POV: Ketika Ujian Terbesar Iman Datang dalam Wujud Mantan yang Wanginya Masih Sama
Ketahuilah, kawan, bahwa godaan terbesar bagi seorang mualaf bukanlah rasa haus saat puasa atau dinginnya air wudhu di waktu Subuh. Godaan terberat adalah ketika masa lalu yang paling kamu cintai datang mengetuk pintu, tepat saat kamu sedang berusaha menghapus semua jejaknya.
Sore itu di Amsterdam, Julian sedang duduk di sebuah kafe kecil, menyesap cokelat panas—bukan lagi bir—sambil membaca Al-Qur’an terjemahan di tabletnya. Tiba-tiba, aroma parfum Vanilla-Oud yang sangat ia kenal menusuk indra penciumannya. Jantung Julian seolah-olah melakukan force close.
"Julian?"
Suara itu. Lembut, sedikit serak, dan punya frekuensi yang dulu selalu bisa menjatuhkan pertahanan Julian dalam satu detik. Itu Sophie. Mantan tunangannya yang ia tinggalkan di puncak kegilaan hidupnya dulu. Sophie berdiri di sana, mengenakan trench coat krem, rambut pirangnya sedikit basah karena gerimis, dan matanya menatap Julian dengan campuran antara rindu dan tidak percaya.
"Sophie..." Julian terbata. Sistem otaknya mendadak lagging.
Sophie duduk di depannya tanpa diundang. Dia melihat tato di tangan Julian, lalu melihat janggut tipis yang kini menghiasi rahang Julian, dan terakhir, dia melihat aplikasi di tablet Julian. Sophie tertawa kecil, tawa yang dulu selalu membuat Julian merasa dunia ini baik-baik saja.
"Aku dengar kamu jadi religius sekarang? Is this some kind of mid-life crisis?" tanya Sophie, tapi matanya tidak mengejek. Matanya justru berkaca-kaca. "Aku nyari kamu ke mana-mana, Jules. Aku nggak peduli kamu jadi apa. Aku cuma pengen kamu balik. Aku... aku masih cinta sama kamu. I can't move on."
Julian merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Dilema level max. Di depannya adalah Sophie, perempuan yang selama lima tahun menjadi pusat gravitasinya. Perempuan yang ia rencanakan untuk menjadi ibu dari anak-anaknya. Dan jujur saja, Julian belum move on. Dia masih mencintai Sophie dengan sisa-sisa perasaan yang ia coba kubur di bawah sajadahnya setiap malam.
"Sophie, aku... aku bukan Julian yang dulu," Julian mencoba mengatur napas, mencoba memanggil kembali algoritma ketenangan yang ia pelajari di Istanbul.
"Aku nggak peduli!" Sophie menggenggam tangan Julian. Tangan yang dulu selalu memegang botol alkohol, kini dingin dan gemetar. "Kita bisa mulai lagi. Kita bisa pesta lagi, atau kalau kamu mau hidup tenang, kita beli rumah di pinggiran kota. Aku bakal ikutin aturan kamu. Tapi tolong, jangan tinggalin aku lagi karena alasan agama yang bahkan aku nggak paham."
Inilah titik kritisnya. Julian merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang relapse. Di satu sisi, ada jalan pulang menuju dekapan Sophie yang hangat, familiar, dan sangat ia inginkan secara manusiawi. Di sisi lain, ada jalan setapak yang sempit namun bercahaya yang baru saja ia tapaki.
Pov: Lo lagi diuji pakai 'Cheat Code' kebahagiaan duniawi pas lo baru aja mau insaf.
Julian menatap mata Sophie. Dia melihat bayangan dirinya yang dulu di sana. Dirinya yang hancur, yang mencari tuhan di dasar botol, yang mencari kedamaian di pelukan yang fana. Dia menyadari satu hal yang sangat puitis namun menyakitkan: Dia mencintai Sophie, tapi dia lebih mencintai ketenangan yang ia temukan saat bersujud.
"Sophie," Julian menarik tangannya pelan. Gerakan itu rasanya lebih berat daripada mengangkat beban seratus kilo. "Aku masih cinta kamu. Sangat. Tapi kalau aku balik ke kamu yang dulu, aku bakal kehilangan diriku yang sekarang. Dan kalau aku kehilangan diriku, aku nggak punya apa-apa lagi buat dikasih ke kamu."
"Maksud kamu apa?" Sophie mulai menangis. "Kamu milih Tuhan yang nggak kelihatan itu daripada aku yang ada di depan mata kamu?!"
Julian tersenyum perih. "Bukan milih, Sophie. Tapi Tuhan yang 'nggak kelihatan' itu yang nyelamatin aku pas aku hampir mati karena overdosis dan depresi di saat kamu dan semua orang nggak ada di sana. Dia yang 'nangkep' aku pas aku jatuh. Aku nggak bisa khianatin Dia."
Suasana kafe mendadak terasa sangat hampa. Julian merasa fragmen jiwanya pecah. Gagal move on itu nyata, dan rasanya seperti disayat sembilu tanpa anestesi.
"Julian, please..."
Julian menarik napas panjang. Dia melakukan sesuatu yang sangat berani—dakwah paling berat dalam hidupnya. "Sophie, kalau kamu beneran mau balik... ayo ikut aku. Bukan ikut ke duniaku yang lama, tapi ikut aku cari tahu kenapa aku berubah. Aku nggak bakal maksa kamu masuk Islam, tapi tolong, lihat dulu apa yang aku lihat. Kalau setelah itu kamu tetep nggak paham, mungkin jalan kita emang harus bercabang di sini."
Sophie terdiam. Dia melihat keteguhan di mata Julian yang tidak pernah dia lihat selama lima tahun mereka bersama. Julian yang sekarang punya "jangkar".
Julian berdiri, meninggalkan Sophie yang masih terpaku. Dia berjalan keluar menuju rintik hujan Amsterdam. Hatinya hancur? Iya. Tapi di balik kehancuran itu, ada rasa puas yang mind-blowing. Dia baru saja memenangkan pertarungan melawan nafsunya sendiri.
Dia tahu, mencintai karena Allah itu berat. Tapi melepaskan sesuatu karena Allah? Itu adalah kasta tertinggi dari sebuah pengabdian.
"Ya Allah," bisik Julian sambil berjalan menembus kabut, "Gue serahin rasa sakit ini ke Engkau. Kalau dia emang takdir gue, deketin dia ke Engkau. Kalau bukan, sembuhin luka gue dengan rida-Mu."
Julian tidak menoleh lagi. Dia berjalan menuju masjid terdekat untuk melaksanakan Shalat Maghrib. Karena dia tahu, satu-satunya tempat untuk curhat soal gagal move on yang paling ampuh adalah di atas sajadah, di mana tidak ada penilaian, hanya ada pengampunan.
Tragedi? Mungkin. Tapi bagi Julian, ini adalah proses cleaning terakhir untuk memastikan bahwa hatinya hanya dimiliki oleh Sang Pemilik Hati. Sangat menyentuh, sangat relatable, dan sangat nyata bagi siapapun yang pernah berjuang antara cinta dan iman.
Julian berhasil melewati fase kritis ini.