Lampu merkuri di parkiran belakang Gedung F Fakultas Hukum UJN berkedip-kedip, menciptakan ritme yang tidak sinkron dengan detak jantung Maya. Bunyi serangga malam yang biasanya menjadi latar belakang tenang, kini terdengar seperti orkestra yang sumbang dan mengancam. Maya berdiri diam, tangannya mencengkeram erat ransel yang berisi map plastik biru—salinan dokumen yang hampir merenggut nyawa Arini.
"Aku tahu kamu di situ," suara Maya bergetar, namun ada nada keras yang ia paksa muncul. "Arini nggak akan diam, dan aku juga nggak."
Dari balik pilar beton yang lembap dan berlumut, sebuah bayangan memanjang. Langkah kakinya berat, menyeret sol sepatu karet di atas aspal yang kasar. Sosok itu muncul pelan-pelan, mengenakan jaket hoodie gelap yang menelan wajahnya dalam kegelapan. Di tangan kanannya, sesuatu yang panjang dan dingin memantulkan sisa cahaya lampu: sebuah parang panjang yang masih menyisakan noda kecokelatan yang mongering.
"Kalian mahasiswa itu lucu," suara itu serak, seperti gesekan amplas pada kayu. "Merasa dunia ini bisa diperbaiki hanya dengan mengetik di laptop dan demonstrasi di depan rektorat. Arini sudah saya beri peringatan. Dia keras kepala."
"Peringatan? Kamu membacoknya!" Maya berteriak, suaranya menggema di lorong parkir yang kosong. "Itu percobaan pembunuhan, Pak Satrio. Atau saya harus panggil Anda 'Bapak Kepala Keamanan' yang terhormat?"
Sosok itu berhenti melangkah, sekitar lima meter di depan Maya. Ia perlahan membuka tudung jaketnya. Wajah Satrio yang biasanya terlihat ramah saat menyapa mahasiswa di gerbang depan, kini tampak seperti topeng yang retak. Matanya cekung dan merah, seolah ia tidak tidur sejak malam kejadian itu.
"Dia masuk ke ruang arsip yang bukan urusannya, Maya. Dia menggali tanah yang sudah rata sepuluh tahun lalu. Kamu tahu apa yang ada di bawah pondasi gedung perpustakaan baru itu? Bukan cuma semen dan besi, tapi keringat dan darah orang-orang yang menolak pindah. Petinggi kampus nggak mau itu jadi berita utama di hari ulang tahun universitas."
"Jadi itu harganya? Nyawa mahasiswi untuk sebuah reputasi?" Maya melangkah mundur saat Satrio mulai memainkan jemarinya di gagang parang.
"Bukan cuma reputasi, tapi uang. Miliaran rupiah. Dan Arini... dia hampir menemukan kuitansi palsu itu." Satrio tertawa pendek, tawa yang kering dan tanpa jiwa. "Sekarang, berikan tas itu. Saya nggak mau melakukan ini lagi. Saya punya anak seumur kalian."
"Kalau Bapak punya anak, Bapak harusnya tahu betapa hancurnya orang tua Arini sekarang!"
Satrio mendengus, lalu tiba-tiba ia menerjang. Gerakannya tidak terduga, cepat dan brutal. Maya memutar tubuhnya, menghindari tebasan pertama yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari pundaknya. Bunyi besi yang membelah udara terdengar seperti desisan ular. Maya berlari menuju tangga darurat, namun Satrio lebih mengenal medan ini.
"Kamu nggak bisa lari ke mana-mana, Maya! CCTV sudah saya matikan sejak satu jam lalu. Tidak ada saksi di sini."
Maya terjepit di sudut tembok dekat gudang alat kebersihan. Nafasnya memburu, bau apek dan debu menusuk hidungnya. Ia bisa melihat kilatan di mata Satrio—itu bukan lagi mata seorang manusia yang menjalankan perintah, melainkan mata seseorang yang sudah kehilangan akal sehat karena ketakutan akan penjara.
"Mana map itu?" Satrio mendekat, parangnya diseret di lantai beton, menimbulkan percikan api kecil dan suara ngilu yang menusuk telinga. Srak... srak... srak...
"Di sini," Maya merogoh tasnya, tapi bukan map yang ia keluarkan. Ia menarik sebuah pepper spray dan menyemprotkannya tepat ke wajah Satrio.
Pria itu meraung, menutupi matanya yang terbakar. Parangnya terjatuh dengan bunyi dentang yang memekakkan. Maya tidak membuang waktu, ia berlari ke arah berlawanan, namun tangannya ditarik kasar. Satrio, meski buta sesaat, berhasil menangkap pergelangan kaki Maya. Maya terjatuh, dagunya menghantam lantai. Rasa anyir darah mulai terasa di mulutnya.
"Sialan kamu!" Satrio meraba-raba mencari parangnya dalam kemarahan yang meluap.
Maya menendang sekuat tenaga, namun Satrio tetap mencengkeramnya. Dalam kegelapan itu, Maya melihat sebuah siluet lain muncul dari arah tangga. Sosok tinggi, mengenakan kemeja yang rapi tapi berantakan. Pak Hendra, dosen muda yang selama ini membantunya.
"Sudah cukup, Satrio," suara Pak Hendra tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
Maya merasa lega sesaat, sampai ia melihat apa yang ada di tangan Pak Hendra. Bukan ponsel untuk menelepon polisi, melainkan sebuah sapu tangan putih yang tampak basah oleh cairan kimia berbau tajam. Pak Hendra berjalan melewati parang yang tergeletak di lantai, lalu menatap Maya dengan pandangan melankolis, jenis pandangan yang biasa ia berikan saat menjelaskan teori hukum di kelas.
"Maya, kenapa kamu harus membawa-bawa Pak Hendra ke dalam masalah ini?" Satrio berkata sambil terbatuk, ia mulai bisa membuka matanya yang merah.
Maya tertegun. Ia menatap Pak Hendra, lalu ke Satrio. "Kalian... bekerja sama?"
Hendra berjongkok di depan Maya, mengabaikan Satrio yang masih merintih. "Dunia ini tidak hitam dan putih, Maya. Kamu cerdas, seharusnya kamu paham. UJN membutuhkan dana itu untuk riset, untuk akreditasi, untuk masa depan kalian juga. Arini terlalu idealis. Dia ingin menghancurkan institusi ini hanya karena beberapa petak tanah sepuluh tahun lalu."
"Anda dosen saya..." bisik Maya, suaranya hilang ditelan kengerian.
"Dan saya tetap dosenmu. Itulah sebabnya saya di sini. Saya ingin memastikan dokumen itu kembali ke tangan yang tepat, dan kamu... kamu akan pulang dengan selamat, asalkan kamu melupakan malam ini. Anggap saja Satrio yang gila ini mengejarmu, dan saya menyelamatkanmu. Kita salahkan dia sepenuhnya untuk kasus Arini. Bukankah itu kesepakatan yang bagus?"
Satrio menatap Hendra dengan kaget. "Apa? Anda bilang saya akan dilindungi!"
Hendra tersenyum tipis ke arah Satrio, sebuah senyuman yang lebih dingin dari mata parang di lantai. "Seseorang harus jadi tumbal, Satrio. Dan kamu sudah cukup ceroboh membiarkan Arini hidup malam itu."
Maya merasa mual. Di parkiran yang sepi ini, kebenaran terasa lebih tajam dan menyakitkan daripada bacokan parang. Di depannya, dua orang dewasa sedang bernegosiasi tentang nyawa dan keadilan seolah-olah itu adalah nilai ujian yang bisa dimanipulasi.
"Saya tidak akan pernah diam," Maya berbisik, tangannya merayap ke saku jaketnya, menyentuh ponsel yang layarnya masih menyala—sebuah panggilan telepon yang sudah terhubung sejak ia pertama kali menyapa Satrio.
Hendra menyadari gerakan itu. Matanya berubah gelap. "Siapa yang ada di telepon, Maya?"
Suara sirene polisi terdengar sayup-sayup dari kejauhan, membelah keheningan malam kampus UJN. Maya menatap Hendra dengan sisa keberaniannya. "Seluruh grup angkatan hukum... dan mungkin juga polisi."
Hendra berdiri tegak, wajahnya mengeras. Ia menoleh ke arah gerbang depan yang mulai diterangi lampu biru merah yang berputar. Satrio mencoba berdiri, hendak meraih parangnya kembali, namun ia terlalu lemah.
Malam itu, di bawah bayang-bayang gedung besar yang megah, aroma tanah basah bercampur dengan bau besi dan pengkhianatan. Maya tetap terduduk di lantai beton yang dingin, memeluk tasnya, sementara langkah-langkah sepatu bot polisi mulai bergema, mendekat seperti detak jam yang menghitung mundur akhir dari sebuah sandiwara panjang di kampus hijau itu. Di kegelapan yang tersisa, ia melihat Pak Hendra menjatuhkan sapu tangannya, membiarkan kain putih itu tertiup angin pelan, menutupi noda darah di atas aspal yang tak pernah benar-benar bersih.