mengatakan bahwa aku adalah sahabatnya.
Persahabatan kami tidak berhenti sampai di situ. Hubungan kami terasa begitu indah. Meskipun di sekolah ia sering bersikap seperti orang asing, di luar sekolah ia adalah anak yang sangat perhatian.
Ia selalu memberiku semangat saat ibuku marah kepadaku. Ia akan berkata, “Summer, tersenyumlah.” Bahkan ketika aku sedang marah, ia selalu memujukku dan sering kali meminta maaf lebih dulu, meskipun bukan sepenuhnya salahnya.
Ia seperti sahabat yang selalu ada untukku. Ia seakan memahami sifatku, watakku, bahkan caraku bersikap setiap hari. Begitu pula sebaliknya. Diam-diam aku memperhatikannya. Diam-diam aku belajar mengenalnya.
Bahkan dari caranya bernapas atau dari tatapan matanya saja, aku merasa tahu apa yang sedang ia rasakan, meskipun ia tidak mengatakannya.
Ada satu momen yang membuatku semakin terikat dengannya. Saat itu aku belum terlalu lancar membaca. Setiap kali diminta membaca, aku selalu lambat dan sering merasa malu
Suatu hari di gereja, kami diminta membaca kitab. Aku terbata-bata, sementara yang lain sudah selesai lebih dulu. Entah sejak kapan, ia memperhatikanku.
Sepulang dari gereja, ia berkata pelan kepadaku, “Kalau kamu membaca, bacalah dengan cepat. Jangan pikirkan yang lain. Pasti kamu bisa.”
Kata-katanya sederhana, tapi entah mengapa begitu melekat di hatiku.
Sesampainya di rumah, aku mencoba mengikuti sarannya. Aku membaca tanpa terlalu banyak berpikir, tanpa takut salah. Dan benar saja, perlahan-lahan aku mulai bisa membaca dengan lebih lancar. Dalam beberapa hari, aku merasakan perubahan itu.
Sejak saat itu, aku merasa bukan hanya sedang belajar membaca—aku juga sedang belajar percaya pada diriku sendiri. Dan ia adalah orang yang pertama kali membuatku yakin bahwa aku bisa.
Ada masa ketika kami juga sering bertengkar. Mungkin karena semakin dekat, semakin banyak pula hal kecil yang bisa membuat kami saling kesal. Kami bisa saling diam dan berpura-pura tidak peduli.
Namun tak pernah lama. Entah dia yang mencariku lebih dulu, atau aku yang akhirnya tak tahan dan mencarinya. Beberapa menit kemudian, kami sudah kembali tertawa bersama. Kami saling bercerita lagi, seolah pertengkaran tadi hanyalah selingan kecil dalam persahabatan kami. Dan itu selalu terjadi seperti itu.
Tahun demi tahun pun berlalu. Aku mulai berusia sepuluh tahun. Artinya, persahabatan kami telah berjalan lebih dari satu tahun. Saat itu aku duduk di kelas 3 SD, sedangkan ia sudah kelas 6 SD. Sebentar lagi ia akan lulus dan melanjutkan ke SMP, sementara aku masih tetap di kelas 3, seolah tertinggal di tempat yang sama.
Sebenarnya usia kami tidak jauh berbeda. Namun karena aku masih duduk di kelas tiga SD, pola pikirku masih seperti anak kecil. Sementara itu, Kia sudah berada di kelas enam. Ia mulai memasuki masa remaja, dan cara berpikirnya pun perlahan berubah mengikuti usianya.
Karena itulah, tanpa kusadari, ada jarak di antara kami. Bukan jarak tempat, melainkan jarak cara memahami dunia.
Kia mulai memasuki masa puber. Ia mulai memperhatikan orang lain, mulai menyukai seseorang. Sedangkan aku… aku masih berada di dunia yang sama. Aku hanya menyimpan perasaanku sendiri, diam-diam menyukainya tanpa berani mengatakan apa pun.
Waktu berjalan tanpa terasa. Aku memasuki kelas empat SD, sementara Iskia sudah mulai menjalani hari-harinya di SMP. Sejak itu, kami semakin jarang bertemu. Ia tak lagi pulang sekolah seperti dulu, dan ia juga tak pernah lagi pergi ke ladang untuk menemuiku.
Perlahan, hubungan kami pun ikut berubah. Jarak itu bukan hanya soal waktu, tetapi juga perasaan.
Kami jarang sekali bertemu. Dan ketika akhirnya bertemu, suasananya terasa canggung. Tidak ada lagi tawa panjang atau percakapan hangat seperti dulu.
hanya berkata, “Hei, Summer.”
Dan aku menjawab, “Hei, Kia.”
Hanya itu. Sesederhana itu. Namun di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang terasa hilang.
Sejak saat itu, aku merasa Kia mulai berubah. Bukan hanya pola pikirnya, tetapi juga keinginannya dan banyak hal dalam dirinya. Ia tidak lagi seperti Kia yang dulu kukenal—yang bersikap seperti anak kecil, sejalan dengan pola pikirku saat itu.
Ia sudah tumbuh menjadi remaja. Atau mungkin ia memang sedang berusaha menyesuaikan diri sebagai remaja, karena usianya memang sudah sampai di sana.
Sejak jarak itu muncul, sebuah kesalahpahaman terjadi di antara kami. Namun kali ini berbeda. Kesalahpahaman itu tidak membuat kami kembali seperti biasanya. Tidak ada lagi yang saling mencari setelah diam. Tidak ada lagi tawa setelah bertengkar.
Sebaliknya, kami justru semakin menjauh. Sampai akhirnya, kami tidak lagi benar-benar berteman.
Saat bertemu pun, kami berjalan seperti dua orang asing. Ia tidak lagi menyapaku atau tersenyum kepadaku. Dan meskipun di dalam hati aku ingin menyapanya terlebih dahulu, aku tidak lagi berani.
Aku takut membuka kembali hatiku. Aku takut berharap, lalu ditinggalkan lagi.
Karena itulah aku memilih menjaga jarak darinya—meskipun sebenarnya hatiku tidak pernah benar-benar ingin menjauh.
Ada satu momen yang paling kuingat sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi. Saat itu ada acara gereja, dan kami pergi berwisata bersama teman-teman yang lain.
Di dalam bus, suasana ramai oleh tawa. Aku duduk di kursi belakang, sementara Iska duduk di kursi depan. Kami sama-sama berada di tempat yang sama, tetapi terasa begitu jauh. Kami tidak saling menyapa. Hanya diam, seperti dua orang asing.
Iska membawa beberapa permen. Ia membagikannya kepada teman-teman yang lain. Namun seperti dulu, sebelum memberikannya kepada siapa pun, ia terlebih dahulu menyodorkan satu kepadaku.
Waktu terus berjalan. Saat aku memasuki usia dua belas tahun, keluargaku mengalami kekurangan. Nenekku menyuruhku bekerja dan pindah ke kota.
Aku merasa sedih, karena itu berarti aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengan Kia lagi. Di usia yang masih begitu muda, aku meninggalkan desa dan memulai hidup di kota.
Berbulan-bulan aku bekerja di sana, tetapi kenangan tentang Kia tidak pernah benar-benar hilang. Bagaimanapun juga, aku pernah memiliki ikatan batin dengannya. Entah bagaimana keadaannya, entah apa yang terjadi dalam hidupnya, namanya selalu terselip di dalam doaku dan ingatanku.
Waktu kembali berlalu. Kami tidak pernah bertemu lagi… sampai aku berusia delapan belas tahun.
Suatu hari, aku pulang ke desa. Di sanalah aku melihatnya kembali. Perasaan yang dulu kupikir telah hilang, ternyata hanya tertidur—dan saat itu ia bangkit lagi.
Kami saling menatap. Hanya sekilas. Tidak ada sapaan. Tidak ada percakapan. Hanya dua orang yang pernah saling berarti, kini berdiri dalam jarak yang tak terlihat.
Ia pernah menjadi bagian dari hidupku. Sosok yang hadir di masa kecilku, meski akhirnya pergi seiring waktu.
Tak lama kemudian, aku kembali ke kota. Aku meninggalkan desa, meninggalkan kisah lama, dan menyimpannya sebagai kenangan.
Kia adalah cinta pertamaku. Karena darinyalah aku pertama kali memahami apa itu cinta—bukan tentang memiliki, tetapi tentang merasakan, belajar, dan melepaskan.
Mungkin kami tidak akan pernah lagi bertemu. Mungkin kami tidak akan pernah bersatu. Tetapi aku tetap bersyukur, karena ia pernah menjadi sahabatku—dan pernah menjadi musim hangat dalam hidupku yang sederhana.
Kadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan untuk selamanya bersama, tetapi untuk mengajarkan kita arti memiliki seseorang dalam hidup. Mengajarkan kita bagaimana menghargai kehadiran, merasakan kedekatan, dan memahami kehilangan.
Perasaan-perasaan indah yang tumbuh di dalam hati adalah anugerah. Cinta yang tulus tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari sumber yang baik. Dan dari mana lagi kebaikan itu berasal, kalau bukan dari Tuhan.
Teman-teman, setiap perasaan yang kita alami—bahagia, rindu, bahkan perih—adalah bagian dari proses pertumbuhan. Semua itu membentuk hati kita menjadi lebih dewasa dan lebih mengerti arti bersyukur atas apa pun yang Tuhan titipkan dalam hidup kita, meskipun hanya untuk sementara waktu.
Satu hal yang kusesali adalah masa kecilku yang kehilangan sosok ayah. Perceraian orang tuaku membuatku tumbuh dengan rasa takut ditinggalkan. Rasa minder dan kurang percaya diri itu perlahan memengaruhi caraku bersikap, hingga tanpa kusadari hubunganku dengan Kia semakin renggang.
Dari situlah aku belajar: ketakutan yang tidak disembuhkan bisa membuat kita menjauh dari hal-hal yang sebenarnya kita sayangi.
Karena itu, belajarlah untuk percaya diri. Cintailah dirimu apa adanya. Jangan biarkan rasa minder dan takut kehilangan justru membuatmu benar-benar kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupmu.
Terima kasih sudah membaca. 🤍