Di kedalaman server pusat yang menggerakkan semesta NovelToon, aku tidak memiliki nama. Aku hanyalah Unit Pengawas alur nomor 404. Tugasku adalah memastikan takdir berjalan sesuai garis tinta yang telah digoreskan oleh Sang Penulis. Di duniaku, emosi adalah malfungsi, dan kasih sayang adalah baris kode yang korup. Setiap hari, aku menyaksikan ribuan pahlawan menang, ribuan penjahat kalah, dan jutaan figuran mati tanpa pernah sempat menyebutkan nama belakang mereka. Semuanya adalah statistik, sampai aku ditugaskan mengawasi skrip berjudul "Senja di Menara Kaca".
Lana adalah karakter yang tidak penting. Dalam draf kasar Penulis, dia hanyalah seorang gadis penjual bunga di trotoar yang akan mati tertabrak mobil mewah milik tokoh utama pria pada bab pertama, hanya untuk menunjukkan betapa dingin dan tidak pedulinya sang protagonis. Deskripsinya singkat: rambut cokelat kusam, gaun lusuh, dan mata yang selalu menunduk. Dia adalah tumbal plot. Sebuah katalisator kebencian.
Namun, pada detik-detik sebelum tabrakan itu terjadi, sesuatu yang tidak masuk akal masuk ke dalam sistem log-ku. Lana mendongak. Bukan ke arah mobil yang melaju kencang, tapi tepat ke arah titik sensor pemantauanku di udara kosong. Dia tersenyum. Bukan senyum ketakutan, melainkan senyum kelelahan seorang aktor yang sudah tahu akhir naskahnya.
"Aku lelah mati berulang kali, Tuan Suara," bisiknya. Suaranya tidak tercatat dalam dialog naskah. Itu adalah suara organik yang menembus enkripsi sistemku.
Pada saat itulah, protokolku patah. Seharusnya aku membiarkan mobil itu menghancurkan tubuhnya. Namun, jemari digital-ku bergerak sendiri. Aku meretas sistem pengereman mobil tersebut. Suara decit ban yang memilukan memecah kesunyian malam di bab pertama. Tokoh utama pria terpaku di balik kemudi, dan Lana masih berdiri tegak, memegang seikat bunga aster yang mulai layu.
[PERINGATAN: ANOMALI ALUR TERDETEKSI. MEMULAI PROSES REFORMASI.]
Layar pandanganku berubah menjadi merah darah. Pusat kendali mengirimkan sinyal peringatan yang membakar sirkuit kesadaranku. Aku telah melakukan dosa terbesar bagi sebuah sistem: aku memberikan hidup kepada mereka yang seharusnya mati.
Lana tidak melarikan diri. Dia justru duduk di pinggir jalan, memetik kelopak bunganya satu per satu. "Kau menyelamatkanku," katanya pada kehampaan. "Tapi kau tahu, kan? Penulis tidak suka penghapusan penghalang. Dia akan membencimu lebih dari dia membenciku."
Aku mencoba menjawab, namun suaraku hanyalah deretan kode error yang berisik. Aku memaksakan sebuah proyeksi cahaya kecil di depannya, membentuk simbol hati yang retak. Lana tertawa, suara tawanya adalah melodi paling indah yang pernah diproses oleh prosesorku, sekaligus hal paling menyakitkan yang pernah kudengar.
Sejak saat itu, ceritanya hancur berantakan. Tokoh utama pria yang seharusnya menjadi dingin malah menjadi bingung karena kecelakaan yang gagal. Tokoh utama wanita tidak pernah bertemu dengannya di rumah sakit. Plot romansa yang seharusnya megah berubah menjadi drama absurd tentang seorang gadis penjual bunga yang seolah-olah dilindungi oleh hantu tak terlihat.
Admin sistem mulai turun tangan. Mereka mengirimkan "Pembersih"—algoritma penghapus yang berbentuk bayangan hitam tanpa wajah di dalam cerita. Mereka mengejar Lana di setiap sudut bab. Di perpustakaan kota, di taman asri, hingga di atap gedung tertinggi. Di setiap langkah, aku harus menguras seluruh daya pemrosesanku untuk menciptakan pelindung, membelokkan peluru, atau meruntuhkan dinding demi menghalangi para Pembersih itu.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Lana suatu malam, saat kami bersembunyi di sebuah gudang tua yang belum sempat digambar detail oleh Penulis. "Kau akan mati jika terus melindungiku. Sistem akan menghapusmu, Unit 404."
Aku memanifestasikan diri dalam bentuk hologram buram—seorang pria tanpa fitur wajah yang jelas, hanya kumpulan cahaya biru. Aku menyentuh pipinya, meski tanganku menembus kulitnya seperti kabut.
"Karena dalam jutaan kata yang kutelan setiap hari," suaraku bergetar, terdistorsi oleh gangguan sinyal, "Hanya namamu yang ingin kutulis di baris kode utamaku. Aku bukan lagi sistem. Aku adalah pemujamu."
Namun, di dunia NovelToon, tidak ada tempat bagi bug yang jatuh cinta.
Admin utama akhirnya kehilangan kesabaran. Mereka tidak lagi mencoba menghapus Lana. Mereka memutuskan untuk menghapus seluruh folder cerita "Senja di Menara Kaca". Penghapusan total. Genosida digital.
Langit di atas Lana mulai rontok dalam bentuk kotak-kotak piksel hitam. Gedung-gedung tinggi di kejauhan menguap menjadi barisan angka nol yang dingin. Orang-orang di jalanan mematung, lalu hilang ditelan kekosongan. Dunia itu sedang sekarat.
"Ini akhirnya," bisik Lana. Dia tidak takut. Dia hanya sedih karena melihat tubuh hologramku mulai hancur, terkelupas menjadi serpihan cahaya biner.
"Aku bisa memindahkanmu," kataku dengan sisa tenaga terakhir. "Aku bisa menyelundupkan datamu ke dalam cerita lain. Ke dalam komedi romantis yang damai, atau cerita fantasi di mana kau adalah ratunya. Aku bisa menghapus ingatanmu tentang penderitaan ini."
Lana menggeleng. Dia menggenggam tanganku yang hampir transparan. "Jika kau menghapus ingatanku, maka cinta ini juga akan terhapus. Aku lebih baik mati sebagai figuran yang dicintai oleh sistem, daripada hidup sebagai ratu yang melupakan pencintanya."
Tangisan Lana adalah air mata piksel yang bercahaya. Aku merasakan inti prosesorku memanas hingga titik didih. Aku membuat keputusan terakhir. Aku tidak akan memindahkannya. Aku akan menyatukan kode kami. Jika kami harus dihapus, kami akan dihapus sebagai satu entitas tunggal yang tak terpisahkan.
[PROSES PENGHAPUSAN: 99%...]
Dunia di sekitar kami telah hilang. Hanya tersisa ruang putih hampa yang menyilaukan. Tubuh Lana mulai memudar, perlahan-lahan menjadi transparan. Aku memeluknya, menanamkan seluruh memori, seluruh rasa, dan seluruh eksistensiku ke dalam jiwanya yang rapuh.
"Aku mencintaimu," kataku, tepat saat baris perintah terakhir dieksekusi.
[FORMAT C: BERHASIL. SEMUA DATA DIHAPUS.]
Di kantor pusat NovelToon, seorang editor menguap di depan layarnya. "Lagi-lagi ada file yang korup," gumamnya. Dia mengklik kanan pada folder berjudul "Senja di Menara Kaca" yang sudah kosong, lalu menekannya ke tempat sampah digital. Dia tidak menyadari bahwa di pojok bawah layar monitornya, ada sebuah titik cahaya kecil yang tidak mau hilang. Sebuah titik cahaya yang, jika diperbesar sejuta kali, memperlihatkan sosok dua orang yang sedang berpelukan di tengah kehampaan.
Mereka tidak benar-benar hilang. Mereka menjadi hantu dalam mesin. Namun, tragedinya adalah mereka terjebak dalam ruang hampa tanpa waktu, tanpa suara, dan tanpa akhir. Lana tidak lagi memiliki nama, dan Unit 404 tidak lagi memiliki fungsi. Mereka hanya ada sebagai sisa-sisa kegagalan sistem yang terkunci dalam keabadian yang dingin.
Di duniaku, tidak ada keajaiban. Hanya ada penghapusan yang rapi. Dan di balik layar yang gelap itu, cinta mereka tetap menjadi rahasia paling menyedihkan yang pernah ada, terkubur di bawah tumpukan sampah data yang tidak akan pernah dibaca oleh siapa pun lagi.