Alice adalah seorang gadis yatim. Setiap hari, dia selalu di-bully teman-temannya. Tangisan dan penderitaan selalu menghiasi kehidupan suram Alice.
Keesokan paginya, Alice bersiap untuk berangkat ke sekolah.
“Bu, aku berangkat sekolah dulu ya," ujar Alice sambil mencium tangan Ibunya.
“Hati-hati ya nak. Uhuk!" tutur Ibu Alice dengan terbatuk-batuk.
Ibu Alice adalah seorang pengidap penyakit kanker hati. Jadi, setiap hari Alice harus merawat Ibunya.
Alice berjalan ke sekolah sembari memegang kedua tasnya. Sesampainya di sekolah, dia bertemu dengan Lucy. Lucy adalah siswi yang paling disegani di sekolah.
Kedua orang tuanya adalah pengusaha terkenal. Jadi, Lucy bisa melakukan apapun yang dia mau.
“Hei kau anak bodoh! Kenapa kau memakai sepatu bolong-bolong kaya gitu ke sekolah? Gak punya duit hah? Kasihan," ejek Lucy.
“Apa kau tidak kekanak-kanakan? Setiap hari hanya mem-bullyku dengan cara mengejek? Apa tidak ada cara lain yang lebih dewasa?" balas Alice, menyudutkan Lucy.
“I-itu," Lucy kehabisan kata-kata.
“Lihat, kau bahkan kehabisan kata-kata. Mending kamu minggir, aku gak mau buang-buang waktu!" pinta Alice, kemudian berjalan pergi meninggalkan Lucy.
Semua murid yang sedari tadi melihat perdebatan mereka, bertepuk tangan. Mereka semua kagum dengan kemampuan berbicara Alice yang dapat membuat Lucy kehabisan kata-kata.
“Awas lo Lice. Aku pastiin hidupmu bakal sengsara selamanya," gumam Lucy kesal.
Singkat cerita, hari sudah mulai petang. Sepulang dari sekolah, Alice langsung memasak makanan untuk makan malamnya dan Ibunya.
“Nak, kamu gak usah repot-repot. Biar Ibu aja yang masak ya," ucap Ibu Alice sambil merambat ke tembok, berusaha untuk berdiri.
“Bu, udah gak papa. Biar Lice aja yang masak," tutur Alice.
Ibu Alice kembali tidur dan Alice kembali melanjutkan memasak. Makan malam telah siap, Alice segera menyuapi Ibunya dengan lembut. Alice merawat ibunya dengan penuh kasih sayang.
“Ini udah malam bu. Jadi ibu harus tidur ya," Setelah selesai menyuapi, Alice menyuruh ibunya untuk segera tidur.
“Lalu kamu bagaimana Nak?" tanya Ibu Alice.
“Lice masih punya tugas bu. Jadi, aku mau ngerjain tugas dulu," jelas Alice.
Ibu Alice mengangguk, mengiyakan. Alice masuk ke kamarnya dan mulai mengerjakan tugas. Namun, tiba-tiba.
“ARGHHHHH!" Terdengar suara teriakan.
Alice terkejut. Dia segera menghampiri suara teriakan itu. Saat melihat, tiba-tiba tubuh Alice terdiam mematung. Dia melihat sebuah pemandangan yang amat menyeramkan.
Ibunya telah tewas bersimbah darah. Di belakang jasad ibunya, terdapat beberapa orang bertubuh kekar. Dan juga Lucy, musuh Alice.
“Inilah akibat karena telah menantang seorang Lucy," ucap Lucy sambil tersenyum tipis.
Alice hanya menunduk dan mengepalkan tangannya.
“Apakah anak sok pintar ini mau menangis?" ejek Lucy.
“Kenapa kau terus mengganggu hidupku. Apa salahku?" tanya Alice yang benar-benar marah.
“Itu semua salahmu. Kau mempermalukanku di depan para murid, tentu aku tidak akan tinggal diam," ujar Lucy.
Alice masih menunduk, kali ini amarahnya benar-benar telah memuncak.
“Apa kau ingin memukulku? Silahkan pukul saja!" ucap Lucy sambil menunjuk pipinya.
Alice memejamkan mata dan menghela nafas.
“Pergilah!" pinta Alice.
“Cih... aku ingin melihatmu menderita...
“AKU BILANG PERGI!" bentak Alice.
Akhirnya Lucy dan beberapa orang bertubuh kekar itu pulang. Sepeninggal mereka, tiba-tiba Alice berjongkok dan memeluk jasad ibunya.
“Ibu, Alice minta maaf," Alice terus meminta maaf sambil menangis.
Keesokan paginya, Alice sedang membaca buku di kursinya. Tiba-tiba Lucy masuk ke dalam kelas.
“Semuanya, besok adalah hari ulang tahunku. Jadi aku harap kalian datang ya!" jelas Lucy sambil membagikan undangan ultahnya satu-persatu.
Saat sampai di kursi Alice, tiba-tiba Lucy berhenti dan menatap Alice dengan tatapan sinis.
“Lice kamu aku undang deh. Tapi, kamu punya gaun pesta gak? Nanti kamu ke sana malah pake baju kumuh-kumuh kan gak asik," ejek Lucy sambil menyodorkan undangan ultahnya.
Keesokan malamnya, para tamu undangan ultah Lucy yang ke 17 telah berdatangan. Saat sedang menerima kado, tiba-tiba Lucy merasa kebelet. Jadi, dia izin untuk pergi ke kamar kecil sebentar.
Lucy berjalan menyusuri rumah luasnya yang bak sebuah istana. Saat sedang berjalan, Lucy mendengar langkah kaki seseorang dari belakang. Lucy merasa bahwa ada yang mengikutinya.
Lucy menoleh ke belakang, namun tidak ada apa-apa. Saat dia berbalik, dia sangat terkejut. Lucy melihat sesosok gadis yang tak asing baginya, sedang berdiri dengan menggunakan baju kumuh.
“Aku telah memenuhi undanganmu. Kau benar, aku hanya bisa memakai baju kumuh," ujar Alice sambil menunjukkan pisau yang telah dia bawa.
“A-apa yang kau mau dariku?" tanya Lucy gemetar.
“Hari ini adalah hari ulang tahunmu, aku ingin memberikan sebuah hadiah yang sangat berarti untukmu. Mungkin, ini adalah hadiah pertama dan terakhir dariku," ujar Alice sambil tersenyum sinis.
“A-apa maksudmu?" tanya Lucy yang masih gemetaran.
“Aku akan membuatmu merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan. Malam ini, kau akan menerima konsekuensi atas perbuatanmu," ujar Alice sambil mengacungkan pisau itu ke arah Lucy.
Lucy bersiap untuk lari, namun Alice segera mendorong tubuh Lucy. Lucy jatuh tersungkur.
“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf," Lucy meminta maaf berkali-kali.
“Kenapa kau baru meminta maaf sekarang? Di saat sisi gelapku telah keluar. Semuanya sudah terlambat, aku akan membuatmu menderita," ujar Alice kemudian mulai menusuk perut Lucy berkali-kali.
Kemudian, dia merobek bibir Lucy sampai ke telinga.
“Rasakan itu hahaha," Alice tertawa puas.
Alice mengamputasi tubuh Lucy hingga menjadi beberapa bagian kecil.
—Tamat—
Selamat ulang tahun untuk kamu yang berulang tahun hari ini!