Langit Jakarta sore itu seperti loyang bekas kue lapis—berlapis-lapis awan kelabu yang menggantung tanpa niat menurunkan hujan. Di gang sempit belakang kontrakan, anak-anak sudah menyalakan petasan korek. Suaranya meletup kecil, seperti tawa yang dipaksa-paksakan.
Arman berdiri di depan warung Bu Ramlah sambil memegang ponsel retak di sudut kiri atas. Di layar, grup keluarga bernama Bani Sulaiman penuh dengan foto-foto persiapan Lebaran: ketupat tergantung di dapur kayu, opor ayam berwarna kuning pucat, dan wajah ibunya yang semakin kurus namun tetap tersenyum.
“Jadi pulang, Man?” tanya Bu Ramlah, sambil mengipas-ngipas sate usus di atas bara kecil.
Arman tersenyum tipis. Senyum yang biasa dipakainya untuk menutupi banyak hal. “Belum tahu, Bu. Tiket mahal.”
Bu Ramlah mendengus kecil. “Lebaran kok nggak pulang. Nanti ibumu nangis.”
Arman tak menjawab. Ia menghitung dalam kepala seperti menghitung sisa umur seekor lilin: gaji bulan ini sudah habis untuk bayar kontrakan, kirim uang sekolah adiknya, dan cicilan motor yang belum lunas. Bonus THR? Perusahaan tempatnya bekerja sebagai karyawan percetakan kecil belum tentu sanggup membayar tepat waktu. Pemiliknya bilang omzet turun drastis.
Ia menatap langit lagi. Lebaran selalu identik dengan perjalanan. Dengan terminal penuh manusia seperti ikan pindang yang dijejalkan dalam keranjang. Dengan aroma bensin, peluh, dan harap. Tapi tahun ini, perjalanan itu seperti dongeng yang tak selesai.
---
Arman berasal dari sebuah desa kecil di pesisir Belitung Timur. Desa yang setiap Lebaran berubah menjadi lautan manusia yang pulang, membawa cerita kota dan oleh-oleh berbungkus plastik mengilap. Ia selalu bangga menjadi salah satu dari arus itu. Di kampung, ia bukan lagi Arman yang pendiam dan sering kalah dalam lomba lari. Ia adalah Arman dari Jakarta. Arman yang bekerja di percetakan. Arman yang mengirim uang setiap bulan.
Tahun lalu, ia pulang dengan membawa blender murah untuk ibunya. Ibunya tertawa bahagia, meski listrik di desa sering mati dan blender itu lebih sering jadi pajangan daripada alat dapur.
“Kau ini selalu saja beli yang tak perlu,” kata ibunya sambil mengelus rambutnya. “Yang penting kau pulang.”
Kalimat itu kini berputar-putar di kepala Arman seperti gasing yang tak mau rebah.
Yang penting kau pulang.
---
Malam takbiran tiba seperti tamu yang tak sabar. Masjid-masjid di sekitar kontrakan Arman menggema dengan takbir yang saling bersahut-sahutan. Di televisi warung Bu Ramlah, iklan sirup dan sarung diputar berulang-ulang, seolah-olah kebahagiaan bisa dibeli dalam botol manis dan kain kotak-kotak.
Arman duduk sendirian di kamar kontrakannya yang hanya berukuran tiga kali empat meter. Dindingnya tipis, sehingga ia bisa mendengar pasangan suami istri di sebelah bertengkar soal uang belanja. Di atas meja kecil, ada dua lembar uang seratus ribu rupiah. Uang terakhirnya setelah membayar semua kebutuhan bulan ini.
Jika ia membeli tiket kapal dan bus, uang itu tak akan cukup. Bahkan mungkin ia harus berutang.
Ponselnya bergetar.
“Ibu” tertera di layar.
Ia menelan ludah sebelum menjawab.
“Assalamu’alaikum, Man,” suara ibunya terdengar lebih serak dari biasanya.
“Wa’alaikumussalam, Bu. Sudah siap Lebaran?”
“Sudah. Ketupat sudah digantung. Opor sudah dimasak sedikit. Kau jadi pulang, Nak?”
Pertanyaan itu meluncur pelan, seperti orang yang takut tersandung jawabannya sendiri.
Arman memejamkan mata. Ia ingin berkata ya. Ingin sekali.
“Tahun ini... belum bisa, Bu.”
Hening di seberang sana. Hening yang lebih menyakitkan daripada kata-kata kasar.
“Oh,” jawab ibunya akhirnya. “Tak apa. Ibu mengerti.”
Arman tahu ibunya berbohong. Ibu mana yang benar-benar mengerti Lebaran tanpa anak sulungnya?
“Kau jaga kesehatan. Jangan lupa salat Id di sana.”
“Iya, Bu.”
Setelah telepon ditutup, Arman memandangi langit-langit kamar yang berjamur. Ia merasa seperti anak kecil yang gagal membawa pulang rapor bagus.
---
Pagi Lebaran datang dengan udara yang ganjil. Jakarta terasa lengang, seperti kota yang sedang berpuasa dari kebisingan. Arman berjalan menuju lapangan dekat kantor kelurahan untuk salat Id. Di sekelilingnya, orang-orang mengenakan baju baru. Anak-anak berlari dengan peci miring dan sepatu yang masih kaku.
Arman mengenakan kemeja lama yang sudah dua kali ia pakai untuk Lebaran sebelumnya. Ia tak merasa malu. Yang ia rasakan justru kekosongan.
Imam membaca khutbah tentang makna kemenangan. Tentang kembali ke fitrah. Tentang saling memaafkan.
Arman teringat wajah ibunya. Keriput di sudut mata yang makin dalam. Rambut yang makin banyak uban.
Selesai salat, orang-orang saling bersalaman. “Mohon maaf lahir batin.”
Arman pun bersalaman dengan beberapa tetangga kontrakan. Namun setiap kali mengucapkan maaf, hatinya terasa seperti kertas yang diremas.
Maafkan aku, Bu, karena tak pulang.
---
Siang hari, ia memasak mi instan di dapur bersama. Aroma bumbu ayam bawang yang biasa saja terasa menyedihkan di hari yang biasanya penuh rendang dan opor. Dari jendela kecil, ia melihat seorang bapak menggendong anaknya sambil tertawa.
Ponselnya kembali bergetar.
Video call dari adiknya, Sari.
“Abang!” Sari melambaikan tangan di layar. Di belakangnya terlihat ruang tamu rumah kayu mereka yang sederhana. Dindingnya dihiasi kalender bank dan foto keluarga lama.
“Ibu mana?” tanya Arman.
“Ibu di dapur,” jawab Sari. “Tadi habis nangis.”
Jantung Arman seperti dijatuhi batu.
“Nangis kenapa?”
“Katanya cuma kangen.”
Tak lama kemudian, wajah ibunya muncul di layar. Senyum dipaksakan seperti anak kecil yang diminta berfoto saat sedang sakit gigi.
“Lihat, Man,” kata ibunya, mengarahkan kamera ke meja makan. Ada ketupat, opor ayam, dan sambal goreng kentang dalam porsi kecil. “Ibu masak sedikit saja. Tak banyak orang datang.”
Arman ingin menjangkau layar itu. Ingin memeluk ibunya. Tapi jarak ribuan kilometer tak bisa ditembus dengan sentuhan jari.
“Maaf, Bu,” katanya lirih.
“Tak usah minta maaf. Kau bekerja untuk masa depan. Itu sudah cukup.”
Tapi Arman tahu, masa depan seringkali terlalu jauh untuk mengobati kesepian hari ini.
---
Sore menjelang. Arman memutuskan berjalan kaki menyusuri jalanan yang hampir kosong. Ia melewati terminal yang kini tak seramai biasanya. Hanya beberapa bus parkir dengan sopir yang tidur di kursi.
Ia duduk di bangku besi yang dingin. Di seberangnya, seorang lelaki tua memegang tas kain dan memandangi jalan raya.
“Tak jadi pulang juga?” tanya lelaki itu tiba-tiba, seolah bisa membaca pikiran.
Arman tersenyum pahit. “Tak cukup uang.”
Lelaki itu mengangguk pelan. “Saya juga. Anak saya di kampung menunggu. Tapi ya begitulah.”
Mereka terdiam bersama. Dua orang asing yang dipersatukan oleh kegagalan yang sama.
“Kadang,” lanjut lelaki itu, “yang paling menyakitkan bukan tak punya uang. Tapi tak bisa memeluk orang yang menunggu.”
Kalimat itu seperti pisau yang diasah perlahan.
---
Malam turun lagi. Arman kembali ke kontrakan. Ia membuka media sosial. Foto-foto keluarga berserakan seperti konfeti kebahagiaan. Sepupunya berpose di depan rumah nenek. Teman-temannya berfoto bersama orang tua di kampung.
Arman menutup ponsel.
Ia teringat Lebaran masa kecilnya. Berlari tanpa alas kaki di halaman rumah. Tertawa bersama sepupu. Mencium tangan ayahnya yang masih hidup waktu itu.
Ayahnya meninggal lima tahun lalu, karena stroke mendadak. Sejak itu, Arman merasa memiliki tanggung jawab lebih besar. Ia menjadi tulang punggung keluarga, meski tulangnya sendiri sering terasa rapuh.
Di meja kecil, ia mengambil dua lembar uang seratus ribu rupiah itu. Ia memandangi seolah berharap uang itu bisa berubah menjadi tiket kapal.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Lebaran tanpa mudik ternyata bukan hanya soal tak pulang. Tapi soal kehilangan momen yang tak bisa diulang. Soal waktu yang terus berjalan tanpa menunggu kesiapan kita.
---
Dua hari setelah Lebaran, ponselnya berdering keras di subuh buta.
Nomor Sari.
“Abang…” suara adiknya gemetar.
“Iya?”
“Ibu pingsan.”
Dunia Arman seolah berhenti berputar.
“Apa maksudmu pingsan?”
“Tadi subuh, setelah salat. Ibu bilang dadanya sakit.”
Arman tak ingat bagaimana ia menutup telepon. Tak ingat bagaimana ia berlari ke ATM untuk menarik sisa uang. Tak ingat bagaimana ia meminjam uang dari Bu Ramlah dan teman-teman kontrakan.
Ia hanya tahu, ia harus pulang sekarang.
Tapi kapal pertama baru berangkat sore hari. Perjalanan akan memakan waktu panjang.
Di atas kapal yang penuh sesak, Arman duduk memeluk tas kecilnya. Angin laut menampar wajahnya. Ia memandangi ombak yang seperti mengolok-oloknya.
Kenapa tak pulang kemarin?
Kenapa menunggu sampai terlambat?
Setiap detik terasa seperti hukuman.
---
Ketika ia akhirnya tiba di desa, senja sudah turun.
Rumah kayu itu terlihat sama. Tapi suasananya berbeda. Banyak sandal di teras. Banyak wajah muram.
Sari berlari menyambutnya dengan mata bengkak.
“Abang…”
Arman tak perlu bertanya.
Ia melangkah masuk dengan kaki gemetar. Di ruang tengah, ibunya terbujur kaku dibalut kain putih. Wajahnya tenang, seperti sedang tidur setelah kelelahan panjang.
Arman berlutut di samping jenazah itu.
“Bu… aku pulang.”
Tapi kepulangan itu tak lagi berarti.
Ia menggenggam tangan ibunya yang sudah dingin. Tangan yang dulu mengajarinya menulis huruf pertama. Tangan yang selalu melambai setiap ia berangkat ke kota.
Air matanya jatuh deras, tak peduli siapa yang melihat.
Lebaran tanpa mudik ternyata bukan hanya tentang hari yang terlewat. Tapi tentang kesempatan terakhir yang tak pernah datang lagi.
Di luar, tak ada takbir. Tak ada petasan.
Hanya angin laut yang berdesir pelan, seolah ikut berduka.
Arman memejamkan mata.
Ia akhirnya pulang.
Tapi rumah itu tak lagi sama.
Dan sejak hari itu, setiap Lebaran akan selalu terasa setengah.