Langit nampak menggelap menandakan malam akan tiba, tetes-tetes air hujan mulai terasa dingin menyentuh ubun-ubun kepala ku.
Aku berjalan cepat menuju rumah sahabat baik ku karena sekarang adalah hari ulang tahun nya, dia orang yang cukup berada hingga hari ulang tahun nya dirayakan cukup meriah, aku bergegas masuk setelah sampai di pintu gerbang rumah besar nya. Aku mengibas ngibaskan Dres selutut ku, karena aku membilas nya sewaktu di jalan tadi.
Suasana rumah Maya sudah nampak ramai dengan teman-teman ku yang lain, rumah ini nampak indah dengan hiasan balon-balon berwaran pink berbentuk hati serta dekorasi dengan warna senada tak lupa juga dengan baner bertuliskan selamat ulang tahun Maya, suara hingar bingar musik terdengar memenuhi ruangan membuat kepala ku terasa pusing, serta jantung berdebar tak nyaman akibat musik yang terlalu kencang.
Aku berjalan menghampiri nya untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk nya, seraya membawa kado ultah untuk nya, dan ini hanya spesial untuk nya saja, aku yakin dia akan terkejut setengah mati, aku tersenyum senang.
"Hay May, selamat ulang tahun ya, semoga apa yang elu cita-citakan akan segera tercapai," ucap ku dengan tulus, seraya memberikan kotak kado yang aku bawa padanya.
"Makasih ya Rin, lu baik banget, btw ini berat banget apa isi nya?" tanya nya penasaran, sambil menilik kotak kado berwarna pink yang aku berikan.
"Rahasia dong, masa gue yang bilang, entar aja lo buka sendiri, ini hadiah spesial dari gue untuk lo," dia pun tersenyum senang dan meletakan kotak kado yang ku berikan di atas tumpukan kado yang lain, sepertinya itu dari teman-teman yang lain, namun, aku yakin kado yang aku berikan adalah kado yang paling spesial bagi nya.
Kami lantas berpelukan sekilas. "lu dateng sendiri ke sini?"
"Ya gue sendiri emang kenapa?" tanya ku.
"Lo gak takut gitu, secara kan di daerah kita ini lagi musim pembunuhan berantai takutnya lo ketemu sama tuh orang kan serem," ucap Maya bergidik ngeri.
Aku tersenyum, "kenapa gue harus takut." ucap ku datar.
"Lu tuh emang gila ya Rin, itu tuh pembunuh yang bisa sewaktu- waktu datang dan nyergap elu dari belakang terus tubuh lo di cabik-cabik, lu gak takut apa," ucapnya menggebu-gebu.
"Yaelah, gue kan punya tangan punya kaki juga, ya gue tinggal lari aja gampang kan," Maya mengernyit heran.
"Auk ah, teserah lu aja," ucapnya kesal, aku hanya terkekeh geli melihat wajah nya yang mematut.
Pesta pun di mulai.
Semua teman-teman nampak menyanyikan lagu ulang tahun untuk Maya begitupun aku, kami menyanyi serya bertepuk tangan, Maya pun meniup lilin serta memotong kue dan potongan pertamanya ia berikan pada Ibu nya karena Ayah nya belum pulang kerja, dan potongan kedua ia berikan pada ku, lalu potongan ketiga ia berikan pada Aksan dan seterus nya kepada teman kami yang turut hadir di pesta ini.
***
Tuk..tuk...tuk...
Suara sepatu hils yang mengetuk-ngetuk lantai menggema di ruangan sepi nan gelap, dekorasi ulang tahun yang tadi di hias begitu cantik nampak tak berbentuk lagi, balon-balon telah kempes dan pecahan-pecahan gelas nampak berserakan di lantai, seseorang tengah meringis di tengah ruangan serta ada beberapa bagian tubuh yang teronggok di bawah lantai, ceceran darah dimana-mana, suasana nampak begitu mencekam.
"Ke-kenapa kau melakukan ini pada ku," lirihnya, sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan.
"Kenapa? hem...kenapa ya, coba kau pikir saja kenapa aku melakukan ini pada mu," ucapnya penuh teka-teki.
"Aku tidak mengerti, bukan kah kau adalah teman ku, lantas kenapa kau melakukan ini pada ku?" ucapnya getir.
"Teman! hahaha....teman," ucapnya, dengan tawa menggelegar memenuhi rungan.
"Kau teman ku, benarkah?" Aku berjalan mendekat, dia terlihat begitu ketakutan, ah aku suka ini apa lagi melihat wajah pucatnya itu aku semakin suka, aku pun menyeringai.
"Tidak, menjauhlah dari ku, Airin..!" teriak Maya, dia tak dapat lari karena aku mengikatnya di meja dengan posisi terlentang, aku semakin suka dengan wajah ketakutan nya itu, apa lagi ketika dia melihat ku membunuh Ibu nya tepat di hadapannya, apa lagi dia mendapat kado spesial dari ku yaitu, kepala Ayah nya.
(flas back.)
Semua tamu sudah pulang hanya menyisakan Aku, Maya dan juga Ibu nya, Ayah nya belum juga datang membuat Ibu Maya nampak resah.
"Tenang Buk, Ayah pasti akan segera pulang, " uacap Maya, dia nampak menyembunyikan ke khawatiran nya, di depan Ibu nya, hebat juga dia yah, aku menyeringai menatap nya.
"Iya Tante tenang saja, Om pasti akan segera datang," timpal ku.
"May, kenapa kamu gak buka kado dulu aja," ucap ku.
"Eh iya ya, sambil nunggu Ayah pulang juga, aku penasaran sama kado yang kamu berikan," ucap nya penuh semangat.
"Buka aja May, aku yakin pasti kamu suka," ucap ku seraya tersenyum penuh Arti.
Maya beranjak mengambil Kotak kado berwaran Pink yang aku berikan tadi.
Srek....
dia mulai merobek keretas pembungkus nya, aku masih tetap memasang senyum ku sambil memperhatikan Maya membuka kado yang ku berikan, begitu pun dengan Ibu nya dia juga nampak penasaran dan berjalan mendekati kami.
"Apa May isi nya?" tanya nya penasaran.
"Bentar Buk, Maya buka dulu."
"Ah...!!" pekik kedua nya ketika mereka melihat isi di dalam kotak itu, Kotak itu langsung di jatuhkan ke lantai, aku menatap sejurus ternyata itu adalah kepala Ayah nya Maya, yang sudah terpisah dari tubuhnya, darah nampak memenuhi semua bagian kepala itu.
Bruk....
Tubuh Ibu Maya langsung jatuh ke lantai seiring hilang kesadarannya.
Maya nampak terguncang dengan apa yang di lihatnya, dia mengerjap kan matanya.
"A-airin, apa ini...?" ucapnya dengan bibir bergetar.
"Kepala Ayah mu kan," ucap ku datar, Maya nampak terkesiap dengan jawaban datar ku itu.
"K-kau apa kah kau yang melakukan ini Airin?" tanya nya nampak tak percaya.
Aku menyeringai, Maya nampak beringsut mundur menjauhi ku, "menurut mu," ucap ku pelan.
"Airin, kau...!" tenggorokan Maya seperti tercekat, aku hanya menelengkan kepala ku dan duduk di sofa milik nya.
"Kau apa? katakan yang jelas, aku tidak mengerti," ucap ku, seraya menelengkan kepala ku ke sisi kanan.
"K-kau yang telah membunuh Ayah ku?" aku mendengar deru napas nya yang semakin tak beraturan, serta degupan jantung nya yang berpacu dengan cepat, aku suka Irama ini, irama ketakutan aku selalu haus akan itu aku suka saat mendengar orang menjerit dan memohon atas nyawa mereka.
"Iya, aku yang membunuh Ayah mu, dan sekarang giliran mu," aku tertawa seperti orang gila, ya aku memang sudah gila, aku benci sekali pada Maya karena dia lah Aksan meninggalkan ku dan memilih dirinya menyebalkan. Dia beringsut mundur ke sudut ruangan.
"Jangan mendekat Airin, aku mohon," Air mata bercampur keringat nampak mengkilap di wajah teman penghianat ku ini.
Aku tak peduli dengan rengekannya mata ku kian menggelap, aku sudah tak ingat pada hubungan pertemanan kami, bagi ku dia adalah musuh dan aku akan menghabisi nya.
Grep...aku meraih tangannya mencengkram nya dengan kuat, dia terus memberontak, Plak....aku memukul wajah nya hingga dia meringis terlihat dari sudut bibir nya mengeluarkan sedikit darah.
Dengan segera aku menyeretnya dan mengikatnya di atas meja dengan posisi terlentang sebelum dia memberontak lagi.
(flas back of.)
Aku menghampiri Ibu nya yang masih tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
Aku menyuntikan sebuah cairan pada Ibu Maya, aku tidak ingin repot membangunkan nya, lebih baik aku membunuhnya sekalian, Aku mulai menggorok leher sang Ibu dan memotong nya hingga terpisah dari tubuhnya, tak ada suara ringisan atau teriak ke sakitan dari nya karena aku telah memberikannya suntik mati terlebih dahulu.
Lelehan darah segar nampak membanjiri seluruh ruangan tempat ku berada, sungguh ini adalah hiburan paling menyenangkan di dalam hidup ku, aku melihat pergerakan dari Maya, dia menatap ke arah ku, sambil menjerit ketakutan dia meronta-ronta namun, tentu saja dia tak mungkin lepas dari sana karena aku telah mengikat nya dengan kuat.
Dia memekik ketakutan, melihat ku tengah memotong-motong setiap inci tubuh Ibu nya, aku mencincang nya dengan golok tajam ini adalah alat yang selalu aku bawa ketika aku sedang ingin mendapat hiburan dari mulut orang yang aku habisi.
Aku berjalan mendekat ke arah nya, tubuhnya nampak menggelepar bak ikan yang tak sengaja ke daratan.
"Maya.... kamu tau kenapa aku menghabisi keluarga mu?" lirih ku di telinganya.
Dia memekik ketakutan dengan lelehan air mata yang terus keluar dari mata nya, tangan dan kaki nya berusaha ia lepaskan dari ikatan yang ku berikan.
"Karena kamu, telah menghabisi cinta nya untuk ku, kau telah merebut Aksan dari ku, kau bersalah kau harus menebus nya," ucap ku di iringi tawa yang melengking memenuhi ruangan.
"A-aku tidak..." shut...ku taruh telunjuk ku di bibir nya.
"Aku sudah tau semua nya, kau berselingkuh dengan nya di belakang ku," dia nampak membelalakan matanya terkejut agak nya dengan apa yang aku ucapkan, deru napas yang kian meningkat begitu merdu ku dengar dia begitu ketakutan aku suka sangat suka, aku menyeringai padanya.
"Jangan bunuh aku....ku mohon..."rengek nya.
"Hem....aku suka ini...!" Aku mulai mengiris-ngiris bagian tubuh nya. Argghhhhh....dia bertiak sangat kencang ketika golok dingin dan berlumuran darah berhasil membuat luka di setiap inci kulit nya, aku terus mempermainkannya dan melakukan hal yang sama selama satu jam, dia terus berteriak ke sakitan dan menangis serta memohon pengampunan dari ku.
"B-bunuh saja A-aku Airin bunuh s-saja, A-aku tidak tahan lagi," lirih nya, suara nya mulai melemah.
"Baiklah, jika itu yang kau ingin kan," ucap ku senang, ini lah yang aku inginkan ketika dia memohon untuk aku habisi.
"A-asal k-kau t-tau A-airin a-aku t-tidak p-pernah bers-selingkuh de-dengan A-aksan, karena a-aku menyayangi mu, me-meski di-dia pernah menyatakan pe-rasaannya pa-pada ku, aku tak pernah me-menerima nya ka-karena aku me-menyayangi mu," aku hanya mendengus tawa mendengar nya.
"Berisik...!" pekik ku, Jlebbb.....aku menghunuskan golok itu tepat di bagian dada nya, dan seketika itu juga Maya mati dengan mata terbuka karna diri ku.
Tamat.
Selamat ulang tahun untuk kamu yang berulang tahun hari ini!!!!!