Namanya Julian Schmeichel, atau setidaknya itu nama yang dia pakai di bio Instagram-nya yang penuh dengan emoji rokok cerutu dan grafik saham hijau. Aslinya, dia cuma cowok dari pinggiran Berlin yang portofolio crypto-nya baru saja terjun bebas ke inti bumi alias rug pull. Di negaranya, dia sudah bangkrut tujuh turunan, tapi Julian punya prinsip hidup yang sangat Gen Z: Fake it till you make it. Jadi, dengan sisa uang terakhir yang bahkan nggak cukup buat beli tiket pulang, dia mendarat di Bali. Misi utamanya cuma satu: Manifesting dapet cewek kaya yang bisa membiayai gaya hidup "Healing" dia yang mahal.
Bulan pertama di Bali, Julian bener-bener living his best life. Dia sewa vila di Canggu buat sehari, tapi fotonya diambil dari seribu sudut supaya kelihatan seolah dia punya kompleks vila itu. Dia posting foto lagi pegang gelas kopi mahal dengan caption sok bijak: "Hustle in silence, let your success be the noise." Padahal aslinya, dia lagi pusing tujuh keliling karena kartu kreditnya sudah declined berkali-kali. Julian mulai melancarkan jurus andalannya: The Beg-packer Vibes.
Dia nongkrong di beach club paling hits, pasang wajah paling ganteng, dan mulai mendekati cewek-cewek lokal yang kelihatan tajir. Modusnya selalu sama, dia bakal bilang kalau dia investor besar yang lagi kena masalah birokrasi perbankan internasional. "My account is frozen for a bit, Bestie. Just a technical issue with my offshore investment," katanya dengan aksen yang dibuat-buat biar kelihatan high-class. Banyak cewek yang beneran fooled sama kegantengan Julian yang emang masih sisa-sisa dari masa jayanya.
Sampai akhirnya dia ketemu Ni Luh. Ni Luh ini tipikal cewek Bali yang style-nya "Skena" abis; pakai kacamata hitam retro, rambut high-ponytail, dan selalu pegang iPhone model terbaru. Julian langsung merasa ini adalah target emas. Dia mikir Ni Luh adalah anak orang kaya lokal yang bakalan gampang di-gaslighting dengan bualan-bualan bisnis properti Jerman-Bali. "You know, Ni Luh, I see a lot of potential in you. We could build an empire together," kata Julian sambil pamer jam tangan Rolex KW super yang dia beli di pasar loak.
Julian bener-bener all out. Dia ajak Ni Luh makan (tapi akhirnya Ni Luh yang bayar karena Julian pura-pura lupa bawa dompet), dia janjiin Ni Luh bakal dibawa keliling Eropa. Tapi anehnya, setiap kali Julian ngomong, Ni Luh selalu pegang HP dan kayak lagi bikin vlog atau live gitu. Julian mikirnya, "Wah, dia bangga banget jalan sama gue sampe di-kontenin terus." Dia merasa di atas angin, ngerasa power bulenya masih laku keras.
Tapi roda itu berputar lebih cepat dari scrolling TikTok. Uang Julian habis total. Dia diusir dari vila karena nunggak tiga minggu. Pakaiannya yang bermerek mulai luntur warnanya karena dia cuci sendiri di keran umum. Julian akhirnya bener-bener jadi pengemis elit. Dia duduk di pinggir jalan Seminyak, pakai kaos oblong yang sudah kuning di bagian ketiak, sandalnya putus sebelah dan cuma disambung pakai peniti. Dia pegang kardus bertuliskan: "Need money for plane ticket home. Help a brother out." Mirisnya, dia tetap pakai kacamata hitam gaya biar nggak terlalu kelihatan glow down.
Di saat dia lagi nunggu recehan dari turis lain, sebuah mobil Defender hitam yang harganya milyaran berhenti di depannya. Pintunya terbuka, dan keluarlah Ni Luh dengan penampilan yang jauh lebih slay dari biasanya. Julian langsung sumringah. "Ni Luh! Oh my God, thank God you found me! Help me, Bestie. I'm in a deep trouble," kata Julian dengan sisa-sisa harga diri. Dia sudah ngebayangin bakalan ditarik masuk ke mobil, diajak ke vila mewah, dan diselamatkan.
Tapi Ni Luh nggak gerak. Dia malah ngarahin kamera HP-nya ke wajah Julian yang sudah penuh daki dan bau matahari. "Guys, kalian lihat kan? Ini dia si Julian, 'Crypto King' yang kemarin kita bahas. Ternyata ending-nya jadi Beg-packer di Seminyak," kata Ni Luh ke arah kamera. Julian bengong. Ternyata Ni Luh adalah seorang investigative content creator dengan 10 juta followers.
Selama ini, semua kencan mereka, semua bualan Julian tentang investasi, sudah direkam dan di-upload dengan judul: "Exposing Fake Rich Bule: The Canggu Scammer Edition." Video itu sudah viral se-Indonesia. Bahkan ada cuplikan Julian lagi makan nasi bungkus sisa turis lain yang diambil secara sembunyi-sembunyi oleh tim Ni Luh. Julian bukan cuma bangkrut, dia sudah jadi meme nasional. Netizen manggil dia "Bule Gembel Koin".
"Sorry ya, Julian. Kamu itu red flag berjalan. Aku cuma butuh konten buat edukasi warga biar nggak gampang ketipu vibes bule KW kayak kamu," kata Ni Luh sambil melempar sekotak nasi jinggo ke pangkuan Julian. "Eat this, and wait for the immigration. I already called them. Bye, Skibidi!" Ni Luh langsung masuk mobil dan pergi meninggalkan Julian yang cuma bisa melongo sambil megang nasi jinggo.
Besoknya, Julian dideportasi. Pas di bandara, dia bukannya sedih, tapi malah makin stres karena banyak petugas bandara yang minta selfie bareng sambil ketawa-tawa. Dia pulang ke Jerman bukan bawa koper penuh uang, tapi bawa gelar "The Most Viral Beggar in Bali". Dia sadar satu hal: di Bali, jangan pernah coba-coba menipu cewek lokal, karena mereka sudah jauh lebih smart dan savage daripada bualan crypto manapun. Julian berakhir di negaranya, kerja jadi kasir minimarket, dan setiap kali lihat kerupuk atau nasi bungkus, dia langsung kena mental.