"Di! elo tidur di sini aja ya! hihi!" ujar Rian sambil cekikikan bersama ketiga teman lainnya.
"Ah kalian tega banget! masa gue di suruh tidur sendirian di sofa sih?!" sahut Ardi dengan menampakkan raut wajah kesalnya. Padahal dia tahu betul teman-temannya itu sengaja menyuruhnya tidur di sofa, karena sedang menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya. Setidaknya begitulah yang diketahui Ardi dari hasil menguping pembicaraan temannya tadi siang.
"Ya udah! met tidur Ardi. . ." ucap Fira dengan sikap genitnya, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Hati-hati, di villa ini banyak penunggunya loh!" ucap Sandi sambil berlari meninggalkan Ardi.
"Gue duluan ya!" Egy temannya yang terakhir meninggalkan Ardi dari sofa.
"Ah! dasar kalian!" teriak Ardi dengan seringai di raut wajahnya. 'Bisa aja teman-teman gue itu, gue tunggulah nanti kejutan mereka di tengah malam' ucap batin Ardi yabg merasa sudah tidak sabar.
Tek!
Saklar lampu di matikan, sekarang Ardi bersiap untuk tidur.
***
Malam itu Ardi sama sekali tidak bisa tidur. Pikirannya melayang kemana-mana, memikirkan kejutan dari ke-empat teman-temannya itu. Ardi yakin liburan mereka kali ini spesial dilakukan hanya untuknya.
Tak! tak! tak!
Tiba-tiba Ardi mendengar seseorang berlari di depannya. Ardi yang saat itu berusaha tidur sambil memejamkan mata, langsung membuka lebar matanya. 'Wah pertunjukkan di mulai' pikir Ardi sambil menyeringai.
Ardi pun mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya menyapu ke seluruh ruangan itu. Namun dia langsung di buat kaget dengan kehadiran Egy yang berdiri mematung dengan keadaan telanjang dada. Dia terlihat hanya mengenakan celana pendeknya.
"Gila lo Gy!" Ardi mencoba menahan tawanya dan bersikap tidak tahu menahu sebisa mungkin. Agar teman-temannya tidak merasa gagal dengan kejutan yang sudah mereka rencanakan. Ardi merasa tidak percaya dengan tingkah Egy, yang rela melepas hampir seluruh pakaiannya cuma karena untuk sebuah kejutan ulang tahun.
"Lo nggak papa kan Gy?" Ardi mulai perlahan berdiri, berusaha seolah-olah khawatir dan takut pada Egy yang masih menatapnya.
Saat Ardi melangkahkan kakinya untuk mendekati Egy. Tiba-tiba dari sebelah kanan dan kirinya muncul dua orang yang mengenakan jubah hitam. Mereka juga mengenakan topeng gajah barong di wajah mereka.
Di tangan mereka masing-masing ada pisau dapur yang terlihat begitu tajam. Pisau itu tampak mengkilap karena pantulan cahaya lampu luar.
Ardi terlihat tenang, dia sangat yakin bahwa kedua orang berjubah hitam itu adalah teman-temannya.
"Kalian pasti Rian dan Sandi kan? udah jangan nakut-nakutin ah!" ucap Ardi sambil tertawa kecil.
Kedua orang berjubah hitam itu melangkahkan kaki mereka bersama-sama untuk mendekati Egy. Ardi pun terlihat celingak-celinguk, karena merasa kebingungan. Ada sedikit rasa takut yang perlahan muncul dalam dirinya.
Benak Ardi bertanya-tanya tentang apa yang akan dilakukan kedua orang berjubah hitam itu pada Egy yang masih mematung.
Sreeett!
Salah satu orang berjubah hitam itu menyayat leher Egy. Ardi yang melihatnya langsung ketakutan dan berteriak histeris.
"KAMPRET! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!!" Ardi semakin ketakutan ketika darah dari leher Egy terus merembes.
"Kkkkkkk. . . kkkk!" Egy tampak tercekek dengan tubuh yang bergetar. Dia masih berdiri di tempatnya. Perlahan darah mulai menjadi penutup tubuhnya.
Melihat kejadian itu Ardi langsung berlari untuk mencoba keluar dari villa itu.
Ardi sudah tidak peduli tentang siapa orang-orang berjubah hitam itu, yang jelas nasibnya akan sama seperti Egy jika dia hanya berdiam diri di sana. Ardi berlari secepat mungkin ke arah pintu. Namun dia kembali dikejutkan dengan sosok berjubah hitam ketiga yang sudah berdiri di depan pintu. Berbeda dengan kedua orang berjubah hitam sebelumnya, sosok jubah hitam yang ketiga ini memegang mesin gergaji di tangannya.
Ngeeeeeeeng......
Sosok itu langsung menyalakan mesin gergajinya di hadapan Ardi.
"Ampun! kumohon lepaskan aku! biarkan aku pergi!" rengek Ardi dengan tubuh yang gemetaran. Dia langsung terduduk di lantai, air mata takutnya mulai bercucuran. Dia memohon pada sosok berjubah hitam itu sambil memejamkan matanya.
Tanpa di duga suara gergaji mesin itu tidak terdengar lagi. Ardi pun perlahan membuka matanya. Di depannya sudah tidak ada lagi sosok berjubah hitam itu.
"SURPRISE!!!"
Teriakan bersemangat itu tiba-tiba terdengar dari belakang Ardi. Dia pun langsung mengalihkan pandangannya ke belakang. Ardi pun melihat Rian, Fira dan Sandi sudah melepas topeng mereka masing-masing.
"Gila! kalian gila emang! nggak lucu tau!!!" Ardi bersumpah serapah ketika melihat ke-tiga temannya mentertawakannya.
"Happy birthday Ardi. . . happy birthday Ardi. . ." Fira bernyanyi sambil bertepuk tangan.
"Ayo sini dong Di!!!" ujar Rian dengan melambaikan tangan. Raut wajah Ardi masih terlihat marah, dengan enggan dia berjalan dengan pelan mendekati ketiga temannya.
"Nah, kami masih punya kejutan yang lain!" ucap Sandi sambil mencoba menutup mata Ardi dengan kain hitam.
"Apa lagi nih! nggak! gue nggak mau mata gue di tutup!" keluh Ardi sambil menghempaskan tangan Sandi yang mencoba menutup matanya.
"Oh iya, mana Egy?" tanya Ardi penasaran, karena dia baru menyadari bahwa sedari tadi dia tidak melihat Egy bersama mereka.
Ardi menoleh ke tempat Egy berdiri sebelumnya. Dia langsung membelalakkan matanya, ketika melihat darah belepotan di lantai. Seketika itu juga Rian melayangkan sehelai kain ke hidung dan mulut Ardi. Perlahan mata Ardi mulai kabur dan tubuhnya mulai mati rasa, dia pun langsung tidak sadarkan diri.
***
Ardi terbangun, tetapi dia hanya bisa melihat kegelapan di matanya, karena ada kain yang melingkar menutupi matanya. Dia merasakan tangan dan kakinya terikat di kursi yang di dudukinya.
"SURPRISE!!!"
Fira membuka penutup mata Ardi sambil cekikikan. Ardi hanya bisa menatap tajam pada teman perempuannya itu. Dia melihat dirinya sudah berada di ruangan gelap dengan lambang-lambang aneh tergambar di dinding. Ruangan itu hanya di terangi oleh beberapa lilin kecil yang tidak begitu cukup untuk meneranginya.
"Tiup lilinnya. . . tiup lilinnya!" Tiba-tiba Egy muncul dari balik pintu, dia terlihat masih mengenakan celana pendeknya. Di tangannya terdapat kue ulang tahun yang sudah lengkap dengan lilin.
"Egy? lo baik-baik aja kan?" tanya Ardi khawatir.
"Lo bisa lihat gue berdiri di depan lo, itu tandanya gue baik-baik aja kan?" jawab Egy sambil tersenyum kecil.
"Tunggu dulu lepasin ikatan gue dulu lah!" ucap Ardi dengan mengernyitkan dahinya dan menatap tajam ke-empat temannya itu.
Tanpa mendengar keluhan Ardi, Egy pun perlahan menyodorkan kue ulang tahun yang di pegangnya pada Ardi. Ketiga temannya tampak menonton dari belakang Egy, mereka masih menggunakan jubah hitam mereka.
Ardi langsung di buat kaget ketika melihat kue ulang tahun yang di berikan untuknya. Sebab itu bukanlah kue ulang tahun, melainkan kepala kerbau utuh yang bersimbah darah.
"Ayo tiup lilinnya!" ujar Egy sambil cengengesan.
"Di! sekarang lo udah benar-benar resmi jadi teman sejati kita, lo mau tahu kenapa gue nggak mati waktu Fira menyayat leher gue? . . . itu karena ritual hidup kekal yang kami buat ini, dan sekarang kami menawarkan kesempatan ini untukmu," jelas Egy pelan, lalu tersenyum lebar pada Ardi.
Ardi sangat ketakutan saat itu. Keringat dingin mulai membasahi bajunya.
"Oh iya, kalau lo nolak tawaran ini . . ." kata Sandi sambil menyalakan mesin gergaji.
Ngeeeeeng.....
Tubuh Ardi semakin gemetaran ketika Sandi mengarahkan gergaji mesin itu ke lehernya. Karena sangat ketakutan, Ardi pun terpaksa menerima tawaran ke-empat temannya itu. Mendengar hal itu Sandi pun langsung mematikan gergaji mesinnya.
"Bagus Ardi! sekarang lo makan kuenya ya biar bisa lanjut ke ritual berikutnya!" ucap Fira dengan wajah gembiranya.
Mendengar hal itu, Ardi hanya bisa menatap kepala kerbau yang mereka sebut sebagai kue ulang tahun itu. Dia hanya bisa menelan salivanya beberapakali, berharap hidangan menjijikan itu tidak masuk ke mulutnya.
"SURPRISE!!!" teriak ke-empat teman Ardi tiba-tiba, dan langsung membuat Ardi mengernyitkan dahinya.
"Sudah lepas ikatannya!" ucap Egy.
"Maaf Di! lo sih Gy surprisenya sampai keterlaluan gini!" ujar Rian sambil melepas ikatan Ardi.
Fira terlihat berlari mengambil sebuah kotak, dia membuka kotak itu perlahan. Terlihatlah sebuah kue ulang tahun asli dengan cream berwarna hijau kesukaan Ardi.
"Maaf ya Di!" Rian, Sandi, Fira, dan Egy langsung memeluk Ardi yang masih tampak shock. Pikirannya masih kebingungan tentang apa yang sudah di alaminya.
Tek!
Sandi menyalakan lampu di ruangan itu, dan membuka sehelai kain yang selama ini di kira Ardi sebuah dinding.
Di dinding itu terpampang tulisan, 'Selamat ulang tahun Ardi, sukses dan sehat selalu".
Dalam pikiran Ardi, dia masih belum bisa mempercayai ke-empat temannya itu.
~TAMAT~
🎂Selamat ulang tahun buat kamu yang berulang tahun hari ini.
Dari Teman-temannya Ardi.
●Oh iya, author mau tau, kalau kalian di posisi Ardi, bagaimana kalian akan merespon SURPRISE itu?