Di zaman ketika manusia lebih percaya pada notifikasi daripada firasat, dan lebih takut pada low battery daripada dosa kecil, ada satu hal yang lebih mengerikan daripada ghosting: ditagih hutang saat buka bersama.
Namun, yang lebih tragis lagi adalah menjadi orang yang harus menagihnya.
Namaku Gilang. Bukan Gilang yang viral karena flexing, bukan pula Gilang yang jadi brand ambassador kopi literan. Aku hanya Gilang yang pernah meminjamkan uang pada sahabatnya—Emilio Prasetyo, alias Emil—dalam sebuah momen yang, saat itu, tampak suci dan penuh solidaritas.
“Lang, pinjam dulu sejuta. Gajian depan gue balikin. Demi Allah, demi Ramadan, demi persahabatan kita sejak MPLS,” katanya waktu itu.
Sejuta rupiah. Jumlah yang di mata orang kaya hanya cukup untuk satu brunch aesthetic, tapi bagi pegawai startup level staf sepertiku, itu adalah tabungan tiga minggu makan nasi padang tanpa telur dadar.
Aku percaya.
Aku selalu percaya pada orang yang menyebut kata “demi” lebih dari dua kali dalam satu kalimat.
Dan kini, tiga bulan berlalu. Tiga bulan itu seperti puasa Daud yang tak kunjung selesai. Emil tak juga membayar. Setiap kutagih, ia menjawab dengan kalimat penuh filosofi:
“Tenang, Lang. Uang itu cuma dunia.”
Betul. Tapi dunia juga butuh kuota.
---
Undangan buka bersama datang dari grup WhatsApp bernama Sahabat Tanpa Batas (kecuali saldo).
Tempatnya di restoran Timur Tengah yang baru buka di pusat kota. Restoran itu terkenal karena dekorasinya yang seperti set film kolosal dan harganya yang seperti anggaran negara kecil.
Aku melihat daftar peserta. Emil termasuk.
Di sinilah hati kecilku berbicara: “Inilah waktumu, wahai Gilang. Menagih dengan elegan. Menagih dengan santun. Menagih dengan penuh akhlak.”
Tapi hatiku yang lain berkata: “Gas aja, bestie. Ini bukan zaman soft spoken. Ini zaman soft launching tagihan.”
Aku pun berangkat dengan tekad yang lebih kuat daripada niat diet setelah Lebaran.
---
Restoran itu gemerlap. Lampu gantung berkilauan seperti doa-doa yang belum dikabulkan. Meja panjang sudah dipenuhi kurma premium, sup lentil, dan air putih dalam gelas yang terlihat mahal karena bentuknya tak lazim.
Emil datang terlambat, seperti biasa. Ia mengenakan kemeja putih dan parfum yang aromanya seperti campuran kayu manis dan ambisi kosong.
“Gilang, bro!” katanya sambil memelukku. “Lama banget nggak ketemu!”
Aku tersenyum. Senyum yang telah kulatih di depan cermin. Senyum antara ikhlas dan ingin menampar.
“Iya, Mil. Lama banget. Sejak... tiga bulan lalu.”
Ia tertawa. “Hahaha, masih aja lu hitungin waktu.”
Ah, Emil. Engkau tak tahu bahwa aku juga menghitung bunga emosional.
---
Adzan Maghrib berkumandang. Kami berbuka dengan kurma yang manisnya seperti janji-janji kampanye. Setelah itu, makanan datang berbaris seperti pasukan Ottoman.
Di tengah suasana riuh dan tawa, aku memulai operasi.
“Mil,” kataku pelan, “eh itu... soal yang kemarin.”
“Yang mana?”
“Yang sejuta itu.”
Ia meneguk jus kurma. “Oh itu. Santai, Lang. Gue lagi atur cashflow.”
Cashflow. Kata yang sering dipakai orang yang sebenarnya cuma menunggu transferan dari orang tua.
“Udah tiga bulan, Mil.”
“Ya kan gue nggak kabur.”
Benar. Ia tak kabur. Ia hanya menghilang setiap akhir bulan.
Teman-teman lain mulai memperhatikan. Rina, yang selalu update tren TikTok, menimpali, “Eh, ini real life debt collector arc ya?”
Yang lain tertawa.
Emil mengangkat tangan dramatis. “Demi persahabatan, janganlah kita rusak momen bukber ini dengan hal-hal duniawi.”
Aku tersenyum lagi. “Mil, kalau duniawi nggak penting, transfer aja sekarang.”
Tawa meledak seperti petasan.
---
Namun, Emil masih lihai.
“Lang, gue tuh lagi investasi.”
“Di mana?”
“Di diri sendiri.”
“Oh. Return-nya kapan?”
“Insyaallah.”
Jawaban itu membuatku hampir tersedak air putih.
Aku teringat gaya Achdiat Karta Mihardja yang pernah kubaca—cara ia membedah karakter manusia dengan tenang tapi tajam. Emil ini bukan penjahat besar. Ia hanya manusia yang menganggap hutang sebagai konsep metafisik.
Aku memutuskan strategi baru.
“Mil, gue cuma mau klarifikasi. Jadi, itu sejuta statusnya apa sekarang?”
“Temenan lah.”
“Temenan nggak bisa bayar Shopee PayLater, Mil.”
Rina lagi-lagi tertawa. “Lang savage banget!”
Emil mulai berkeringat. Bukan karena pedasnya nasi kebuli.
“Gue transfer nanti malam, deh.”
“Kapan malamnya?”
“Ya malam.”
“Malam tahun berapa?”
Teman-teman kini benar-benar menikmati drama ini. Seorang bahkan merekam, mungkin untuk konten #BukberBerkah.
---
Di sela-sela makanan utama, datanglah momen penentuan: pelayan membagikan tagihan.
Totalnya membuat semua terdiam sejenak. Nominalnya seperti tanggal cantik tapi tanpa diskon.
“Kita split bill aja ya?” kata seseorang.
Split bill. Dua kata yang bisa memecah persahabatan lebih cepat daripada politik.
Aku menatap Emil.
“Mil, lu bayar dulu deh bagian gue. Nanti gue potong hutang.”
Ia terdiam. Otaknya mungkin sedang *loading*.
“Eh... gue lagi limit kartu.”
“Oh. Tapi investasi di diri sendiri lancar?”
Rina sampai menepuk meja. “Ini roasting halal, guys!”
Emil akhirnya membuka aplikasi m-banking. Wajahnya tegang seperti mahasiswa buka nilai IPK.
“Yaudah,” katanya pelan. “Gue transfer sekarang.”
“Sekarang banget ya. Bukan sekarang dalam arti ‘nanti’.”
Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar.
*Transfer masuk: Rp1.000.000*
Aku hampir meneteskan air mata. Bukan karena uangnya, tapi karena keadilan kosmis akhirnya berpihak.
“Alhamdulillah,” kataku lirih.
Emil tersenyum kaku. “Happy now?”
“Banget. Ini lebih bikin bahagia daripada THR.”
---
Namun, kisah belum selesai.
Saat semua orang bersiap pulang, Emil menarikku ke samping.
“Lang, lu tuh terlalu serius.”
“Maksud?”
“Cuma sejuta.”
Aku menatapnya lama. “Buat lu mungkin cuma. Buat gue, itu listrik, kuota, dan martabat.”
Ia terdiam.
“Mil,” lanjutku, “hutang itu bukan soal nominal. Tapi soal tanggung jawab. Kalau kita bisa pesan dessert dua ratus ribu tanpa mikir, masa bayar hutang mikirnya kayak skripsi?”
Emil menunduk. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tak punya punchline.
---
Kami keluar restoran. Udara malam Ramadan terasa lebih ringan.
Rina mendekat. “Lang, gue salut sih. Lu nagih tapi tetep lucu. Nggak jadi villain.”
Aku tertawa. “Gue cuma nggak mau jadi NPC di cerita orang.”
Di kejauhan, Emil berdiri sendirian, menatap layar ponselnya. Mungkin menghitung saldo. Mungkin juga merenung.
Aku menghampirinya.
“Mil.”
“Iya?”
“Gue nggak marah. Tapi next time, kalau lagi susah, bilang. Jangan ngilang.”
Ia mengangguk pelan. “Gue malu.”
“Malu itu bagus. Berarti masih ada nurani.”
Kami tertawa kecil.
---
Dalam perjalanan pulang, aku merenung. Menagih hutang ternyata bukan hanya soal uang kembali. Tapi tentang menegaskan batas. Tentang berkata bahwa persahabatan bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab.
Dan tentang keberanian untuk berkata, dengan santun tapi tegas: *bestie, bayar dulu.*
Esok harinya, grup WhatsApp kembali ramai.
Rina mengirim foto tadi malam dengan caption:
“Bukber penuh hikmah. Dari puasa jadi pelunasan.”
Emil membalas dengan emoji menangis.
Aku hanya mengirim satu pesan:
“Terima kasih sudah melunasi. Semoga investasi di diri sendiri sukses, tapi jangan pakai dana talangan gue lagi.”
Semua tertawa.
Ramadan mengajarkanku banyak hal tahun ini. Sabar, iya. Ikhlas, tentu. Tapi juga satu pelajaran penting: jangan sampai kebaikan hati berubah jadi *subscription gratis seumur hidup*.
Dan jika suatu hari nanti aku meminjam uang pada orang lain, aku akan ingat rasa degup jantung saat ponsel bergetar tanda transfer masuk. Rasa lega yang seperti azan setelah hari panjang.
Karena pada akhirnya, dalam dunia yang serba digital dan serba cepat ini, yang paling mahal bukanlah makan di restoran Timur Tengah.
Melainkan integritas.
Dan satu juta rupiah, ternyata, cukup untuk mengujinya.
---
Tamat