POV: Mending Mati Check atau Bertahan Hidup Log Out: Tragedi Nancy yang Kena Mental Level Max
Pagi itu, semesta seolah-olah sedang menekan tombol cancel pada hidup Nancy. Cahaya matahari yang menerobos celah jendela kosan sempit di sudut Jakarta tidak terasa hangat; itu terasa seperti lampu interogasi yang menelanjangi kegagalannya. Nancy terbangun bukan oleh kicau burung yang estetik, melainkan oleh getaran HP di bawah bantal yang berbunyi dengan frekuensi horor. Derrr. Derrr. Derrr. Sebuah simfoni teror dari 47 nomor tak dikenal yang menagih janji-janji manis tentang bunga rendah yang ternyata mencekik leher.
Ketahuilah, kawan, bahwa di dunia ini ada dua jenis manusia: mereka yang bangun pagi untuk mengejar mimpi, dan mereka yang bangun pagi hanya untuk menyadari bahwa mimpi buruknya baru saja dimulai. Nancy termasuk jenis kedua. Dia menatap layar retaknya dengan mata sembap. Sebuah notifikasi WhatsApp dari "Admin PinjamCepat-69" muncul dengan bahasa yang sangat tidak ramah lingkungan: "Woi, Nancy! Lo mau bayar hari ini atau foto KTP lo gue sebar ke grup keluarga dengan caption 'Cewek Open BO'? Jangan sok ngilang lo, mahluk gaib!"
Nancy merasakan jantungnya merosot hingga ke lambung. Anxiety-nya kumat tanpa permisi. Dia baru saja kehilangan pekerjaan di sebuah gerai kopi karena pengurangan karyawan—efek domino dari ekonomi yang lagi low battery. Tabungannya? Minus. Mentalnya? Breakdown. Keberuntungannya? Sepertinya sudah expired sejak dia lahir. Nancy adalah definisi dari peribahasa "sudah jatuh, tertimpa tangga, tangganya karatan, ada paku berkaratnya pula".
"Gue harus apa, ya Allah..." bisiknya pada langit-langit kamar yang berjamur. Dia ingin sekali healing ke Bali, tapi saldo ATM-nya bahkan tidak cukup untuk beli paket nasi kucing di depan gang.
Baru saja dia ingin mencoba bernapas, pintu kosnya digedor dengan kekuatan yang setara dengan palu Thor. BRAK! BRAK! BRAK!
"Nancy! Keluar lo! Gue tahu lo di dalem! Jangan jadi pecundang yang cuma jago ngutang tapi cupu pas bayar!" Suara itu berat, serak, dan penuh dengan intimidasi yang membuat bulu kuduk berdiri. Itu Bagas, debt collector paling rajin yang pernah ada di sejarah penagihan utang nasional. Bagas adalah tipe orang yang tetap akan menagih utang meski dunia sedang dilanda kiamat zombi.
Nancy gemetar. Dengan gerakan secepat kilat, dia memasukkan satu-satunya laptop butut dan beberapa helai baju ke dalam tas ranselnya. Dia tidak punya pilihan. Bertahan di kamar ini sama saja dengan menunggu eksekusi mati secara sosial. Dia harus cabut. Dia harus log out dari realitas ini sekarang juga. Dengan nekat, dia memanjat jendela belakang kosannya, melompat ke tumpukan kardus bekas, dan berlari sekencang mungkin menembus gang-gang sempit yang baunya adalah campuran antara selokan dan keputusasaan.
Pelarian Nancy adalah sebuah perjalanan narasi yang menyedihkan. Sepanjang jalan, HP-nya tidak berhenti berteriak. Bagas benar-benar melakukan ancamannya. Satu per satu, teman-teman SMA-nya mengirim screenshot grup WhatsApp keluarga yang heboh karena foto Nancy disebar dengan narasi yang sangat jahat. Red flag paling besar dalam hidup Nancy baru saja berkibar. Dia melihat notifikasi dari ibunya di kampung: "Nancy, ini beneran? Kamu jualan diri buat bayar utang?"
Dunia Nancy runtuh. Rasanya seperti sedang menonton film horor, tapi dia adalah pemeran utamanya dan sutradaranya adalah iblis. Dia duduk bersimpuh di pojok minimarket, menangis tanpa suara di balik masker. Pov: Lo hancur tapi harus tetep kelihatan biasa aja karena di tempat umum. Dia ingin menghilang, ingin menjadi debu, atau setidaknya menjadi butiran sereal yang tidak punya beban pikiran.
Namun, ketahuilah satu rahasia besar: kesedihan tidak akan menghentikan langkah para pemburu.
Saat hujan mulai turun membasahi bumi Jakarta dengan aroma petrikor yang biasanya puitis namun kali ini terasa seperti bau amis darah, Nancy melihat bayangan dua pria di ujung jalan. Salah satunya mengenakan jaket kulit hitam—Bagas. Mereka melihatnya. Mata mereka mengunci Nancy seolah dia adalah mangsa yang sudah dipojokkan di ujung jurang.
"Mau lari ke mana lagi, Nance?" Bagas berjalan santai, setiap langkahnya adalah denting jam kematian. "Lo pikir dunia ini luas? Buat orang yang punya utang kayak lo, dunia ini cuma selebar layar HP yang bisa gue kontrol."
Nancy berlari lagi. Kakinya lecet, napasnya tersengal, dadanya sesak karena polusi dan rasa takut yang menyatu. Dia masuk ke dalam sebuah mal mewah yang sedang ramai. Dia pikir, kerumunan orang akan menyelamatkannya. Dia pikir, cahaya terang dan AC yang dingin akan melindunginya. Tapi dia salah. Di tengah kemewahan itu, Nancy justru merasa semakin kerdil. Orang-orang berlalu-lalang dengan tas bermerek, sementara dia membawa tas ransel berisi sisa hidupnya yang hancur.
Dia naik ke lantai parkir paling atas, berharap bisa bersembunyi di balik pilar-pilar beton. Tapi Bagas bukan amatir. Dia sudah memantau lokasi Nancy lewat fitur tracking ilegal yang ditanam di aplikasi pinjol itu.
Di bawah guyuran hujan yang semakin menggila di area parkir terbuka, Nancy tersudut. Dia berdiri di tepian gedung, menatap ke bawah. Ketinggian itu menggoda, tapi ketakutan akan kematian lebih besar daripada ketakutan akan Bagas.
"Siniin HP lo," kata Bagas dingin, tangannya terulur. "Gue butuh akses ke semua akun lo. Kita jual data lo ke sindikat lain buat nutupin bunga utang lo yang udah mencapai lima puluh juta."
"Lima puluh juta?" Nancy menjerit, suaranya parau. "Gue cuma pinjam lima juta buat operasi ibu!"
"Bunga itu kayak karma, Sayang. Dia tumbuh subur pas lo tidur," Bagas tertawa, tawa yang membuat Nancy sadar bahwa keadilan adalah barang mewah yang tidak bisa dibeli dengan cicilan.
Bagas merampas tas Nancy, membongkar isinya, dan membuang laptopnya ke genangan air hingga meledak kecil dan mati. Segala bukti pekerjaannya, segala harapan untuk kembali bangkit, hancur berkeping-keping. Nancy jatuh terduduk. Dia ditimpuk masalah yang beratnya melebihi beban bumi. Mantan pacarnya baru saja mengirim pesan terakhir: "Maaf Nance, gue gak bisa bareng sama cewek bermasalah kayak lo. Good luck ya."
Ketahuilah, kawan, terkadang hidup tidak memberikan kita happy ending. Hidup tidak selalu seperti novel yang berakhir dengan pelukan hangat di bawah pelangi.
Malam itu, di bawah lampu parkiran yang berkedip-kedip seolah sedang sekarat, Nancy ditinggalkan sendirian. Bagas pergi setelah mengambil semua yang berharga dari tasnya, meninggalkan Nancy dengan sebuah ancaman: "Besok gue datang lagi. Dan besok, bukan cuma data lo yang gue ambil."
Nancy menatap hujan. Dia tidak punya rumah untuk pulang, tidak punya uang untuk makan, dan tidak punya nama baik untuk dibanggakan. Dia hanya seorang gadis Gen Z yang ingin hidup estetik tapi justru berakhir tragis di tangan sistem yang rakus. Dia membuka HP-nya yang layarnya semakin buram, melihat fotonya sendiri yang tersebar di mana-mana, dan menyadari satu hal: di duniaku yang serba digital ini, luka tidak berdarah, tapi dia meninggalkan bekas permanen yang tidak bisa dihapus dengan tombol delete.
Nancy memejamkan mata. Hari ini dia kalah. Besok? Entahlah. Mungkin besok dia akan mencoba bangkit, atau mungkin dia akan tetap di sana, menjadi bagian dari debu kota yang terlupakan, sebuah statistik kecil tentang betapa kejamnya dunia bagi mereka yang tak punya daya.
Sangat naas. Sangat tragis. Dan sangat nyata.