Pukul sembilan malam, Gilang masih terjaga. Catatan kecilnya tentang "frekuensi yang sama" tergeletak di meja, tersiram cahaya lampu duduk yang temaram. Namun, ada sesuatu yang mengganggu sistem logikanya. Sebuah anomali yang baru ia sadari setelah kafein di tubuhnya mulai meluruh.
Gilang bangkit, melangkah menuju rak buku di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah album foto tua bersampul kain linen yang sudah rapuh—satu-satunya benda yang ia bawa saat pindah dari rumah orang tuanya sepuluh tahun lalu. Jemarinya gemetar saat membalik halaman demi halaman, hingga ia berhenti pada sebuah foto polaroid yang warnanya sudah memudar menjadi sephia.
Di foto itu, seorang gadis kecil berusia tujuh tahun sedang berdiri di depan toko buku tua, memegang es krim yang meleleh. Di sebelahnya, Gilang kecil tertawa lebar. Gadis itu memakai jaket biru. Jaket biru yang sama. Tekstur pudar yang sama. Bahkan cara gadis itu menengadah menantang matahari sangat identik dengan perempuan di lampu merah kemarin.
"Nadia?" bisik Gilang. Suaranya pecah di kesunyian apartemen.
Nadia adalah sepupunya, teman masa kecilnya, sekaligus "variabel" yang hilang dari hidupnya. Dua puluh tahun lalu, sebuah kecelakaan beruntun di tol Cipularang menghapus seluruh keluarga paman Gilang dari peta eksistensi. Setidaknya, itulah yang tertulis dalam arsip memori keluarga besar mereka. Pemakaman dilakukan dengan peti tertutup. Gilang ingat hari itu sebagai hari di mana dunianya kehilangan warna birunya.
Gilang tersentak. Jika Nadia sudah meninggal dua puluh tahun lalu, siapa perempuan di bus tadi? Apakah otaknya sedang melakukan proyeksi kognitif karena terlalu sering berurusan dengan debu masa lalu? Ataukah Jakarta memang sebuah lubang cacing di mana masa lalu bisa menampakkan diri dalam wujud penumpang TransJakarta?
Keesokan harinya, Gilang tidak pergi ke Perpustakaan Nasional. Ia pergi ke pusat data kependudukan, menggunakan akses kuratornya untuk menggali sesuatu yang lebih dalam dari sekadar buku tua: Data Kematian Tahun 2006.
Ia mengetik nama: Nadia Paramita.
Layar monitor berkedip. Jantung Gilang berdegup seirama dengan putaran kursor.
[Data Ditemukan: Nadia Paramita. Status: Meninggal Dunia. Lokasi Pemakaman: TPU Jeruk Purut, Blok AA-1.]
Gilang menghela napas panjang. "Cuma kemiripan fisik," gumamnya, mencoba rasional. Namun, matanya menangkap sesuatu di kolom catatan tambahan di bawah data tersebut. Sebuah baris kecil yang ditulis dengan tinta digital merah.
[Catatan: Jenazah tidak pernah ditemukan. Dinyatakan meninggal secara hukum setelah 7 tahun menghilang dalam kecelakaan.]
Darah Gilang terasa membeku. Tidak pernah ditemukan.
Ia langsung berlari menuju halte Harmoni. Ia menunggu di sana. Berjam-jam. Ia mengabaikan panggilan telepon dari kantornya. Ia menjadi pengamat partikel, menunggu satu atom spesifik yang ia temui kemarin untuk melintas kembali. Lima jam berlalu. Senja mulai turun, mengubah langit Jakarta menjadi warna tembaga yang berkarat.
Lalu, bus koridor 1 datang. Pintu terbuka dengan desis hidrolik yang panjang.
Perempuan itu turun. Masih dengan jaket biru itu. Kali ini, ia tidak menoleh ke arah Gilang. Ia berjalan cepat menuju arah gang-gang sempit di belakang gedung-gedung tinggi. Gilang membuntutinya dengan jarak sepuluh meter. Masuk ke dalam labirin pemukiman yang luput dari pandangan mata gedung pencakar langit.
Perempuan itu berhenti di depan sebuah toko buku bekas yang sangat kecil, nyaris tenggelam oleh tumpukan kardus. Di atas pintunya, ada papan kayu bertuliskan: "Resonansi Masa Lalu".
Gilang memberanikan diri melangkah masuk. Aroma buku tua menyambutnya—aroma yang sama dengan kantornya, tapi kali ini terasa lebih personal. Perempuan itu sedang membelakanginya, menyusun buku-buku di rak paling atas.
"Nadia?" panggil Gilang pelan.
Perempuan itu mematung. Bahunya menegang. Ia berbalik perlahan, dan kali ini, senyumannya yang di lampu merah itu tidak ada. Yang ada hanyalah tatapan kosong yang dalam.
"Kamu seharusnya tidak datang ke sini, Gilang," ucapnya. Suaranya tidak seperti suara manusia di bus. Suaranya terasa seperti gema dari masa lalu—berlapis, berat, dan mengandung getaran frekuensi rendah.
"Kamu... kamu masih hidup? Bagaimana mungkin? Paman, Bibi... mereka semua..."
"Mereka memang sudah tidak ada di dimensi ini," potong perempuan itu. Ia melangkah mendekat. "Kecelakaan itu bukan sekadar tabrakan atom, Gilang. Itu adalah singularitas. Aku terjatuh ke dalam celah waktu di antara detik ke-12 dan ke-13 saat kecelakaan terjadi. Aku terjebak dalam arsip hidup yang tidak bergerak."
Gilang mundur satu langkah, menabrak tumpukan ensiklopedia. "Apa maksudmu? Aku menyentuh lenganmu di bus! Kamu nyata!"
Perempuan itu mengangkat tangannya. Di bawah cahaya lampu neon toko yang berkedip, Gilang melihat pemandangan yang paling mind-blowing dalam hidupnya. Tangan perempuan itu tidak sepenuhnya solid. Di bagian pinggirnya, partikel-partikel kulitnya tampak seperti debu buku yang beterbangan, memudar dan muncul kembali seiring detak jantung.
"Aku adalah arsip yang berjalan, Gilang. Aku adalah resonansi dari ingatanmu yang terlalu kuat. Kamu menemukanku karena kamu menghabiskan sepuluh tahun hidupmu memandangi kertas-kertas tua, memanggil kembali energi yang seharusnya sudah dilepaskan semesta."
"Jadi... kamu hantu?"
"Bukan. Aku adalah glitch dalam kesadaranmu. Aku nyata selama kamu mengingatku. Tapi Jakarta sedang melakukan update sistem. Kenangan kolektif kota ini sedang dihapus oleh modernitas. Dan saat ingatan terakhir tentangku hilang, aku akan benar-benar terhapus."
Perempuan itu mendekat, menyentuh dada Gilang. Gilang tidak merasakan kulit yang hangat, melainkan sensasi seperti tersengat listrik statis yang sangat halus.
"Terima kasih sudah menoleh di lampu merah itu, Gilang. Itu adalah transmisi terakhir yang kubutuhkan untuk berpamitan."
"Tunggu! Nadia!"
Tiba-tiba, lampu toko padam. Gelap total.
Gilang meraba-raba di kegelapan, mencari sakelar. Saat lampu menyala kembali, toko itu kosong. Tidak ada rak buku. Tidak ada kardus. Ruangan itu hanyalah sebuah gudang tua yang berdebu dengan papan pengumuman: "Gedung Ini Akan Dibongkar".
Gilang keluar ke jalanan dengan linglung. Ia meraba saku jaketnya dan menemukan secarik kertas yang tadinya tidak ada di sana. Kertas tua, kuning, dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali.
“Kita hanyalah rangkaian atom yang kebetulan bergetar pada frekuensi yang sama... Tapi setiap frekuensi harus menemukan titik heningnya, Gilang. Selamat melanjutkan hidup.”
Jakarta kembali bising. Klakson bersahutan. Tapi bagi Gilang, frekuensi itu kini bersih. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian di dalam botol kaca. Ia telah melepaskan variabel yang paling membebani hidupnya.
Ia berjalan pulang, melewati lampu merah yang sama, dan kali ini, ia tidak mencari siapa pun di balik kaca mobil orang lain. Ia cukup menghirup napas, merasakan paru-parunya terisi udara realitas, dan membiarkan masa lalu menjadi apa yang seharusnya ia menjadi: sebuah arsip yang telah selesai dibaca.