Saat sinar matahari mulai merayapi sudut kamar rawat inap lantai lima RS Hasan Sadikin, Rian Octa merasakan denyut jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Tangannya yang kurus mencubit pelukan kecil di dadanya, usahanya untuk tetap tenang tak kunjung berhasil. Dokter baru saja mengatakan bahwa kondisi katup jantungnya semakin memburuk, dan operasi menjadi satu-satunya harapan—kalau saja tubuhnya cukup kuat untuk menjalani prosesnya.
Dia menghela napas perlahan, mata menatap jendela yang menghadap taman kecil di tengah rumah sakit. Suara burung berkicau dari luar seolah mencoba menghibur, tapi rasa takut yang menggelayuti hatinya terlalu besar. Sejak lima tahun lalu dia hidup dengan penyakit jantung bawaan, menghabiskan sebagian besar waktunya di antara dinding kamar rumah sakit dan obat-obatan yang tak pernah habis. Hidupnya terasa seperti sebuah jalan buntu tanpa akhir.
Tiba-tiba, suara desahan lembut terdengar dari sebelah kanan tempat tidurnya yang baru saja ditempati beberapa hari yang lalu. Rian menoleh dan melihat seorang gadis muda dengan rambut coklat pirang yang kusut tertutup bandana biru muda. Wajahnya pucat dan kurus, tapi matanya yang besar berwarna coklat tua menyimpan sesuatu yang membuat hatinya sedikit bergetar. Gadis itu sedang mencoba duduk dengan bantuan bantal, wajahnya menunjukkan rasa sakit yang jelas tapi dia tetap mencoba tersenyum.
"Halo! Aku Maya Winata. Kamu baru saja pindah kesini." sapa gadis itu dengan suara yang lemah tapi hangat.
Rian mengangguk perlahan, masih belum bisa berkata apa-apa. Dia jarang berbicara dengan orang lain selain dokter dan perawat, merasa bahwa kehidupannya yang penuh dengan sakit dan obat tidak ada gunanya untuk dibagikan. Tapi tatapan Maya membuatnya merasa berbeda—seolah dia benar-benar melihat dirinya sebagai seorang manusia, bukan hanya pasien dengan diagnosis buruk.
"Kamu tidak perlu takut bicara denganku. Aku juga sudah lama tinggal di sini. Kanker perut—sudah setahun lebih aku berjuang melawannya. Kadang rasanya seperti sedang berlari di atas treadmill yang tak pernah berhenti." lanjut Maya ketika menyadari ketegangan di wajah Rian.
Kata-katanya membuat Rian terkejut. Dia tidak pernah berpikir bahwa orang lain bisa merasakan hal yang sama seperti dirinya. Mulai saat itu, hubungan mereka tumbuh dengan cepat. Setiap pagi, mereka akan berbincang sambil menunggu sarapan datang. Maya bercerita tentang impiannya menjadi tukang kayu—dia suka membuat mainan kayu untuk anak-anak yatim di panti asuhan dekat rumah sakitnya. Sementara itu, Rian menceritakan tentang hobinya menulis puisi, sesuatu yang dia lakukan diam-diam karena merasa karyanya tidak layak untuk dilihat orang lain.
"Salah satu hari nanti, aku akan membuatmu kursi kayu yang paling nyaman, Dan kamu harus membacakan puisi terbaikmu untukku saat kursinya jadi." janji Maya sambil menepuk tangan Rian yang sedang berada di atas tempat tidurnya.
Rian tersenyum, rasa hangat pertama kalinya menghangatkan hatinya setelah lama terasa dingin. "Baiklah, aku janjikan. Tapi kamu harus sembuh dulu ya, biar bisa melihatnya sendiri."
Maya mengangguk, tapi tatapannya sedikit melayang ke arah jendela. Dia tahu bahwa kemungkinan kesembuhannya sangat tipis. Dokter sudah mengatakan bahwa sel kanker sudah menyebar ke bagian lain tubuhnya, dan pengobatan hanya bisa memperlambat prosesnya. Tapi dia tidak ingin Rian tahu tentang hal itu. Dia ingin memberikan sedikit kebahagiaan bagi pria lembut yang selalu terlihat seolah sedang menanggung seluruh beban dunia di pundaknya.
Hari demi hari berlalu, kebersamaan mereka semakin erat. Mereka berbagi makanan, cerita, dan kadang hanya diam sambil mendengarkan musik dari ponsel Maya. Rian merasa bahwa denyut jantungnya menjadi lebih stabil setiap kali ada di dekatnya—seolah hati dia tahu bahwa tempatnya adalah di sisi Maya. Sementara itu, Maya merasa bahwa rasa sakit yang sering menyerangnya menjadi lebih mudah ditanggung saat ada orang yang peduli padanya.
Sampai pada suatu hari yang sangat panas di bulan November. Rian sedang terbaring lesu setelah menjalani pemeriksaan rutin. Kondisinya semakin memburuk, dan dokter mengatakan bahwa operasi harus dilakukan dalam waktu seminggu lagi. Dia merasa takut—takut tidak akan pernah bisa menulis puisi untuk Maya, takut tidak akan pernah melihat senyumnya lagi.
Maya datang ke tempat tidurnya dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Tangannya gemetar sedikit saat dia mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya. "Aku tidak bisa menunggu sampai kursinya jadi," katanya dengan suara yang hampir tak terdengar. "Jadi aku membuat ini untukmu sekarang."
Dia membuka kotak dan mengeluarkan sebuah patung kayu kecil berbentuk burung merpati. Detailnya sangat halus, sayapnya siap untuk terbang. "Burung ini melambangkan kebebasan. Aku ingin kamu tahu bahwa meskipun tubuhmu terkurung di tempat ini, hatimu bisa terbang sejauh mana saja." jelas Maya.
Rian menangis. Itu adalah hadiah terbaik yang pernah dia terima dalam hidupnya. Dia mengambil tangan Maya dan mengeluarkan selembar kertas dari bawah bantalnya. "Aku juga sudah menyelesaikannya. Puisi yang kubuat untukmu." katanya.
Dia mulai membacakan puisi itu dengan suara yang sedikit bergetar. Puisi tentang cinta yang tumbuh di tengah rasa sakit, tentang harapan yang tetap hidup meskipun masa depan tampak gelap. Saat dia menyelesaikan bacaan, Maya sudah menangis dengan senyum di wajahnya.
"Terima kasih! Itu adalah puisi paling indah yang pernah kudengar." ucapnya pelan.
Malam itu, kondisi Maya tiba-tiba memburuk. Dia dirawat di ruang gawat darurat, dan Rian hanya bisa menunggu dengan cemas di kamarnya, tangan masih erat menggenggam patung burung kayu. Beberapa jam kemudian, dokter datang dengan wajah penuh kesedihan. Maya telah tiada saat pagi menjelang.
Rian merasa seolah dunia itu runtuh di sekitarnya. Denyut jantungnya berdebar kencang, dan dia harus segera diberikan pertolongan. Saat dia terbaring di tempat tidur dengan alat bantu pernapasan di wajahnya, pikirannya hanya penuh dengan Maya dan janji yang belum terwujud.
Beberapa hari kemudian, Rian menjalani operasi. Prosesnya berjalan lancar, dan dokter mengatakan bahwa dia memiliki kesempatan besar untuk pulih. Saat dia mulai bisa duduk dan berbicara kembali, perawat membawa sebuah tas yang pernah dimiliki Maya. Di dalamnya ada sebuah buku catatan dan beberapa potongan kayu yang sudah siap untuk dibentuk menjadi kursi.
Di halaman terakhir buku catatan, Maya menulis: "Jangan berhenti berharap, Rian. Hidupmu masih panjang dan penuh makna. Selesaikan kursinya untukku, ya? Dan ingat, aku selalu ada di sisi hatimu, seperti burung yang terbang bebas di langit."
Setahun kemudian, Rian sudah bisa berjalan dengan sendirinya. Dia berdiri di taman kecil rumah sakit tempat dia dulu sering berbincang dengan Maya, tangan menggenggam kursi kayu yang sudah selesai dibuatnya. Kursinya cantik dan kuat, dengan ukiran burung merpati di bagian sandaran. Di sebelahnya ada sebuah papan kecil dengan puisi yang pernah dia baca untuk Maya, dicetak dengan indah.
Dia duduk di kursi itu, merasakan sinar matahari yang hangat menerpa wajahnya. Rasa sakit masih terkadang datang, tapi sekarang dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Maya telah memberinya alasan untuk terus hidup, untuk terus berjuang, dan untuk selalu menyimpan harapan di dalam hati.
Janji itu mungkin hanya bisa dipenuhi sesekali, tapi cinta yang mereka bagikan akan tetap hidup selamanya.