Malam itu angin gunung turun lebih dingin dari biasanya.
Desa Cibanteng terletak di lereng yang jauh dari lampu kota. Hutan pinus berdiri seperti barisan saksi bisu, dan di tengahnya, berdiri pabrik tua peninggalan zaman kolonial yang sudah puluhan tahun tak beroperasi. Orang-orang menyebutnya Gedung Merah.
Dan setiap tiga tahun sekali, selalu ada yang hilang.
Raka tak pernah percaya pada cerita-cerita itu.
Ia kembali ke desa setelah tujuh tahun merantau di Bandung. Ibunya meninggal mendadak dua minggu lalu. Tak ada penyakit, tak ada keluhan. Hanya ditemukan kaku di kamar, dengan wajah seperti menahan ketakutan.
Orang-orang desa berbisik.
“Waktunya sudah dekat.”
“Harus ada tumbal lagi.”
Raka muak mendengarnya.
Ia datang bukan untuk mempercayai takhayul, tapi untuk menjual rumah ibunya dan kembali ke kota. Namun sejak malam pertama ia menginap, suara-suara aneh mulai terdengar.
Ketukan di dinding.
Bisikan samar.
Dan bau anyir yang datang tiba-tiba dari arah hutan.
---
Suatu sore, Raka didatangi Pak Lurah Sastro.
Laki-laki tua itu selalu berbicara pelan, namun tatapannya tajam.
“Kamu anak satu-satunya, Rak,” katanya sambil menyeruput kopi hitam. “Ada hal yang perlu kamu tahu sebelum kamu pergi.”
Raka menahan kesal. “Kalau soal tumbal itu lagi, saya nggak percaya.”
Pak Lurah tersenyum tipis.
“Percaya atau tidak, itu tidak mengubah aturan.”
“Aturan siapa?”
“Yang menjaga desa ini.”
Raka tertawa pendek. “Desa ini nggak dijaga siapa-siapa. Desa ini miskin karena orang-orangnya takut maju!”
Pak Lurah berdiri perlahan.
“Tiga hari lagi malam satu Suro.”
Raka merasakan hawa dingin merambat di tengkuknya.
“Dan giliran keluargamu belum selesai.”
---
Sejak percakapan itu, Raka mulai memperhatikan sesuatu yang janggal.
Rumah-rumah warga tampak menutup diri setiap magrib. Tidak ada anak-anak bermain. Tidak ada suara televisi. Seolah seluruh desa menahan napas.
Ia menyelinap ke balai desa malam hari.
Di sana, ia menemukan sebuah buku tua berdebu. Di dalamnya terdapat daftar nama.
Tiga tahun sekali.
Satu nama.
Tahun ini… tertulis: Raka Pradipta.
Jantungnya berdegup keras.
Nama ibunya tercantum tiga tahun lalu.
Sebelumnya, nama ayahnya.
Sebelumnya lagi, kakeknya.
Semua dari garis keluarga yang sama.
Raka meremas buku itu. “Gila…”
---
Ia mendatangi Naya, teman masa kecilnya yang kini menjadi satu-satunya orang yang masih berani bicara padanya.
“Kamu tahu soal ini?” Raka melempar buku itu ke meja kayu warung.
Naya menatapnya lama.
“Aku sudah takut sejak kamu pulang.”
“Takut apa?”
“Karena yang dipilih selalu yang paling kuat.”
Raka terdiam.
“Kenapa keluargaku?”
Naya menggigit bibirnya. “Karena dulu… kakekmu yang membuat perjanjian.”
Cerita itu seperti dongeng kelam.
Puluhan tahun lalu, desa ini dilanda wabah dan paceklik. Tanaman mati. Anak-anak sakit. Orang-orang sekarat. Seorang dukun gunung menawarkan perjanjian pada leluhur Raka.
Satu nyawa setiap tiga tahun.
Sebagai ganti keselamatan desa.
Dan sejak itu, desa tak pernah lagi kelaparan.
Raka memukul meja. “Itu pembunuhan yang dibungkus tradisi!”
“Kalau kamu menolak, desa bisa hancur.”
“Biar saja! Itu bukan tanggung jawabku!”
Naya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu pikir ibumu tidak ingin kabur? Dia pernah coba.”
Raka membeku.
“Lalu?”
Naya menunduk. “Dia ditemukan pingsan di hutan. Dan tiga hari kemudian… meninggal.”
---
Malam satu Suro tiba.
Langit hitam tanpa bulan.
Raka pura-pura menurut.
Ia mengikuti warga yang membawa obor menuju Gedung Merah. Di tengah ruangan kosong, terdapat lingkaran kapur dan sesajen.
Pak Lurah berdiri di depan.
“Demi keseimbangan, demi keselamatan desa…”
Raka menatap wajah-wajah warga.
Tak ada yang tampak kejam.
Hanya takut.
Ketika mereka memintanya berdiri di tengah lingkaran, Raka menurut.
Namun ia sudah menyiapkan rencana.
Di saku jaketnya ada bensin dan korek api.
“Jika memang ini harus terjadi,” katanya keras, “maka biar semua berakhir malam ini.”
Pak Lurah menyipitkan mata. “Jangan bodoh.”
Raka menyiram lantai kayu dengan bensin.
Jeritan terdengar.
“Kalau aku mati, desa ini juga harus lepas dari kutukan!”
Angin tiba-tiba berembus kencang.
Obor-obor padam.
Suara gemuruh terdengar dari dalam tanah.
Lingkaran kapur menyala merah.
Dan dari sudut ruangan, muncul bayangan hitam tinggi menjulang.
Warga menunduk ketakutan.
Raka gemetar, namun tetap berdiri.
“Ambil aku kalau berani!” teriaknya.
Bayangan itu bergerak mendekat.
Namun sebelum menyentuhnya, Naya berlari masuk.
“Berhenti!”
Ia berdiri di antara Raka dan bayangan itu.
“Aku tahu rahasianya!”
Semua terdiam.
Naya berteriak, “Tidak pernah ada makhluk penjaga! Ini hanya ritual racun!”
Pak Lurah memucat.
“Diam!”
“Sesajen itu dicampur racun lambat! Yang dipilih akan sakit perlahan, dianggap kutukan!”
Raka menatap Pak Lurah dengan marah.
“Jadi ini semua kebohongan?”
Bayangan hitam itu lenyap seketika.
Hening.
Pak Lurah mundur perlahan. “Kalau tidak ada ketakutan, kalian akan pergi. Desa ini akan mati.”
Raka tertawa pahit. “Jadi kau pelihara ketakutan agar orang tak berani bermimpi?”
Warga mulai berbisik.
Satu per satu, obor dinyalakan kembali.
Dan untuk pertama kalinya, mereka melihat ruangan itu tanpa bayangan misterius.
Hanya gedung tua.
Hanya manusia.
---
Pak Lurah mencoba kabur, namun warga menahannya.
Rahasia puluhan tahun terbongkar malam itu.
Ternyata ritual itu hanyalah cara menjaga kekuasaan dan mengontrol desa agar tak berubah.
Tak ada makhluk gaib.
Tak ada kutukan.
Hanya rasa takut yang diwariskan.
---
Pagi harinya, matahari terbit cerah.
Raka duduk di tangga rumahnya, memandangi kabut yang perlahan menghilang.
Naya duduk di sampingnya.
“Kamu hampir mati,” katanya pelan.
Raka tersenyum tipis. “Aku hampir jadi tumbal.”
“Tapi kamu gagal.”
Raka menatap hutan.
“Bukan gagal,” katanya. “Aku berhenti jadi korban.”
Desa itu berubah perlahan.
Orang-orang mulai membuka diri. Anak-anak kembali bermain. Lampu-lampu menyala hingga malam.
Gedung Merah diruntuhkan dan diganti menjadi balai pelatihan.
Tak ada lagi daftar nama.
Tak ada lagi malam satu Suro yang mencekam.
Dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, tidak ada yang hilang.
---
Namun sebelum ia kembali ke kota, Raka berdiri di tepi hutan.
Angin berembus pelan.
Sejenak, ia merasa seperti ada yang mengawasi.
Daun-daun bergerak.
Dan dari kejauhan, terdengar suara samar.
Bukan ancaman.
Bukan kutukan.
Hanya bisikan yang perlahan memudar bersama waktu.
Raka tersenyum.
“Aku tidak akan jadi tumbal lagi.”
Ia berbalik, meninggalkan hutan, meninggalkan masa lalu.
Dan melangkah menuju hidup yang ia pilih sendiri.
---
TAMAT