Bagi Fara, setahun terakhir hidupnya hanyalah tentang menunggu. Sebagai anak yatim piatu yang tumbuh di bawah asuhan sederhana Pak Rahmat dan Bu Irma, pendidikan adalah satu-satunya jembatan untuk mengubah garis tangan.
Setiap pagi, sebelum fajar menyentuh jendela kamarnya yang lembap, jarinya sudah menari di atas layar ponsel. Membuka kotak masuk email yang masih kosong sudah menjadi ritual yang menyakitkan, hingga suatu hari, sebuah kalimat muncul dengan pendar cahaya yang mengubah hidupnya:
“Welcome to University of Oxford”
"Nak, Ibu dan Bapak akan merindukanmu. Tapi kamu telah memilih jalanmu," bisik Bu Irma di bandara. Kerudung tuanya basah oleh air mata saat ia harus melepas Fara terbang ke London untuk merajut asa.
Fara memeluk mereka erat, "Jangan khawatir, Bu. Aku akan kembali. Aku tidak akan menjadi debu yang hilang ditiup angin." Janji Fara pada orang tua angkatnya.
***
Di Oxford, Fara menjelma menjadi sosok yang luar biasa. Ketajaman otaknya membuat ia menjadi mahasiswa kebanggaan para profesor. Ia menyelesaikan studinya jauh lebih cepat dari target, seolah-olah sedang berlari mengejar waktu agar bisa segera membalas budi.
Kecerdasannya tercium oleh raksasa industri, dan tak butuh waktu lama bagi Fara untuk langsung direkrut sebagai Chief Researcher di sebuah firma bioteknologi ternama di London.
Lima tahun berlalu, Fara bukan lagi gadis desa yang kebingungan. Namun, kenyamanan itu memiliki harga yang mahal. Ia terjepit dalam kontrak Iron-Clad yang mengunci kebebasannya dengan denda penalti miliaran rupiah jika ia berhenti di tengah jalan.
Di tengah gemerlap London dan pencapaian luar biasanya, kabar dari tanah air merobek ketenangannya malam itu, sebuah pesan dari kerabat masuk:
“Far, Ibu masuk rumah sakit. Beliau terus memanggil namamu.Bisakah kau kembali meski hanya sebentar?”
Fara kini terjebak di antara dua pilihan, sedangkan di sebuah rumah sakit di ruang rawat kelas tiga, Bu Irma terus memanggil nama anak yang bahkan tak memiliki hubungan darah dengannya. “Pak, Fara mana? Apa dia sudah melupakan kita?”
Sementara Pak Rahmat hanya bisa berharap anaknya ingat jalan pulang. “Sabar ya Bu, Bayu sudah mengirim pesan, semoga Fara, masih ingat sama kita.”
***
Fara berdiri di ruang kerja Mr. Alistair, direktur riset yang memiliki tatapan sedingin es kutub. Di atas meja itu, surat pengunduran diri Fara tergeletak.
"Anda gila, Fara?" Alistair tertawa, tawa yang merendahkan. "Anda punya karir yang diimpikan jutaan orang di seluruh dunia. Di sini, Anda adalah aset dunia. Sedangkan di negara anda? Anda hanya akan menjadi mutiara yang tenggelam di lumpur birokrasi."
Alistair menyandarkan tubuhnya, mencoba memprovokasi dengan fakta yang paling tajam. "Fara, dengar. Bukankah Anda ke sini bukan dengan beasiswa negara Anda? Anda mendapatkan beasiswa mandiri dari universitas. Secara hukum, Anda tidak punya kewajiban melapor pada siapa pun. Anda tidak berutang satu sen pun pada negara Anda! Anda bebas memilih untuk menetap dan menjadi warga dunia yang terhormat di sini. Mengapa harus merasa terikat pada tanah yang bahkan tidak membantu biaya kuliah Anda?"
Fara terdiam sejenak. Bayangan saat ia harus bekerja paruh waktu hingga larut malam demi biaya hidup di awal kuliah melintas. Benar, negaranya tidak membiayainya. Ia tidak punya beban moral kontrak dinas seperti penerima beasiswa pemerintah.
"Anda benar, Mr. Alistair. Secara administratif, saya tidak punya kontrak apa pun dengan Indonesia. Saya tidak punya kewajiban hukum untuk kembali,"
Fara menjeda, menatap langsung ke mata Alistair. "Tapi ada satu hal yang tidak tertulis di kontrak mana pun: rasa memiliki. Mungkin banyak orang yang bangga membuang identitas asalnya demi kemewahan di negeri orang, merasa hebat saat menjadi warga negara asing hanya karena negaranya dianggap berantakan. Tapi bagi saya, justru karena tanah saya gersang, mereka butuh air. Saya tidak belajar di Oxford hanya untuk memperkaya negara yang sudah kaya. Saya akan menjadi 'hujan' bagi tanah saya sendiri, meski saya harus membayar denda itu dengan seluruh tabungan saya."
Alistair tertegun, namun ia tetap diam saat Fara melangkah keluar ruangan setelah mengurus administrasi penalti yang mencekik tabungannya.
***
Beberapa hari kemudian, Fara melangkah terburu-buru di lorong Bandara Heathrow. Di kepalanya hanya ada wajah Bu Irma. Tiba-tiba, sebuah suara menghentikannya.
"Fara!"
Itu Alistair. Pria itu tampak sedikit terengah-engah, jauh dari kesan angkuh yang biasanya ia tunjukkan. Ia menyodorkan sebuah map kecil berisi surat rekomendasi internasional dan paspor Fara yang telah dilepaskan dari ikatan kontrak. Di dalamnya, terselip cek pengembalian dana penalti yang telah Fara bayarkan sebelumnya.
"Kau menang, Fara," ujar Alistair pelan, suaranya penuh rasa hormat yang tulus. "Tadi aku sempat kalap dan buta oleh ego perusahaan, tapi melihatmu rela melepaskan segalanya demi tanah airmu... menahan uangmu rasanya seperti merampok kehormatan seorang pejuang. Simpan uangmu. Gunakan untukmu berjuang di Negaramu. Di sini pintu akan selalu terbuka untuk orang sehebat dirimu. Datang kapanpun kau mau,”
Fara tertegun, lalu mengangguk. "Terima kasih, Mr. Alistair. Kemuliaan bukan tentang di mana saya diakui, tapi tentang siapa yang saya selamatkan saat saya kembali."
Saat pesawatnya menyentuh aspal Jakarta, hawa panas menyergap kulitnya. Fara berlari menuju RSUD yang penuh sesak. Di depan brankar, ia melihat Bu Irma yang kuyu. Fara bersimpuh, mencium tangan kasar yang dulu menyuapinya.
"Ibu... Fara pulang. Fara tidak membawa paspor baru, Fara hanya membawa ilmu untuk mengobati Ibu dan orang-orang di desa kita."
Pak Rahmat menyeka air matanya di sudut ruangan. Ia sadar, Fara bukanlah kacang yang lupa kulitnya. Ia adalah benih unggul yang melanglang buana hanya untuk kembali dan tumbuh menjadi pohon rindang yang melindungi akar tempatnya bermula.
"Sejauh apa pun aku terbang, meski Eropa menawarkan segalanya, Indonesia tetap tempatku kembali. Aku tahu negeriku sedang sakit oleh sistem yang mungkin membawa kehancuran, tapi justru karena negeriku sakit, aku harus kembali. Negaraku mungkin tidak bisa memberiku dunia, tapi aku akan memberikan duniaku untuk negaraku."
-Cerpen ini hanya suara anak Bangsa yang tetap bangga pada tanah airnya. Sebagaiamanapun keadaan Negaranya, itu adalah tempatnya kembali.