Gang Buntu Nomor 69 sebenarnya adalah kawasan yang damai sebelum dua entitas berkekuatan nuklir pindah ke sana. Di sebelah kiri, menghuni sebuah rumah dengan garasi penuh oli, ada Bang Jaka. Dia adalah representasi dari Duren—Duda Keren. Perawakannya tegap, rambutnya selalu klimis berkat pomade seharga cicilan motor, dan senyumnya... aduh, kalau dia senyum, kucing tetangga pun bisa lupa cara mengeong. Jaka adalah mantan kru film bagian kabel yang merasa dirinya setampan aktor laga, padahal lebih sering terlihat seperti montir kelebihan gaya.
Di sebelah kanan, tepat berseberangan, ada Mbak Lilis. Dia adalah kasta tertinggi dari Jahe—Janda Herang (bersinar). Lilis punya warung kopi estetik bernama "Kopi Glowing". Kulitnya putih seolah setiap pagi mandi pakai cairan pemutih pakaian, matanya tajam, dan bibirnya selalu merah merona—bukan karena lipstik mahal saja, tapi karena dia hobi makan seblak level "Malaikat Maut".
Masalahnya satu: mereka berdua adalah penguasa ego di Gang Buntu. Kalau Jaka lewat, dia merasa semua oksigen harus dia hirup sendiri. Kalau Lilis lewat, dia merasa aspal jalanan harus berubah jadi karpet merah.
Pagi itu, Gang Buntu mendadak riuh. Jaka sedang memanasi motor custom-nya yang knalpotnya bersuara seperti naga kena asma. Blar! Blar! Uhuk! Blar! Asapnya membumbung tinggi, masuk tepat ke area warung Lilis yang baru saja disemprot pengharum ruangan aroma lavender.
Lilis keluar dengan daster macan tutul andalannya, memegang sapu lidi seperti memegang pedang Excalibur.
"Woy, Duren Busuk! Itu motor atau kompor mleduk? Polusi, tahu! Ini warung kopi, bukan bengkel bus telolet!" teriak Lilis, suaranya melengking sampai ke ujung gang.
Jaka membuka kacamata hitamnya dengan gerakan lambat—sangat slow motion ala film India. Dia menyugar rambutnya yang sebenarnya sudah kaku karena pomade.
"Aduh, Mbak Jahe... pagi-pagi sudah high tension. Ini namanya suara mesin, Lis. Seni! Lagian asapnya kan bagus, biar nyamuk-nyamuk di warungmu itu pada pingsan. Anggap saja fogging gratis dari duda ganteng," balas Jaka sambil mengedipkan sebelah mata yang sukses membuat Lilis ingin muntah di tempat.
"Ganteng dari mana? Muka kayak kanebo kering gitu bangga! Matikan nggak? Atau aku sumbat lubang knalpotmu pakai bakwan sisa kemarin?"
"Coba saja kalau berani, Janda Cantik. Nanti kalau knalpotku rusak, siapa yang mau bonceng kamu ke pasar? Pak RT? Pak RT mah tenaganya sudah kayak baterai HP satu persen!"
Perang mulut itu terhenti saat Marta, Oki, dan Bene—tiga pengangguran sukses di gang itu yang gayanya sudah mirip personil boyband gagal—muncul sambil membawa gorengan.
"Gas terus, Bang Jaka! Hantam, Mbak Lilis! Kami butuh hiburan gratis nih daripada nonton sinetron azab!" seru Marta sambil mengunyah mendoan.
Namun, suasana "Agak Laen" dimulai saat Pak RT datang dengan lari-lari kecil sampai perut buncitnya bergoyang-goyang seperti jeli.
"Gawat! Gawat bin ajaib!" seru Pak RT terengah-engah. "Kecamatan bikin lomba 'Pasangan Harmonis Teladan' buat memperingati HUT RI. Hadiahnya... Umroh buat dua orang plus uang tunai lima puluh juta rupiah!"
Mata Jaka dan Lilis langsung berubah jadi hijau—warna duit. Jaka butuh modal buat beli knalpot asli Italia, dan Lilis butuh modal buat renovasi warung biar makin instagramable.
"Tapi Pak," kata Oki. "Ini kan Gang Buntu isinya jomblo karatan sama duda-janda semua. Siapa yang mau diutus?"
Pak RT menatap Jaka dan Lilis bergantian. Tatapannya penuh intrik. "Tadi saya sudah daftar atas nama kalian berdua. Jaka dan Lilis. Saya bilang kalian sudah tunangan diam-diam."
"APA?!" Jaka dan Lilis berteriak barengan, suaranya sampai bikin burung dara di atas genteng jatuh pingsan.
"Nggak sudi! Mending aku nikah sama tiang listrik daripada sama duda sombong ini!" protes Lilis.
"Pak RT, selera saya itu yang kalem, bukan yang mulutnya kayak mercon banting begini!" Jaka nggak mau kalah.
Tapi Pak RT lebih licik. "Ya sudah kalau nggak mau. Padahal hadiah uangnya bisa buat beli knalpot sama bangun kafe dua lantai. Tapi ya sudahlah..."
Jaka dan Lilis saling lirik. Gengsi mereka bertabrakan dengan kebutuhan ekonomi. Akhirnya, dengan berat hati, mereka bersalaman. Rasanya seperti menyentuh setruman raket nyamuk.
"Oke, kita akting. Tapi inget ya, Lis, ini murni bisnis. Jangan baper sama ketampananku," bisik Jaka.
"Heleh! Kamu tuh cuma red flag berjalan, Jak. Jangan harap aku mau luluh!" balas Lilis.
Latihan dimulai sore itu di halaman depan. Mereka harus belajar panggil-panggilan mesra. Marta, Oki, dan Bene jadi juru latihnya—yang sebenarnya malah bikin keadaan makin runyam.
"Bang Jaka, coba panggil Mbak Lilis pakai nada manja. Kayak... 'Sayangku, Jaheku yang menggemaskan'," perintah Bene.
Jaka menarik napas dalam. Wajahnya ditekuk. "S-sayang... Sayangku... Jaheku yang... iuh, mau muntah aku, Bene!"
Lilis malah tertawa terpingkal-pingkal. "Muka kamu pas ngomong 'Sayang' itu kayak orang lagi nahan buang air besar, Jak! Kaku banget!"
"Eh, gantian! Sekarang kamu, Lis!" tantang Jaka.
Lilis merapikan daster, berdehem. "Aduh, Mas Jaka... Duren kesayanganku yang makin hari makin klimis..."
"Nah, itu bagus!" seru Oki. "Tapi jangan sambil melotot, Mbak! Itu mah bukan manggil sayang, tapi manggil penagih hutang!"
Dua hari sebelum lomba, ketegangan makin memuncak. Mereka harus bikin video profil "Kemesraan". Jaka dipaksa pakai kemeja bunga-bintang yang kekecilan, sementara Lilis pakai gaun pesta yang hebohnya ngalahin pengantin sungguhan. Mereka harus adegan makan sepiring berdua—mi ayam Pak Kumis.
"Ayo, Bang Jaka, suapin Mbak Lilis!" instruksi Marta sambil pegang kamera HP.
Jaka menyendok mi ayam dengan gemetar. "Aaa... buka mulutnya, Sayang..."
Lilis membuka mulut, tapi tepat saat mi mau masuk, Jaka malah bersin karena kena aroma sambal yang tajam. Hatchiii! Mi ayam itu bukannya masuk ke mulut Lilis, malah nyangkut di bulu mata palsu Lilis.
"JAKAAAAA! BULU MATAKU JADI JADI MIE GORENG!" teriak Lilis histeris.
"Maaf, Lis! Alergi sambal aku!"
"Alergi atau sengaja mau balas dendam?!"
Keesokan harinya, saat mereka lagi latihan jalan bergandengan tangan, tiba-tiba sebuah mobil sedan tua berhenti di depan gang. Keluarlah seorang wanita dengan rambut keriting heboh dan baju warna kuning neon.
"MAS JAKA?! TEGA KAMU YA!"
Itu Susi, mantan istri Jaka yang posesifnya ngalahin GPS. Di saat yang sama, muncul juga pria dengan motor sport merah, namanya Doni, mantan suami Lilis yang dulunya bandar pulsa tapi hobi menghilang tanpa kabar.
"Lilis! Siapa laki-laki pomade ini?!" teriak Doni.
Gang Buntu mendadak jadi lokasi syuting sinetron "Indosiar". Warga keluar semua. Marta langsung Live TikTok.
"Gawat, Bestie! Plot twist-nya keluar! Mantan-mantan pada reuni!" seru Marta ke arah kamera.
Susi menyerang Jaka dengan tas tangannya. "Katanya nggak mau nikah lagi! Katanya mau fokus ke anak! Ternyata kamu malah sama janda kerupuk ini!"
Lilis nggak terima disebut janda kerupuk. "Heh, Mbak Keriting! Jaga ya itu mulut! Aku bukan janda kerupuk, aku Jahe—Janda Herang! Dan Jaka ini... dia tunanganku!" Lilis refleks memeluk lengan Jaka dengan sangat erat.
Jaka kaget, tapi dia langsung acting. "Iya, Susi! Lilis ini lebih baik darimu! Dia nggak pernah minta uang belanja harian cuma buat beli lipstik warna ungu terong!"
Doni panas. "Lilis! Aku datang mau ngajak kamu balikan! Aku sudah sukses sekarang, sudah jadi agen kuota internasional!"
"Nggak butuh! Kuotaku sudah unlimited sama Bang Jaka!" balas Lilis ketus.
Terjadilah baku hantam lisan yang sangat barbar. Susi menjambak rambut palsu Lilis, Lilis menyiram Susi pakai air cucian piring. Doni mencoba menonjok Jaka, tapi Jaka malah menghindar dan Doni malah menabrak gerobak sampah Pak RT.
"STOP! STOP SEMUA!" Pak RT datang sambil tiup peluit parkir. "Kalian memalukan! Lomba tinggal besok, malah bikin drama begini! Jaka, Lilis, masuk rumah! Susi, Doni, pulang! Jangan ganggu aset kecamatan!"
Hari lomba pun tiba. Panggung besar di lapangan kecamatan sudah penuh orang. Jaka dan Lilis duduk di kursi peserta dengan nomor urut 08. Mereka berdua babak belur tipis-tipis. Pipi Jaka ada bekas cakaran Susi, dan tangan Lilis diperban kecil karena kena tumpahan air panas pas ribut kemarin.
"Lis," bisik Jaka. "Kita kalau kalah, malu banget lho. Sudah ribut sama mantan, sudah viral di TikTok Marta, masa nggak dapet umroh?"
"Iya, Jak. Fokus. Anggap saja aku ini bidadari impianmu, dan aku bakal anggap kamu... ya, montir lumayanlah."
Lomba dimulai. Sesi pertama: Tes Kekompakan. Mereka ditanya, "Apa makanan kesayangan pasangan Anda?"
Jaka menjawab mantap: "Seblak level malaikat maut tanpa kencur!"
Lilis menjawab: "Kopi pahit hitam pekat sepekat masa lalunya!"
Jawaban mereka cocok! Juri mulai terkesan. Sesi kedua: Tes Kemesraan. Mereka harus menari lambat (slow dance). Jaka memegang pinggang Lilis, Lilis mengalungkan tangan ke leher Jaka. Musik dimainkan—lagu "Kemesraan" versi koplo.
Saat mereka berputar, Jaka berbisik, "Lis, sebenernya... kalau kamu lagi nggak marah, kamu cantik juga ya."
Lilis mendongak, wajahnya memerah bukan karena blush-on. "Kamu juga, Jak. Kalau nggak pakai kacamata hitam di malem hari, mata kamu kelihatan... jujur."
"Baper kita nih?"
"Bisnis, Jak! Bisnis!"
Tiba-tiba, di tengah tarian, musik berhenti. Susi dan Doni muncul di pinggir panggung sambil bawa spanduk: "MEREKA BOHONG! MEREKA CUMA PURA-PURA!"
Penonton ricuh. Juri mulai bisik-bisik. "Wah, penipuan publik ini!" seru salah satu juri.
Jaka melihat Lilis yang mulai berkaca-kaca. Dia tahu kalau mereka ketahuan bohong, mereka bakal di-blacklist dan denda. Jaka mengambil mik dari tangan pembawa acara.
"Bapak, Ibu, dan para mantan yang terhormat!" suara Jaka menggelegar. "Memang bener, awalnya kami ini pura-pura. Kami terpaksa karena Pak RT yang licik itu." Pak RT di bawah panggung cuma bisa garuk-garuk kepala.
"Tapi," lanjut Jaka sambil menatap Lilis dalam-dalam. "Setelah seminggu dihajar mantan, setelah kena siram air cucian piring bareng, dan setelah latihan manggil 'Sayang' sampe mual... saya sadar satu hal. Saya nggak mau umroh sama orang lain. Saya maunya umroh sama Janda Herang yang galak ini."
Lilis melongo. Jaka berlutut—beneran berlutut, bukan acting film lagi. Dia mengeluarkan sebuah cincin yang... eh, itu bukan cincin, itu ring baut motor yang dipoles sampai mengkilap.
"Lis, hadiahnya kita bagi dua. Tapi hidupnya kita bagi bareng. Mau nggak kamu jadi Jahe-ku selamanya?"
Warga Gang Buntu—Marta, Oki, Bene—langsung teriak histeris. "TERIMA! TERIMA! TERIMA!"
Lilis mengambil mik satunya. Dia mengelap air matanya dengan ujung dasternya. "Jak... kamu emang duda paling kurang kerjaan yang pernah aku kenal. Tapi ya sudahlah, daripada aku jomblo terus digodain sales panci, aku mau!"
Seluruh lapangan bersorak. Juri bukannya mendiskualifikasi, malah makin terharu. Mereka dianggap "Pasangan dengan Drama Paling Realistis".
Hasilnya? Mereka nggak juara satu. Mereka juara dua. Hadiahnya bukan umroh, tapi paket liburan ke Pangandaran plus mesin cuci dua tabung.
Pulang dari lomba, Jaka dan Lilis kembali ke Gang Buntu. Jaka tetap dengan motor berisiknya, Lilis tetap dengan warung kopinya. Tapi sekarang, spanduk warung Lilis berubah jadi: "KOPI GLOWING - GRATIS BUAT DUDA KEREN BERPOMADE".
Jaka parkir motor di depan warung. "Pagi, Sayang. Kopinya satu, gulanya jangan banyak-banyak, soalnya liat kamu sudah manis banget."
Lilis melempar serbet ke muka Jaka. "Gombal terus! Mandi sana! Bau oli gitu mau ngerayu Jahe Herang!"
Tapi setelah Jaka masuk, Lilis senyum-senyum sendiri sambil liatin ring baut motor di jarinya. Di ujung gang, Marta dkk lagi sibuk bikin konten baru.
"Oke, Bestie! Pantau terus kelanjutan Duren vs Jahe! Season 2 segera dimulai!"
Dan Gang Buntu Nomor 69 pun kembali damai, dengan level kebisingan yang bertambah, tapi penuh dengan aroma kopi dan pomade yang menyatu dengan harmonis. Agak laen memang, tapi ya itulah cinta.